Refleksi untuk Pahlawan Itu

share on:
Almarhum Robert Jitmau yang Selama Ini Getol Memperjuangkan Pasar Permanen untuk Pedagang Asli Papua - Jubi
Almarhum Robert Jitmau yang Selama Ini Getol Memperjuangkan Pasar Permanen untuk Pedagang Asli Papua – Jubi

*Oleh Benny Mawel

Jubi, Jayapura – Gelar “Pahlawan Ekonomi Papua”, “Pejuang Ekonomi Papua”, “Revolusioner gerakan ekonomi kaum proletar Papua” layak diberikan kepada Robert Djitmau– Sekretaris Solidaritas Pedagang Asli Papua (SOLPAP) yang menghembuskan napas terakhir di tangan sang pengisap darah, hamba kapitalis, 20 Mei 2016, dini hari di sekitar pantai Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura.

 Sang Pejuang Telah Tiada

Rojit, begitu ia disapa, layak disamakan dengan sejumlah tokoh revolusioner Papua lainnya; almarhum Kelly Kwalik, Arnold C. Ap, Mako M. Tabuni bersama 29 aktivis KNPB yang tertembak mati di medan perlawanan damai dan Mama Yosepha Alomang yang masih berjuang di lautan Pasifik–yang sedang kencang dengan arus kapitalisme global serta Filep Karma yang melawan derasnya rasisme Indonesia saat ini.

Kelayakan Rojit itu lebih pada kesamaan komitmen dan situasi kematian. Kematiannya sama dengan kematian tokoh-tokoh terdahulunya. Tokoh-tokoh tersebut di atas terjun hingga kematian di jalan perjuangan damai yang mereka pilih.

Arnold Ap sejak awal terjun dengan musik. Lalu menghembuskan napas bersama Mambesak grup musik yang ia pimpin.

Kelly Kwalik sejak meninggalkan Sekolah Guru Agama Katolik di Waena (baca: kini bernama SMA Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik/ YPPK Teruna Bhakti) bergabung dalam perang gerilya lalu ditembak mati. Ia dibunuh dengan alasan kambing hitam yang berkepentingan di PT. Freeport Indonesia.

Mako Tabuni sejak meninggalkan kampusnya bergabung dalam gerakan eksodus mahasiswa Papua pada 2008. Membentuk Komite Nasional Papua Barat (KNPB), turun di jalan di Kota Jayapura, memimpin demonstrasi damai di jalanan hingga tertembak pada 2012 di Waena, Kota Jayapura.

Rojit dan tokoh-tokoh itu bukan tokoh lompat katak. Kecewa lalu memberontak. Mereka bukan meminta pemekaran wilayah provinsi dan kabupaten, meminta uang anggaran pembangunan daerah lalu tidak dikasih Jakarta, kecewa, lalu menggertak Jakarta dengan meneriakkan kemerdekaan politik, ekonomi dan budaya Papua.

Ia dan tokoh terdahulunya berteriak lebih pada kesadaran penuh atas situasi yang dihadapi bangsanya. Kesadaran pada ancaman kapitalisme, dehumanisasi dan depopulasi yang berlangsung di Papua sejak kontak dengan dunia luar. Terlebih sejak pendudukan pemerintah Indonesia melalui tindakan aneksasi pada 1 Mei 1963.

Ancaman kapitalisme dan marginalisasi persis dibaca Rojit. Ia 10 tahun lamanya, sejak 2006, memilih berdiri bersama mama-mama Papua menghiasi tembok-tembok kapitalisme yang sedang berjamur subur di Kota Jayapura. Komitmen Jitmau eksis di tengah Kota Jayapura yang sedang subur dengan menara-menara kapitalisme tidak diragukan lagi.

Sejak awal dia terjun, setiap hari, dia menempatkan diri bersama Mama-Mama Papua kecuali ketika sakit. Kehadirannya serius, penuh kejujuran dan kesediaan. Tanpa tiga kunci itu Jitmau masih punya pilihan lain, masih bisa mengikuti jejak rekannya, bersama-sama terjun mendampingi Mama-Mama Papua dengan membentuk SOLPAP.

Selain Rojit, siapa yang jujur di antara rekannya yang mengatakan tidak kepada kapitalisme di kota itu? Siapa yang berani dan serius meneriakkan kapitalisme pergi dari Kota Jayapura? Siapa yang berani mengatakan kota ini milik orang asli Papua, bukan kapitalis Melayu dan Eropa? Siapa yang eksis bersama Jitmau hingga memasang badannya? Apalagi dalam situasi Jitmau menjadi pelampiasan emosi para musuhnya? Hanya Djitmau yang setia dan jujur mengatakan kemarahan, kebencian dan harapannya.

Ia yang eksis meneriaki agen-agen judi toto gelap (togel) yang merambat pasar, membangun jaringan pemerasan di pasar itu. Ia menentang jaringan penghancuran komitmen dagang orang asli Papua itu dengan mengirim surat ke Polres Jayapura kota dan Polda Papua pada 2013. Polres tidak merespons surat itu. Hanya Polda Papua dibawa pimpinan Irjen. Tito Karnavian yang melakukan penggerebekan.

