Sagu Dinilai Cocok Untuk Pemulihan Lahan Gambut

share on:
Mama Papua ketika mendapatkan sagu melalui proses yang sederhana – Jubi/Ist
Mama Papua ketika mendapatkan sagu melalui proses yang sederhana – Jubi/Ist

Jayapura, Jubi – Badan Restorasi Gambut menilai tanaman sagu dinilai sangat cocok untuk pemulihan gambut di wilayah Papua, mengingat penanganan lahan gambut yang sudah rusak harus di restorasi kembali atau dipulihkan fungsi ekologisnya.

Kepala Badan Restorasi Gambut Nazir Foead mengatakan ketika lahan gambut di restorasi, maka akan dipilah mana zona lindung dan mana zona budaya.

“Jika zona lindung berarti harus di konservasi penuh, namun jika masuk dalam zona budaya berarti boleh ditanami namun dengan tanaman yang bisa tumbuh di lahan basah seperti tanaman sagu,” kata Nazir kepada wartawan di Jayapura belum lama ini.

Menurut ia, kesalahan di pulau lain seperti di Sumatera dan Kalimantan, mereka mengambil tanaman dari lahan kering, padahal tanah gambut jika ditanami tanaman kering justru bisa mengundang kebakaran.

“Untuk budi daya boleh tanaman yang semakin basah itu akan semakin subur. Kami juga pastinya senang karena menghindari kebakaran bisa dimaksimalkan,” ujarnya.

Ia mengatakan tanaman sagu menjadi pilihan yang baik mengingat sagu merupakan makanan tradisional khas Papua.  “Sagu ini kan bisa dibuat papeda yang menjadi makanan pokok orang Papua, dibuat dalam bentuk sagu lempeng, dan berbagai makanan cemilan lainnya. Jadi kami ingin menggalakkan budidaya sagu di lahan gambut dan itu fungsi ekologisnya akan baik, dan juga membawa fungsi ekonomi bagi masyarakat Papua,” ujarnya lagi.

Saat ditanya apakah moratorium sawit dan pertambangan memberi dampak positif bagi lahan gambut, Nazir mengaku hal itu sangat memberi dampak positif.

“Pada April 2016 lalu keluar Instruksi Presiden tidak boleh memberikan izin baru untuk lahan sawit dan pertambangan. Termasuk yang berada di areal lahan gambut. Instruksi itu langsung di follow up oleh ibu Menteri Siti Nurbaya, sehingga ada ratusan ribu hektar lahan yang diusulkan izinnya langsung di stop. Kami bersyukur ini memberikan gambut untuk bernapas,” kata Nazir.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua Yan Yap Ormuseray menyambut positif Peraturan Presiden (Perpres) tentang moratorium izin pembukaan lahan sawit di Indonesia.

“Kami tahu sama sama, pemerintah melalui bapak presiden kan sudah terbitkan Perpres tentang moratorium izin pembukaan lahan sawit, ini kan tentunya dengan berbagai pertimbangan dan kami di Papua sesungguhnya tidak masalah, kita menyambut hal ini dengan baik,” kata Ormuseray.

Namun ujar Ormuseray, jika dilihat dari aspek investasi maka hal ini sangat mengganggu mengingat kelapa sawit merupakan investasi yang besar dan menyerap tenaga kerja yang besar dibarengi peredaran uang yang tinggi.

“Investasi sawit di daerah selatan seperti Merauke, serta Nabire, Keerom maupun Jayapura ini mau tidak mau akan terkena dampak, tetapi kami harapkan kebijakan yang diambil pusat harus ditanggapi dengan positif mengingat dengan adanya moratorium penataan kembali perizinan untuk kelapa sawit,” ujarnya. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Sagu Dinilai Cocok Untuk Pemulihan Lahan Gambut