Bupati Yahukimo Prihatin Insiden Jatuhnya Pesawat AMA

share on:

Pesawat-AMA-Yahukimo-640x450Jayapura,Jubi- Bupati Yahukimo Abock Busup turut menyatakan prihatin atas insiden jatuhnya pesawat miliki Assosiated Missionaris Aviation(AMA) di Distrik Lolat, Selasa(14/6/2016) pagi.

Bupati Abock mengakui kalau diwilayahnya memang memiliki medan ekstrim dan cuaca yang selalu berubah-ubah. Karenanya, ia meminta semua pihak harus serius meningkatkan kualitas pelayanan dan  mengutamakan keselamatan.

Menurut Bupati Yahukimo , biasanya penerbangan pesawat-pesawat kecil seperti AMA dilakukan mulai pukul 5 pagi hingga jam 1 siang. “Setelah jam itu, biasanya berawan, jadi sulit diprediksi,” kata bupati Abock saat dihubungi Jubi melalui ponselnya, Selasa(14/6/2016) malam.

Ia berharap, insiden serupa tidak terjadi lagi dan meminta pihak perhubungan udara dan masing-masing maskapai untuk lebih teliti dalam membuat jadual perbangan.

“Pesawat perlu hati-hati dengan jadual penerbangan. Kalau cuaca ekstrim jangan paksa masuk demi keselamatan penumpang dan semua awak,” katanya.

Bupati Abock menerangkan untuk fasilitas penerbangan khususnya di wilayah distrik dilengkapi dengan Singel Side Band(SSB). Ia mengatakan akan menaikkan intensif bagi semua petugas di pos-pos bandara di tiap distrik dengan harapan kinerjanya lebih ditingkatkan.

“Saya sudah pastikan tambah intensif buat petugas di bandara-bandara . Ini semacam penghargaan supaya mereka bisa bekerja baik dan lebih semangat,” katanya, tanpa menyebut jumlah intensif tersebut.

Bupati yang baru memimpin dua bulan ini mengatakan akan memberikan bantuan logistik berupa bahan makanan dan obat-obatan kepada para korban dalam insiden tersebut.

Pesawat dengan jenis Caravan milik maskapai Assosiated Mission Aviation (AMA) dengan nomor PK-RKC, Selasa (14/6/2016) terbang dari Bandara Wamena tujuan lapangan terbang perintis di Distrik Lolat, Kabupaten Yahukimo. Pesawat tersebut gagal landing dan menabrak sebuah kantor distrik dan sebuah honai rumah warga setempat. Tak ada korban jiwa.

Pesawat milik AMA Dengan membawa dua penumpang, pesawat yang di piloti kapten Brian berkebangsaan Canada tersebut gagal landing sekitar pukul 06.30 waktu Papua.Pesawat ini terbang  dari Bandara Wamena pukul 06.00 waktu Papua.

Salah satu penumpang atas nama Arifin yang ditemui wartawan usai dirujuk ke RSUD Wamena, Selasa (14/6/2016) mengatakan, saat akan landing pilot atas nama Brian mengalami gangguan penglihatan (silau) karena cahaya matahari, sehingga pilot mengambil keputusan untuk kembali terbang. Namun karena pesawat terlalu rendah dan tergelincir hingga oleng dan berubah ke arah kanan sehingga menabrak bangunan Kantor Distrik Lolat, Kabupaten Yahukimo dan Honai.

Dia mengakui, di dalam Pesawat hanya ada tiga orang yakni pilot dan bersama seorang rekannya yang memang ada urusan pekerjaan di Distrik Lolat.

Arifin menambahkan kejadian tersebut mengakibatkan kepala pesawat terbakar habis dan hanya menyisakan bagian belakang pesawat dan juga bangunan yang ditabrak juga hancur alias roboh.

Dari Distrik Lolat dirinya mengaku bersama rekannya dijemput langsung oleh pesawat Pilatus milik maskapai AMA bersama tiga korban lainnya yakni masyrakat Distrik Lolat yang ada di Honai tersebut.

Sementara itu  Erik Kobak (15 th) satu dari tiga warga yang menjadi korban pesawat AMA yang tergelincir saat mendarat di lapangan terbang Lolat, Kabupaten Yahukimo, dievakuasi ke Jayapura.

“Korban Erik Kobak saat ini dirawat di RS Dian Harapan, Waena, Kota Jayapura,” kata Direktur AMA Papua Djarot Soetanto kepada Antara, Selasa (14/6/2016).

