Connect with us

Pengalaman

Tukang Sapu yang Lihai, Tekun dan Dermawan

Published

on

Lukas Kodmawel, 68 tahun, tukang sapu di halaman Klinik Karantina Hewan, Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura – Jubi/Hengky Yeimo

Lukas Kodmawel, 68 tahun, tukang sapu di halaman Klinik Karantina Hewan, Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura – Jubi/Hengky Yeimo

Jayapura, Jubi – “Pak tua sudahlah. Engkau sudah terlihat lelah oh ya. Pak tua….”

Lirik lagu Iwan Fals ini seakan hadir kembali dan menggambarkan paitau (pak tua) asal Kampung Dewok, Pegunungan Bintang, Papua.

Ia tampak bersemangat, lincah dan tekun menjalani pekerjaannya. Tukang sapu di halaman kantor karantina hewan, di sekitar kompleks SMA Negeri 4 Jayapura, Entrop, Distrik Jayapura Selatan.

Belum lama ini Jubi menemuinya sedang menekuni pekerjaan yang dijalankan sejak puluhan tahun silam itu.

Kami pun memulai obrolan ringan. Sambil makan pinang. Cahaya mentari dari celah-celah daun mangga menyinari kami. Auranya menyiratkan kebijaksanaan.

Hiruk-pikuk kendaraan tak dihiraukan. Tubuhnya tidak lagi kekar, kulit menghitam menutupi wajahnya di selimuti kumis putihnya. Tampak indah.

Sapu lidi yang digenggamnya diayun perlahan-lahan, menghalau kotoran dan dedaunan yang jatuh di halaman kantor Karantina Hewan.

Namanya Lukas Kodmawel, 68 tahun. “Saya anak pertama. Adik perempuan saya delapan orang, semua sudah meninggal. Laki-laki empat orang, tiga lainnya sudah meninggal. Saya sendiri yang masih hidup,” kata paitua murah senyum itu.

Ia seorang diri setelah ditinggalkan saudara-saudara, anak-anak dan istrinya tahun 2002 lalu.

Kini ia tinggal dengan seorang anak angkat yang dibiayainya sekolah di SMA Negeri 4 Jayapura, Entrop.

“Awal saya datang ke sini, saya gunakan pesawat MAF. Waktu itu tiket Rp 500 ribu,” katanya.

Sejak di Jayapura, baru tahun 1987 paitua Lukas pulang ke kampung halamannya; yang berbatasan dengan Kabupaten Boven Digoel.

Ia bercerita, awal jatuh cinta dengan Jayapura setelah berbincang dengan warga di kampung Kwur, Oksibil, Pegunungan Bintang.

“Hanya mau lihat kota jadi kami turun ke Jayapura,” katanya mengenang.

Pasalnya kakaknya, Markus dan Yakob sudah lebih dulu ke Jayapura, tahun 1972. Dua tahun kemudian, Januari 1974, ia pun bersama anak dan istri menyusul Markus dan Yakob.

:Setelah tiba di Sentani, seminggu kemudian kami disuruh untuk mengerjakan jembatan di depan biara Fransiskan Sentani, Jayapura,” katanya.

Setelah didengar saudaranya Markus dan Yakob, Lukas pun dipanggil untuk bekerja di karantina hewan Entrop sebagai tukang potong rumput.

“Kami bekerja sebagai karyawan sukarelawan. Saya kerja dari tahun 1974. Pensiun tahun 2010 dan menjadi tukang sapu halaman lagi di rumah sakit hewan hingga sekarang,” katanya.

Mirisnya dirinya bersama keluarga tinggal di sekitar karantina hewan, kompleks SMAN 4 Jayapura, pada sebuah kandang kambing karena tidak ada tempat lagi untuk ditempati.

Ia melanjutkan, tahun 1975 Paitua Lukas bekerja sebagai karyawan tetap di rumah sakit hewan itu.

“Waktu itu pagi-pagi benar, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Papua almarhum Martin, datang menghampiri kami lalu beliau bertanya kepada kakak Markus, siapa yang rajin kerja dan bangun pagi? Kemudian Kakak Markus mengatakan, Lukas Kodmawel itu rajin bangun pagi dan kerja, bawa dia sudah,” katanya.

Gayung bersambut, pagi itu juga Lukas mengikuti Kepala Dinas Peternakan Provinsi Papua ke Angkasa, Distrik Jayapura Utara.

“Saya disuruh mengurus kandang ayam, kambing, ayam bertelur, ayam potong. Saya kira itu hal baru bagi saya,” katanya.

