Dua Bulan Kemarau, Warga Diminta Waspada

share on:
Salah satu warga ketika kesulitan mencari air di musim kering tahun lalu – Jubi/Ist
Salah satu warga ketika kesulitan mencari air di musim kering tahun lalu – Jubi/Ist

Wamena, Jubi – Memasuki bulan Juni dan Juli 2016 beberapa wilayah di pegunungan tengah Papua akan mengalami perubahan cuaca dari musim penghujan ke kemarau.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Wamena, Diedrech Benny Marlisa mengatakan musim kemarau di Papua dibagi dalam enam zona (zom) musim; empat di Papua dan dua di Papua Barat.

Di Jayawijaya terdapat dua zom; bagian timur laut masuk dalam zom 339 dan daerah Jayawijaya lainnya masuk di zom 341 dengan curah hujan berbeda.

Ia memprediksi zom 339 awal musim kemarau pada awal Juni hingga Juli. Sedangkan zom 341, termasuk Jayawiijaya awal musim kemarau diperkirakan terjadi pada awal bulan Juli.

“Jadi, memang saat ini intensitas hujan di Jayawijaya dan pegunungan tengah cukup menurun, sehingga biasanya akan memasuki musim kering,” katanya di Wamena, Senin (23/5/2016).

Terjadinya perubahan iklim di pegunungan dipengaruhi badai El Nino dan sistem Indian Ocean Divolt. Biasanya terjadi endapan dari lautan India memasuki wilayah Indonesia. Sirkulasi Moonzone Asia Australia pun mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia, serta daerah pertemuan angin antartropis, yang biasanya memasuki wilayah Indonesia; dari utara, selatan dan dipengaruhi suhu di wilayah selatan Papua.

“Jika suhu permukaan laut panas, berarti akan ada penguapan air, sehingga akan tumbuh sebagai awan sehingga bisa menjadikan hujan. Tetapi, perkiraan BMKG pemanasan bulan Juni dan Juli penguapannya sedikit, sehingga curah hujan pun sedikit,” katanya.

Maka dari itu, pihaknya berharap agar warga menanam tanaman yang biasa ditanam pada musim kemarau.

Sekda Jayawijaya, Yohanes Walilo mengharapkan agar warga menyesuaikan dengan iklim dalam bercocok tanam.

“Jadi, jika kemarin kemarau sekarang musim penghujan lalu kembali ke kemarau lagi perlu antisipasi. Masyarakat tahu kapan menanam dan panen,” kata Sekda.

Ia mengatakan Pemkab Jayawijaya tak menginginkan kekeringan menjelang akhir tahun lalu terjadi lagi.

“Oleh karena itu, warga pintar-pintar dalam berkebun. Tidak mesti berkebun di daerah rawa, tetapi bisa juga di daerah perbukitan, sehingga ketika kemarau terjadi ada persediaan makanan,” katanya.

Ia pun meminta Dinas Kehutanan dan Pertanian agar melakukan pendampingan kepada masyarakat untuk memberikan pencerahan, tidak membakar lahan sembarang yang berakibat pada erosi. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Dua Bulan Kemarau, Warga Diminta Waspada