Dikatakan, kondisi korban relatif stabil hanya saja pihaknya ingin memastikan kondisi kepala pasca kecelakaan terjadi.

Sedangkan empat korban lainnya, termasuk dua penumpang masih dirawat di RSUD Wamena, namun secara keseluruhan kondisi mereka stabil.

“Pilot Brian Potingger yang berkebangsaan Canada kini sudah kembali ke tengah keluarganya di Sentani,” kata Djaroet.

Direktur AMA mengatakan keempat korban yang masing dirawat di RSUD Wamena, yakni dua penumpang Arifin (20 th) dan Tarau (50 th) dan dua warga, yaitu Yus Silak (19 th) dan Niko Suhun (20 th).

Pesawat AMA dengan nomor registrasi PK – RKC terbang ke Lolat dari Wamena membawa berbagai jenis bahan bangunan, sekitar pukul 06.30 WIT (bukan 08.00 WIT) mengalami kecelakaan saat hendak mendarat.

Akibatnya pesawat menabrak rumah penduduk atau honai dan bangunan kantor camat atau Distrik Lolat hingga mencederai tiga warga.

“AMA akan membiayai seluruh pengobatan para korban,” kata Djarot.

Dia mengakui belum dapat memastikan penyebab insiden tersebut.

“Terkait mengapa pesawat itu terjadi kecelakaan, kami tidak berwenang mengatakan penyebab terjadi kecelakaan, kami masih menunggu hasil penyidikan dari KNKT,” kata Direktur AMA Papua Djarot Soetanto.

Dia mengatakan, pihaknya tidak berwenang untuk menyatakan penyebab kecelakaan pesawat karena KNKT yang berwenang untuk melakukan penyebab terjadinya kecelakaan pesawat.

Menurut dia, AMA memang menerapkan standar keselamatan yang cukup tinggi tetapi tentu ada faktor-faktor dibuat kehendak manusia ini yang menyebabkan.

Ia mengaku cuaca di kawasan itu memang sering kali berubah sehingga penerbangan hanya dilakukan pagi hari sebelum pukul 09.00 WIT namun saat insiden terjadi cuaca dilaporkan cerah.

“Jadi kita belum tahu faktor apa yang menyebabkan terjadinya kecelakaan, hingga kini kami masih menunggu penyidikan dari KNKT,” ujarnya.

Maskapai Assosiation Mission Aviation (AMA) mengklaim pesawat itu adalah pesawat baru yang dibuat pada 2014. Pesawat itu baru diterima AMA pada Maret 2016 di Sentani, Kabupaten Jayapura. Jam terbang burung besi itu pun tercatat masih 53 jam.

Sebelumnya di Ilaga pada 4 Juni lalu kecelakaan pesawat Grand Caravan Pegasus PK ICC yang menerobos pagar pembatas Bandara Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, sekitar pukul 11.43 WIT.

Perwakilan KNKT di Papua, Norbertus Tunyaan menyebutkan belum diketahui penyebab pasti terperosoknya pesawat berbadan kecil ini, apakah rem pesawat rusak atau penyebab lainnya.

Kepala Dishubkominfo Kabupaten Mimika, John Rettob menuturkan, pesawat milik Pegasus Air terbang dari Timika menuju Ilaga pukul 11.08 WIT, dengan membawa muatan BBM jenis bensin sebanyak enam drum.

April 2016 lalu Helikopter Bell 206 milik PT Amur jatuh di distrik Paniai, Provinsi Papua, tetapi sejauh ini tidak diketahui secara pasti penyebab kecelakaan tersebut.

Cuaca di lokasi jatuhnya pesawat disebutkan dalam kondisi normal pada saat kecelakaan terjadi.

Dilansir Reuters, Kamis (14/4/2016), terjadi lagi kecelakaan pesawat milik Sunbird Aviation tersebut jatuh ke wilayah rawa dekat landasan pacu bandara Kiunga di Papua New Guinea (PNG). Seluruh penumpang serta pilot yang berkebangsaan Australia tewas.

Sejak tahun 2000, dilaporkan lebih  dari 20 kejadian pesawat jatuh terjadi di Papua Nugini. Medan yang sulit dan kurangnya infrastruktur jalan membuat perjalanan udara menjadi pilihan bagi penduduk untuk bepergian.(*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Bupati Yahukimo Prihatin Insiden Jatuhnya Pesawat AMA