Alhasil, tahun 1976 Lukas bekerja sebagai pegawai tetap di karantina hewan dengan gaji Rp 500 ribu.

“Saya bersihkan kantor. Kalau di klinik hewan saya melayani orang yang bawa hewan ternak untuk diobati seperti babi, anjing, ular, bebek dan lain-lainnya. Saya ambil darahnya lalu disuntik dan kasih obat,” katanya.

Kerja paruh waktu juga dijalaninya selain membersihkan jarum suntik.

“Saya kumpulkan jarum lalu saya rebus air panas dan bersihkan darah-darahnya yang lengket pada jarum suntik. Saya keluarkan darah kotor rendam setelah itu saya pakai sabun cuci lagi. Untuk bersihkan jarum suntik tidak boleh sembarang karena penyakit bisa tertular,” ujarnya.

Ia bercerita, bekerja di klinik hewan sejak puluh tahun itu memberikan pelajaran tentang hidup di kota yang hingar-bingar.

“Pegawai jangan sombong dan mentang-mentang pakai pakaian dinas. Yang terpenting itu kerja,” katanya mengenang nasihat mendiang Kepala Dinas Peternakan Provinsi Papua, Martin.

Menurut Lukas selain mengerjakan pekerjaan utama, ia juga bekerja sebagai tukang ternak di rumah almarhum Martin. Mengurus ternak 20 kandang.

“Saya bekerja dengan jujur dan tekun. Lalu pengalaman dan uang yang didapat saya pakai untuk pelihara babi dari tahun 1989,” katanya.

Berbekal pengalaman di klinik hewan, ia pun sukses menjadi tukang ternak babi. “Saya rawat dengan cara yang ada kalau saya yang pelihara babi itu tidak ada yang sakit-sakit. Hampir 23 ekor babi dan banyak yang dibeli,” katanya.

Dari hasil menjual babi pun kini Paitua Lukas bisa membangun rumah di kompleks karantina hewan. Ia juga dikenal dermawan.

“Apabila saya mendapatkan uang, keluarga yang membutuh saya kasih, ada orang juga yang minta bantu untuk maskawin saya bantu. Saya juga bantu banyak mahasiswa serta orang-orang dari kampung yang datang ke rumah saya. Prinsip saya kalau saya ada uang lalu saya pakai sendiri tidak baik. Harus saya bagi-bagi,” katanya.

Ia mengatakan tiap anak yang datang ke rumahnya diberikan nasihat agar bersikap dermawan, bekerja paruh waktu, memelihara babi dan ayam.

“Karena itu modal untuk hidup di kota besar seperti Jayapura ini,” katanya.

Menurut dia dirinya pernah diminta untuk pulang dan bekerja di Kampung Dewok. Namun tawaran itu ditolaknya.

“Anak ini dewasa baru saya bisa pulang,” katanya sambil menunjukkan anak angkatnya yang sekolah di SMAN 4 Jayapura. (*)

Nasional & Internasional

Indra Azwan, dari Aceh ke Papua Protes Penegakan Hukum

Published

on

Indra Azwan saat memberikan keterangan pers kepada wartawan di Kantor LBH Papua, Jumat (2/9/2016) – Jubi/Roy Ratumakin.

Indra Azwan saat memberikan keterangan pers kepada wartawan di Kantor LBH Papua, Jumat (2/9/2016) – Jubi/Roy Ratumakin.

Jayapura, Jubi – Indra Azwan melakukan perjalanan dari Aceh sampai Papua hanya untuk tunjukkan sulitnya menegakkan keadilan di Indonesia. Menurut dia, masyarakat harus tahu betapa bobroknya sistem hukum di Indonesia. Dia tiba di Jayapura Jumat (2/8/) lalu.

Indra Azwan mulai dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia setelah dirinya mempertanyakan hukum yang berlaku di Indonesia atas kasus yang menimpa anaknya Rifki Andika pada 23 tahun lalu, tepatnya 8 Februari 1993 lalu.

Rifki Andika harus merenggang nyama setelah kasus tabrak lari yang dilakukan oleh oknum Polisi Letnan Satu Joko Sumantri yang bertugas di kepolisian wilayah Malang pada saat itu.

“Kecelakaan tersebut terjadi tidak jauh dari tempat kami tinggal. Untung ada yang menjadi saksi mata dan langsung mengejar pelaku tabrak lari tersebut dan diketahui sebagai salah seorang perwira kepolisian,” kata Indra Azwan kepada wartawan, Jumat (2/9/2016) di Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua.

