Membaca Buku, Membaca Dunia

share on:
Ilustras
Ilustrasi

Oleh : Timoteus Marthen

Jayapura, Jubi – Dunia dalam genggaman. Sebutan ini lumrah didengar dalam keseharian anak-anak zaman sekarang; zaman digital, zaman teknologi komunikasi.

Hal itu tentu menggambarkan betapa mudahnya membaca, melihat dan mendengarkan dunia melalui fasilitas yang tersedia. Hanya memegang Handphone canggih dengan perkembangannya seperti android, IOS dan lain-lain, bisa mengetahui dengan sekejap tentang dunia. Dengan sekali klik dunia seakan terbuka. Mata pun melotot. Bahkan ada sebutan “Universitas Google” untuk menyebutkan betapa mudahnya google mendapatkan informasi yang dicari.

Menarik dan hampir pasti posisi buku paling minim peminat. Buku dengan segala kedalamannya, ketebalannya, keberatannya mulai digeser. Jangankan membaca, melirik buku saja mulai malas. Bahkan malas tahu. Ini tidak salah. Tetapi juga tidak sepenuhnya benar bahwa buku makin minim peminatnya. Toh masih ada yang menilai buku lebih unggul daripada PC atau laptop dan android atau IOS.

Tiap tanggal 17 Mei secara nasional di Indonesia diperingati sebagai Hari Buku Nasional–cikal bakal dari momentum peresmian Perpustakaan Nasional tahun 1980 oleh Menteri Pendidikan Nasional RI, Abdul Malik Fajar ketika itu.

Mirisnya minat baca masyarakat Indonesia berdasarkan survei UNESCO tahun 2012 seperti dilaporkan Republika.com, Selasa, 13 Oktober 2015, hanya 0,001. Itu berarti hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki minat baca serius.

Pada puncak peringatan hari aksara Internasional ke-50, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anis Baswaden di Abepura, Jayapura, Papua, 12 November 2015 mengatakan dari 11 provinsi di Indonesia, Provinsi Papua masih kurang minat membaca.

Data Pusat Data dan Statistik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2015 menyebutkan angka buta aksara di Indonesia mencapai 5.984.075 orang. Angka itu tersebar di enam provinsi, yaitu Jawa Timur 1.258.184 jiwa, Jawa Tengah 943.683 jiwa, Jawa Barat 604.683 jiwa, Papua 584.441 jiwa, Sulawesi Selatan 375.221 jiwa dan Nusa Tenggara Barat 315.258 jiwa.

Maka dari itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan Nomor 21 tahun 2015 tentang kewajiban membaca selama 15 menit.

Pemerintah Provinsi Papua melalui Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal, Kamis, 12 November 2015 menyatakan optimistis dapat memberantas buta huruf di Papua. Papua yang terbagi menjadi dua provinsi dan 29 kabupaten/kota didorong dana Otonomi Khusus (Otsus) yang dialokasikan sebesar 30 persen untuk dana pendidikan.

Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat seperti dilaporkan Beritasatu.com, Jumat, 13 November 2015, bersama dengan Putera Sampoerna Foundation melalui School Development Outreach (PSF-SDO) meluncurkan program pemberdayaan perpustakaan dengan pelatihan khusus dan lokakarya bagi kepala sekolah dan guru SD mengenai manajemen perpustakaan serta penyerahan 1.500 buku dengan 150 judul buku penunjang pembelajaran untuk 10 SD.

Direktur PSF-SDO Ben Suadi mengatakan rendahnya minat baca masyarakat disebabkan rendahnya kemampuan dan keterampilan guru dalam mengelola perpustakaan serta minimnya ketersediaan buku di perpustakaan sekolah. Maka program ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru mengenai manajemen perpustakaan. Selain itu untuk meningkatkan minat membaca siswa.

Di Kota Jayapura, seperti diberitakan tabloidjubi.com, 15 Februari 2016, Kepala Dinas Pendidikan Kota Jayapura, I Wayan Mudiyasa mengakui minat baca siswa rendah, bahkan Papua urutan terakhir di Indonesia. Pihaknya pun menyiasatinya dengan program 15 menit membaca sebelum pelajaran seperti yang diprogramkan Menteri Anis Baswedan. Dinas Pendidikan Kota Jayapura bahkan mendorong para siswa untuk membaca novel, cerpen dan surat kabar seperti koran, tabloid dan majalah.

Tahun 2017 Dinas Pendidikan Kota Jayapura menyediakan bahan bacaan informatif, hiburan dan referensi ke sejumlah perpustakaan.

Penulis novel “Cinta Putih di Bumi Papua”, Dzikry el Han berpendapat banyak faktor rendahnya minat baca di Papua. Faktor-faktor itu, antara lain: buku yang tidak memadai dan akses buku yang susah. Kalaupun ada, harganya mahal. Hanya kalangan tertentu saja yang menyempatkan berkunjung ke toko buku atau perpustakaan. Faktor lain, dan ini terjadi di seluruh Indonesia, karena lompatan budaya.

“Masyarakat kita belum mencintai dan menyadari pentingnya kegiatan membaca, tetapi sudah diburu masuk ke era teknologi informasi. Hasilnya ya seperti sekarang ini. Masyarakat terbuai oleh internet, media sosial dan semacam itu.”