“Berdasarkan surat kami yang masuk ke Kapolda, Sabtu (24/8/2013) lalu Polda telah menangkap dan menahan satu orang penjual di Pasar Sementara Mama-mama Pedagang Asli Papua. Dan sampai saat ini togel di Pasar Sementara ini dihentikan,” kata Rojit, Senin (26/8/2013).

Menurut Rojit, pada hari terjadi penggerebekan, dirinya mendapat pesan singkat yang berisi ancaman melalui nomor 0813-43094413. Ancaman yang mengarah kepada menghilangkan nyawanya dari muka bumi.

“Ko jangan macam-macam ba** cungkel di semua kebun penjualan togel baru kenapa ko bikin surat dihentikan togel. Togel ini sudah membantu mengurangi saudara-saudara kita yang pemabuk, pencuri dan niat membunuh. Mereka semua terfokus/tenang dan konsentrasi rumus togel sayangnya ko masukkan nama polisi ada makan uang judi togel, ko nanti akan ketemu saya dan rekan-rekan oknum, ko tidak akan berdiri utuh di Jayapura ini.” Demikian SMS ancaman yang diterima almarhum.

 Surati Kapolda Soal Judi Togel, Sekretaris SOLPAP Diancam

Apakah ancaman ini yang terwujud pada 20 Mei 2016 lalu? Apakah penjualan angka togel memang sudah berhenti di pasar itu hingga saat ini? Entahlah. Aparat keamanan yang tahu soal itu.

Penghentian penjualan angka togel itu tidak bertahan lama. Rojit harus berteriak lagi satu tahun kemudian. Ia berteriak melalui media Jubi, penegak hukum, baik itu Polres Jayapura Kota maupun Polda Papua sudah mengetahuinya. Namun tidak pernah ambil tindakan tegas.

“Penegak hukum terkesan membiarkan aktivitas ilegal itu. Polda dan Polresta tahu tetapi selama ini diam-diam saja. Alasannya, mereka takut pada Mama-Mama. Padahal menurut pengecer, mereka juga beberapa juga oknum polisi,” katanya kepada Jubi, 2014.

Teguh pada Pendirian, Setia pada Perjuangan

Hanya Jitmau yang bisa melawan birokrasi pemerintah dan kapitalis yang menggeser posisi Mama-Mama dari Papua. Jitmau tidak pernah mau posisi pasar mama-mama itu bergeser satu langkah pun dari pilihan awalnya, di pusat Kota Jayapura, di antara rumah toko (ruko), hotel, kantor perbankan dan pemerintah dan aparat keamanan di ibu kota Provinsi Papua ini.

“Jitmau yang tidak mau lokasi pasar itu dipindahkan ke tempat lain. Ia yang masih ngotot pasar itu harus dibangun di lahan DAMRI, jantung Kota Jayapura,” kata Ketua Dewan Adat Daerah Paniai, John Gobay di kantor Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) Papua, April 2016.

Aksi ngototnya itu memperlihatkan kesetiaannya pada perjuangan. Ia tak mau ada marjinalisasi. Ia tidak mau posisi orang Papua bergeser satu langkah pun ke pinggir atas nama pemerataan pembangunan, penertiban kota dan sesuai dengan master plan kota. Ia mau posisi orang asli Papua itu harus eksis di pusat kota, milik negerinya sendiri, tanpa ada yang memindahkan dengan alasan apapun.

Di sini lelaki ramah itu sangat paham betul apa artinya menjadi tuan di negeri sendiri. Ia tidak mau yang namanya “yang penting hak orang asli Papua, mama-mama Papua mendapatkan satu bangunan pasar permanen”, seperti kebanyakan orang Papua puas dengan satu dua penghargaan dan pujian gombal.

Komitmen dan kesetiaan itu di tengah kapitalisme yang tumbuh subur. Perlawanan macam ini sesuatu yang mustahil bagi kebanyakan orang Papua. Kebanyakan orang pasti puas, “yang penting” sudah ada hasil lalu mundur. Bagi Robert tidak.

Lawan kapitalisme itu sesuatu yang mungkin melalui penyatuan ide dan tindakan. Ide menolak kapitalisme harus dengan ide, tindakan konkret untuk bertahan, mencarikan solusi. Tindakan mencarikan solusi itu tidak hanya dengan omong-omong, diskusi sekedar memuaskan dirinya sendiri lalu bubar. Atau mendapat satu dua rupiah atau satu dua suap nasi lalu lupakan perjuangan.

Bagi Roberth, diskusi, ide dan pergumulan itu harus dinyatakan dalam tindakan nyata. Tindakan nyata itu pun tidak sekedar membuat komentar di dalam forum diskusi, jumpa pers lalu diberikan, mem-posting di facebook. Tetapi lebih dari itu. Aktivis harus terlibat langsung dalam tindakan nyata, bersama rakyat yang sedang melawan sistem kapitalisme yang sudah berakar dalam kerja sama birokrasi pemerintah dan kapitalis yang makin kokoh di Papua, dengan meneriakkan “Lawan!”

“Perubahan tidak akan terjadi kalau aktivis di Papua banyak yang hanya menjadi aktivis facebook. Salam…” tulis Robert Jitmau pada laman facebook-nya, 13 Desember 2013. (*)

*Penulis adalah jurnalis tabloidjubi.com dan Koran Jubi

 

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Refleksi untuk  Pahlawan  Itu