Indra Azwan menuturkan, kasus tabrak lari tersebut langsung dilaporkannya ke pihak berwajib. Namun sayang, pihak yang  berwenang baru melimpahkan kasus tersebut ke Pengadilan Militer beberapa tahun kemudian dan baru menyidangkan kasusnya pada 2008.

Dari sidang tersebut, vonis terhadap Lettu Joko adalah bebas karena dinilai kasus tersebut sudah kadaluarsa. “Saya tidak mengerti dengan vonis tersebut. Saya sendiri merasa aneh dengan hukum yang berlaku di Negara ini. Kalau kasus saya seperti ini, bagaimana dengan kasus-kasus lain yang terjadi di beberapa daerah yang menyerupai kasus saya?,” ujarnya.

Indra Azwan pun mengatakan pelaku tabrak lari anaknya tersebut kini sudah menjadi Kepala Bagian Sumber Daya Manusia di Polres Blitar. “Dia masih aktif bertugas sampai detik ini. Yang mau saya tanyakan kenapa dari empat presiden, tiga Kapolri hingga tiga Panglima TNI tidak bisa menyelesaikan kasus yang menimpa anak saya?,” katanya.

Dirinya pun mengaku bahwa petinggi-petinggi di republik ini sudah ditemuinya, dari Presiden Suharto hingga Gus Dur, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) namun tidak ada titik terang atas kasus tersebut

“Sudah empat presiden saya temui. Tapi jawabannya hanya janji-janji,” ujarnya.

Di tataran hukum, Indra Azwan pun sempat mengajukan Peninjauan Kembali (PK) di Mahkamah Agung sejak Juli 2014. Namun jawaban dari Mahkamah Agung sangat mengecewakan dirinya untuk kesekian kali. “Katanya saya tidak punya hak untuk mengajukan PK. Nah terus saya sebagai orang tua korban haknya apa?,” katanya.

Tidak berhenti sampai disitu usaha Indra Azwan. Dirinya pun melakukan protes dengan berjalan kaki dari Malang-Jakarta sebanyak empat kali. Intinya aksi tersebut sebagai bentuk protes dirinya terhadap perlakukan hukum yang diterimanya. Dari aksi tersebut juga belum menyentuh para petinggi hukum untuk menyelesaikan kasus yang menimpa dirinya.

Berjalan Kaki Kampanye Kebobrokan Hukum

Indra Azwan menginjakkan kaki di Kota Jayapura pada, Kamis (1/9/2016). Orang yang pertama kali ditemui adalah para suporter Arema Indonesia yang berdomisili di Kota Jayapura. “Keluarga saya ada di seluruh Indonesia. Mereka adalah suporter Arema. Karena saya juga adalah suporter fanatik,” katanya.

Tujuan dirinya ke Jayapura adalah mencari keadilan atas kasus yang menimpa anaknya tersebut. “Pokoknya saya keliling Indonesia dan bertemu semua lembaga hukum yang ada di daerah baik itu LBH, WALHI dan juga Kontras. Saya berharap mereka bisa membantu saya dalam kasus ini,” harapnya.

Dikatakan, dirinya baru dari Provinsi Papua Barat tepatnya di Manokwari dengan melakukan hal yang sama. Setelah dari Manokwari dirinya ke Kota Jayapura, selanjutnya akan menuju ke Nusa tenggara Timur (NTT) dan berakhir di Bali.

“Sebelum saya kesini, saya sudah berkeliling dari Aceh, Lampung, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. selanjutnya ke NTT dan nanti finish di Bali. Tujuannya cuma satu, supaya seluruh warga Indonesia tahu bahwa hukum kita sudah bobrok,” ujarnya.

Dirinya pun menunjukan bukti dari salah satu petinggi Polri saat menyogoknya dengan memberikan sejumlah uang agar dia tidak melakukan aksi-aksi. “Uang tersebut memang saya terima tetapi tidak saya gunakan. Namun setelah saya tunggu-tunggu ternyata tidak ada aksi dari mereka sehingga akhirnya uang tersebut saya kembalikan ke Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan diliput oleh beberapa awak media dari Indonesia maupun luar negeri. Saya menilai petinggi-petinggi hukum kita hanya basa basi,” katanya.

Kepada Jokowi, Indra Azwan pun menantang sang presiden dapat menyelesaikan kasusnya ini.

“Saya tantang Jokowi, apakah dirinya bisa menyelesaikan kasus yang menimpa saya ini atau tidak. Kalau tidak berarti Jokowi sama dengan pendahulu-pendahulunya yaitu malas tau, dan juga pastinya hanya basa basi dan janji-janji,” ujarnya.

