Masyarakat Imbuti Tak Boleh Dipandang ‘Sebelah Mata’

share on:
Bangunan rumah milik salah seorang warga Imbuti, Kelurahan Samkai, Kabupaten Merauke. Jubi/Frans L Kobun
Bangunan rumah milik salah seorang warga Imbuti, Kelurahan Samkai, Kabupaten Merauke. Jubi/Frans L Kobun

Merauke, Jubi – Masyarakat Imbuti yang merupakan pemilik hak ulayat dalam wilayah Kota Merauke, tidak boleh dilihat dengan ‘sebelah mata.’ Semua orang harus mempunyai hati untuk mendampingi secara baik dan benar serta membantu alat tangkap seperti pukat maupun speed boat, sehingga mereka bisa berdaya.

“Kita tidak boleh membiarkan mereka jalan sendiri. Pendampingan secara kontinyu perlu dilakukan. Begitu juga perhatian berupa pemberian  alat tangkap bagi mereka. Karena keseharian yang dilakukan adalah menjaring dan mencari  ikan serta udang di laut,” pinta salah seorang  Tokoh Masyarakat Merauke, Salestinus Kahol Kamis (2/6/2016).

Salestinus berharap, instansi terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke benar-benar melakukan pendampingan melekat terhadap orang Imbuti, memberikan bantuan modal maupun peralatan, sehingga mereka dapat berusaha dan menghasilkan sesuatu untuk mendapatkan uang.

Salestinus mengharapkan perlu ada tempat penampungan ikan maupun udang bagi para nelayan Imbuti. Berikanlah kesempatan kepada mereka membeli hasil dari laut. Tinggal saja, pemerintah menyiapkan pasar, sehingga dapat dijual. “Saya kira ini solusi tepat untuk menggerakan  ekonomi keluarganya,” ungkap dia.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Merauke, Hengky Ndiken mengatakan, perlu proteksi dan perhatian khusus bagi masyarakat Imbuti. “Saya juga anak asli Imbuti dan kegiatan pemberdayaan belum dijalankan secara maksimal,” tegasnya.

“Kami ini pemilik hak ulayat dalam wilayah kota. Semua tanah telah digunakan dan atau dimanfaatkan untuk kegiatan pembangunan. Namun, perhatian secara serius belum dilakukan,” tuturnya. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Masyarakat Imbuti Tak Boleh Dipandang ‘Sebelah Mata’