Dalam tulisan ini penulis setidaknya mengajukan strategi untuk meningkatkan minat membaca pada anak didik.

Peran Orangtua

Kurang lebih enam jam anak mengenyam pendidikan di sekolah. Selebihnya di dalam keluarga dan lingkungan. Oleh karena itu, peran orang tua paling strategis dalam mendidik anak. Menanamkan kecintaan terhadap buku dan membaca buku kepada anak-anak merupakan bagian dari pendidikan keluarga.

Ada beberapa bentuk peran orangtua yang sedianya bisa dijadikan masukan untuk menamkan pendidikan dan membaca pada anak-anak, di antaranya; Pertama, pendampingan terhadap anak. Secara psikologis anak-anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang orangtuanya. Kasih sayang tidak hanya dalam bentuk memberikan makanan, pakaian, perubahan, materi, tetapi juga pendampingan ketika mereka belajar. Mendampingi tentu dalam konteks yang rileks, kekeluargaan dan penuh keakraban sebagaimana layaknya orangtua dan anak. Saat yang sama anak-anak merasa diperhatikan, dilindungi dan merasa bahwa mereka mempunyai keluarga.

Kedua, diskusi yang kontinu. Anak-anak pasti merasa dihargai, diakui, dan diterima jika diberikan kebebasan untuk mengajukan pendapat. Dalam sebuah kasus kecil, memberikan pertanyaan dan berusaha memecahkannya adalah langkah yang tepat untuk mengembangkan kemampuan psikomotoriknya. Misalnya anak-anak diberikan buku. Orangtua lalu mempersilakan mereka untuk menyampaikan gagasannya tentang buku yang sudah dibaca. Jika anak-anak merasa bahwa argumennya belum pas, maka hampir pasti mereka berupaya untuk mencari buku atau referensi tambahan.

Ketiga, komunikasi interpersonal yang efektif. Komunikasi merupakan proses pertukaran ide, informasi, ilmu dan pengetahuan hingga mengakibatkan umpan balik. Dalam komunikasi terjadi relasi timbal-balik. Dalam komunikasi juga terjadi semacam dialog antara orangtua dan anak-anak. Misalnya waktu senggang, di meja makan atau akhir pekan saat liburan. Orangtua mendengarkan dan memberikan pujian jika argumentasi anak-anaknya masuk akal. Begitu sebaliknya mereka diberi kebebasan untuk berbicara.

Keempat, pendidikan karakter. Orangtua adalah guru pertama bagi si anak. Apa yang dilakukan orangtua secara tidak sadar masuk ke memori anak dan dicontohinya.

Merujuk novelis dan esais kebangsaan Spanyol, George Agustin Nicolas de Santaya (1863-1952) bahwa anak yang tidak berpendidikan yaitu anak yang dididik hanya di sekolah. Dengan demikian peran orangtua dalam mendidik anaknya sangat penting.

Pentingnya Perpustakaan Pribadi

Adagium ‘buku adalah surga bagi pembaca’ bermakna sangat dalam. Surga yang dimaksud tentu bermaksud betapa banyaknya informasinya dan ilmu pengetahuan yang tertulis dalam buku-buku.

Perpustakaan adalah sumber informasi, ilmu dan pengetahuan. Betapa banyak informasi dan pengetahuan yang didapat dari buku-buku yang dibaca, seperti sejarah, budaya, seni, dan lain-lain. Namun memerlukan keseriusan dan ketekunan. Meski demikian diakui bahwa tidak semua orang suka dan rajin mengunjungi perpustakaan.

Ada banyak faktor yang menjadi penghambat bagi anak-anak untuk mengakses informasi di perpustakaan umum. Sebut saja ekses dan jarak, waktu yang mepet, suasan batin dan situasi sosial yang tidak mendukung, administrasi yang rumit, dan lain-lain. Oleh karena itu, perpustakaan pribadi adalah alternatifnya.

Banyak orangtua belum menyadari pentingnya perpustakaan pribadi atau perpustakaan keluarga di rumah. Hal itu bisa dipahami jika alasannya karena kehadiran internet pada era teknologi informasi yang serba mudah.

Meski demikan, akses internet membutuhkan biaya yang mahal, jaringan yang lancar dan memudahkan tiap orang mengaksesnya. Selain itu layar HP, komputer atau laptop justru memancarkan radiasi yang justru merusak mata. Khawalitas, akurasi dan kadar ilmiah tulisan dalam internet tidak menjamin pembaca mengingat semua orang dari berbagai latar belakang bisa menulis dan memublikasikannya di internet. Lalu?

Pada galibnya buku tetap menjadi prioritas dan favorit pembaca. Tata letak buku, sampul yang menarik, aroma khas kertas, rak sederhana dan artistik, serta suasana ruangan yang kondusif dapat merangsang otak untuk membaca. Dengan begitu dorongan untuk membaca datang dengan sendirinya.

Seorang teman suatu ketika berceloteh; “buku adalah jendela dunia dan internet adalah pintunya.” Membaca buku berarti membaca dunia. Membaca dunia mengandaikan cakrawala berpikir yang luas, ketajaman menganalisis persoalan dan kemampuan memecahkan masalah.

Selamat Hari Buku Nasional! (*)

Penulis adalah redaktur di tabloidjubi.com dan Koran Jubi

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Membaca Buku, Membaca Dunia