Disinggung apakah dirinya sudah ada komunikasi dengan Presiden Jokowi, dirinya mengaku sudah sempat mendapatkan pesan singkat melalui telepon selularnya, “sudah ada sih, tetapi belum ketemu.”

Pengacara Publik LBH Jakarta, Arif Maulana yang merupakan kuasa hukum dari Indra Azwan mengatakan, dalam perkara tersebut telah terjadi undue delay yang parah. Undue delay adalah penundaan proses perkara tanpa alasan.

“Dalam perkara ini diduga kuat ada kesengajaan untuk melindungi pelaku yang merupakan aparat kepolisian dengan menunda pengusutan perkara agar sampai pada masa kadaluarsa, dan undue delay bertentangan dengan asas umum peradilan yang adil dan jujur, yakni peradilan yang cepat. Kasus ini menunjukan bahwa hukum Indonesia masih diskriminatif, hanya tajam ke bawah tumpul ke atas,” katanya.

Kepala Personalia LBH Papua, Hardi kepada Jubi mengatakan bahwa pihaknya akan tetap mendorong penegakan hukum di Indonesia agar bisa berpihak kepada masyarakat lemah. Bukan hanya kasus yang menipa Indra Azwan tetapi masalah-masalah yang terjadi di Papua saat ini.

“Pastinya akan kami kawal persoalan ini. Kami berharap apa yang menjadi persoalan dari Pak Indra bisa diselesaikan dengan secepat mungkin, karena perjuangan beliau sudah cukup lama yaitu sudah 23 tahun lamanya proses tersebut terkatung-katung,” katanya.

Dikatakan, kebanyakan masyarakat tidak mengerti hukum dan bagaimana mendapatkan keadilan. Untuk itu, pihaknya tekankan bahwa LBH Papua siap membantu masyarakat dan mendorong agar masyarakat dapat mendapatkan hak-hak mereka dan bisa didengar oleh pemerintah daerah maupun Pusat.

“Sebagian besar, sepanjang kami mendapampingi masyarakat, mereka sangat sulit mendadapatkan bantuan hukum karena kemampuan mereka dari segi pengetahuan sangat sulit. Mereka ini yang kami dorong terkait hak-hak mereka. Tahun ini untuk litigasi sudah diputus sekitar 24 kasus tetapi ada beberapa kasus 15 di Kota Jayapura sedangkan di Merauke ada 10 kasus. Kami berharap semua kasus yang kami tangani bisa terselesaikan semuanya,” ujarnya. (*)

Continue Reading

Pengalaman

Yohanes Walilo, Menambang Pasir untuk Membiayai Kuliah Anak

Published

on

1.Yohanes Walilo mengumpulkan pasir di pinggir jalan, Kali STM Kotaraja Luar, Jumat (2/9/2016). – Jubi/Agus Pabika

Yohanes Walilo mengumpulkan pasir di pinggir jalan, Kali STM Kotaraja Luar, Jumat (2/9/2016). – Jubi/Agus Pabika

Jayapura, Jubi – Menambang pasir sudah menjadi profesi bagi Yohanes Walilo, pria 52 tahun ini. Selama tiga tahun terakhir, ia menghabiskan waktunya di kali STM Kotaraja Luar untuk mengumpulkan pasir dan dijual kepada pembelinya.

Ia mengaku, dengan menjual pasir hasil tambangnya, ia mampu menghidupi kebutuhan keluarga serta membiayai kebutuhan kuliah tiga anaknya.

Pria asal Wamena ini mengaku bekerja seorang diri. Ia mampu mengumpulkan 15 meter kubik (m3) atau satu rit untuk truk dalam waktu 3-4 hari, sebelum dijemput pembelinya.

Ia juga biasa mengumpulkan pasir menggunakan karung beras berukuran 15 dan 20 kg.

“Satu rit harga Rp500-700 ribu. Dan, untuk pasir dalam karung harga Rp30-50 ribu,” kata Yohanes saat ditemui Jubi disela-sela aktivitas nambangnya di Kali STM Kotaraja Luar, Jumat (2/9/2016).

Yohanes mengatakan tumpukan pasir ia kumpulkan di pinggiran jalan untuk memudahkan pembeli saat akan mengangkut ke dalam truk atau mobil pick up.

“Biasanya saya hanya kumpul dan jual pasir di pinggir jalan. Jadi, pembeli yang datang dengan kendaraannya sendiri,” ujarnya, yang mengaku mempunyai pelanggan baik pasir dalam bentuk rit maupun karung.

