Yohana Yambise: 2030, Perempuan Papua Harus Sejajar dengan Laki-Laki

share on:
Bupati Puncak Jaya, Henok Ibo dan Menteri PP dan PA RI, Yohana Yembise saat masuk ke dalam aula Sasana Kawonak untuk mengikuti acara Rakornis – Jubi/Roy Ratumakin.
Bupati Puncak Jaya, Henok Ibo dan Menteri PP dan PA RI, Yohana Yembise saat masuk ke dalam aula Sasana Kawonak untuk mengikuti acara Rakornis – Jubi/Roy Ratumakin.

Mulia, Jubi – Setiap perempuan khususnya perempuan Papua harus turut ambil bagian dalam pembangunan, dan perempuan Papua harus duduk di parlemen. Hal tersebut dikatakan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP dan PA) RI, Yohana Yembise dalam Pembukaan Rapat Koordinasi Teknis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang berlangsung di Aula Sasana Kawonak, Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Kamis (9/6/2016).

“Pada tahun 2030 mendatang kita harus sudah bisa tunjukan bahwa peran perempuan sudah bisa setara dengan laki-laki yaitu 50:50. Kalau sudah merata maka akan kami laporkan ke Sekjen PBB,” kata Yambise dihadapan para tamu peserta Rakornis dan tamu undangan.

Dikatakan, Indonesia menjadi salah satu negara yang akan membawa perempuan ke masa 50-50 di tahun 2030. Artinya, antara Laki laki dan perempuan harus berjalan bersama, seimbang dalam semua aspek.

“Sewaktu saya ke NTT dan Maluku Utara, banyak sekali bupati dan wali kota belum tahu kebijakan-kebijakan dari Pemerintah Pusat. Hal ini disebabkan karena komunikasi dan koordinasi yang kurang optimal. Untuk itu, saya berharap para pemimpin di daerah khususnya di Papua harus bisa melakukan komunikasi lebih intens dengan pemerintah Pusat sehingga kebijakan-kebijakan Pusat dapat diimplementasikan di daerah,” ujarnya.

Yambise menambahkan, dengan kegiatan Rakornis yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di daerah Pegunungan Tengah Papua ini bisa menjadi ajang saling berbagi kebijakan program pusat dapat diketahui hingga ke Kabupaten/Kota.

Ditempat yang sama, Bupati Kabupaten Puncak Jaya, Henok Ibo dalam sambutannya mengatakan bahwa kekerasan perepuan dan anak hanya bisa ditolong oleh Tuhan. “Kekerasan dimana saja hanya Tuhan Yesus yang bisa menjadi penolong. Jadi seperti kekerasan terhadap Perempuan dan Anak hanya Tuhan Yesus yang bisa menyelesaikanya,” katanya.

Dikatakan, setiap dari kita harus punya komitmen tegas, sikap dan tekad untuk hentikan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. ” Hanya Yesus saja yang dapat menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak, tidak bisa andalkan kekuatan tangan tapi harus ada kekuatan Tuhan,” kata Henock

Sedangkan terkait Diskusi Wanita Bijak yang diselenggarakan oleh organisasi perempuan adalah sebagai Forum Sinergitas Transfer Informasi dan Pengetahuan. Menurut Henock, perempuan tidak hanya dituntut berbuat baik tapi harus bijak dalam melakukan sesuatu.

“Saya sampaikan terima kasih ke mama mama yang telah datang dari pesisir pantai, dari gunung datang kesini, dan kita ada dalam rencana Tuhan jadi terima kasih,”ucapnya. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Yohana Yambise: 2030, Perempuan Papua Harus Sejajar dengan Laki-Laki