Musik Kontemporer Dipentaskan di Wamena

share on:
Pementasan musik kontenporer yang digelar di Aula SMA Negeri 1 Wamena - Jubi/Islami
Pementasan musik kontenporer yang digelar di Aula SMA Negeri 1 Wamena – Jubi/Islami

Wamena, Jubi – Pementasan musik kontemporer atau ensambel; penggabungan alat musik tradisional daerah Papua dengan elektronik musik, menjadi satu pertunjukkan menarik bagi kalangan pencinta seni di Wamena. Tampak para pemain yang sebagian besar dari Komunitas Action Jayapura.

Pertunjukkan seni musik Rur dan Nin karya Markus Rumbino yang digelar di Aula Indoor SMA Negeri 1 Wamena, Jayawijaya, Selasa (24/5/2016) itu, membawakan sembilan alat musik tifa, 6 fuu atau triton, 2 pikon, anak panah, busur panah, gitar 9 senar dan 4 senar dan soundscape suara ombak.

Salah satu pemain musik, Alfred Michel Mofu mengakui, dirinya sangat siap karena saat di Kota Jayapura sudah melewati proses pelatihan yang cukup. Maka pentas di Wamena yang dikolaborasikan dengan elektronik musik adalah sesuatu yang baru.

“Pada umumnya di Papua, mengasumsikan pertunjukan musik tradisional atau lainnya. Sedangkan ini sangat beda, karena musik lokal dimasukkan dengan musik elektronik sehingga menghasilkan bunyi-bunyi yang unik dan baru,” kata Aped, sapaan Alfred kepada Jubi.

Ia mengatakan baru kali ini mengikuti pentas musik tradisional di Lembah Baliem. “Saya juga belum pernah ke Wamena dan ini baru pertama kali. Jadi, ini adalah pengalaman berharga bagi saya dalam bidang musik,” ujarnya.

Rekan Aped, Septina Rosalina Layan mengatakan, musik kontemporer yang biasa disebut musik kekinian dibawakan dalam format Ensembel Musik Papua “Rur dan Nin” yang belum pernah ada di Papua. Namun, dirinya tak menampik ia bersama rekan-rekan yang tergabung dalam Komunitas Action di Kota Jayapura, telah beberapa kali mementaskan musik jenis ini.

“Kalau saya, ingin agar menyampaikan sesuatu yang baru dari musik Papua sendiri ke masyarakat. Pada umumnya musik identik digabungkan dengan tari, tapi di sini (Wamena) yang ingin kami sampaikan dari karya musik ini bahwa musik itu sesuatu yang bisa dinikmati tanpa harus ada tarian,” kata Septi.

Musik dalam karya ini berfungsi bukan pengiring tari, lanjutnya, musik yang akan di bawakan oleh ia dan teman-teman sebagai musik yang berdiri sendiri menampilkan alat-alat musik tradisional ciri khas Papua. Sedangkan tarian adalah pelengkap dari visual musik ini.

“Saya sebentar memainkan alat musik tradisional Tifa, Busur, Fuu (Kerang Laut), Bambu Tiup dan Vokal,” ujarnya. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Musik Kontemporer Dipentaskan di Wamena