2.Mobil pick up yang sedang antri mengangkut pasir hasil tambang di Kali STM Kotaraja Luar, Jumat (2/9/2016). – Jubi/Agus Pabika

Mobil pick up yang sedang antri mengangkut pasir hasil tambang di Kali STM Kotaraja Luar, Jumat (2/9/2016). – Jubi/Agus Pabika

Yohanes menuturkan, sudah tiga tahun menekuni profesi sebagai penambang pasir. Namun pekerjaan tersebut hanya dilakukannya pada waktu-waktu tertentu.

“Saya di sini antara pagi dan menjelang sore hari saja,” ucapnya. “Kami yang mengumpulkan pasir di sini banyak dari depan kompleks perumahan DPRD lama di Kotaraja.”

Ia mempunyai tiga anak, yang terdiri dari dia putra dan seorang putri.  “Semua sudah kuliah,” ujar pria yang hanya menamatkan studi dibangku sekolah dasar di Wamena itu.

Dalam seminggu, Yohanes mampu menghasilkan Rp1,5-2 juta. Namun, keberuntungan itu tidak selalu ada.

“Kadang juga tidak laku pasirnya. Tapi syukur, saat ini banyak laku karena mereka beli untuk campuran pondosi dan bangun rumah,” ujarnya.

Dalam memenuhi biaya kebutuhan sehari-hari keluarganya, Yohanes mengaku dibantu sang istri.

“Kalau mama biasa berjualan sayur, ubi, dan pinang di Pasar Youtefa,” terangnya. (*)

Continue Reading

Pengalaman

Penjual Nangka itu Membeli Mobil

Published

on

Yohanes Iwanembut berdiri di samping Pick Upnya dengan jualan yang masih menanti pembeli (Jubi/Mawel)

Yohanes Iwanembut berdiri di samping Pick Upnya dengan jualan yang masih menanti pembeli (Jubi/Mawel)

Jayapura, Jubi – Siapa sangka Yohanes Iwanembut yang berjualan nangka dipinggiran jalan sekitar Kantor Bupati Jayapura itu bisa membeli mobil Pick Up dari hasil berjualan nangka ini.

“Pada 31 Juli 2016, saya lunasi. Saya sudah bawa pulang BPKP mobil,” ungkapnya mengawali kisahnya membeli Pick Up seharga 160 an juta itu kepada Jubi di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Rabu (10/08/2016)

Kata dia, dirinya berjualan nangka dari kampungnya Genyem sejak empat tahun lalu. Ia mengawali usaha itu dengan modal semangat, kebun nangka miliknya dan kendaraan roda dua.

Kata dia, kendaraan roda dua itu menjadi transport utama pergi pulang Genyem untuk berjuaan setiap hari, kecuali hari Minggu. Setahun berjalan, hasil jualan makin laris. Ia mesti membawa nangka lebih banyak lagi setiap hari.

Karena itu, dia berfikir memilik kendaraan roda empat. Ia mengajukan proposal kredit modal ke bank Rakyat Republik Indonesia namun tidak berhasil lantaran syaratnya yang ditentukan agak merugikan pihaknya.

“Saya baca syaratnya terlalu merugikan saya. Saya batal pinjam uang ke Bank waktu itu,” ungkapnya.

Ia kembali berjualan dengan kendaraan roda dua. Tanpa dia duga, pihak diler Pick Up Toyota mendatanginya menawari kredit kendaraan.

“Siapa yang kasih tau mereka, saya tidak tahu. Mungkin mereka baca media yang pernah tulis tentang saya. Mereka minta saya masukan persyaratan. Saya masukan dengan setoran awal 25 juta,” ungkapnya.

Permohonannya diterima. Ia membawa mobil pick untuk meningkatkan usaha. Tiga tahun dia mengunakan Pick Up. Pergi pulang Genyem mengembangkan bisnis jualan nangka sambil cicil angsuran mobil. Akhirnya lunas juga.

“Pada 31 Juli kemari saya sudah bawa pulang BPKP mobil. Saya bisa membeli ini hanya karena kerja keras dan tindakan. Tindakan itu uang. Bukan ada uang dulu baru bertindak,” ungkapnya.

Dominikus Surabut, Sekretaris Dewan Adat Wilayah Lapago mengatakan usaha Yohanes layak diapresiasi. Bukan hanya diapresiasi melainkan layak menjadi contoh bagi orang Papua yang lain.

“Orang Papua itu sebenarnya bisa sukses, hanya komitmen dan semangatnya untuk berusaha kurang. Semangat yang kurang itu akibat dari pembangunan yang tidak memberdayakan dan yang memanjakan masyarakat dengan berbagai bantuan,” ungkapnya. (*)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Zox News Theme. Theme by MVP Themes, powered by WordPress.