Ujian Christ Leo Yarangga dari PON Papua 2016, ke Persipura

share on:
Christ Leo Yarangga, siap menerima tugas-Jubi/ist
Christ Leo Yarangga, siap menerima tugas-Jubi/ist

Jayapura, Jubi-Sebelum pelatih Jacksen F Tiago angkat kaki dari Persipura pernah mengatakan kepada Jubi, kalau mantan asisten Persipura Christian Leo Yarangga pantas menggantikan dirinya jika hengkang dari Persipura. Agaknya harapan Jacksen F Tiago untuk Christian Leo Yarangga menjadi pelatih kepala Persipura tinggal menunggu waktu saja.

Walau jalan menuju pelatih Persipura semakin terbuka, mantan striker Persipura dan PON XII ini harus menjalani ujian sebelum melangkah lebih jauh. Dia harus membawa Marco dan kawan-kawan merebut medali emas di PON XIX 2016 di Jawa Barat September mendatang.

Kepada Jubi mantan pelatih PON Papua 2016, Djoko Susilo mengaku kalau materi pemain PON sangat mumpuni untuk mengisi skuad Persipura musim mendatang. “Saya berani bertaruh kalau materi pemain PON ini sangat pantas menjadi pemain Persipura musim mendatang,”katanya kala itu.

Pembuktian Djoko Susilo ini agak beralasan karena mereka berhasil lolos ke Pekan Olahraga Nasional(PON) 2016 di Jawa Barat. Padahal secara mental, Marco dan kawan-kawan mengalami tekanan yang luar biasa. Bayangkan sudah juara dan lolos dalam babak Pra PON di Jayapura Oktober 2015 tetapi tidak diakui Kemenpora. Konflik antara Kemenpora dan PSSI menyebabkan, mereka harus bertanding ulang di Jawa Barat pada Maret 2016.

Djoko Susilo, membawa PON Papua lolos ke Jabar 2016-Jubi/ist
Djoko Susilo, membawa PON Papua lolos ke Jabar 2016-Jubi/ist

Banyak pengamat menilai, tim asuhan Djoko Susilo ini sulit menembus PON karena harus bermain di tempat netral Jawa Barat. Bahkan mantan defender Persipura Jack Kamasan Komboy khawatir karena ada beberapa pemain Pra PON Papua pindah ke klub profesional. Sejumlah pemain itu adalah Cristofer Sibi ke Semen Padang, M Tahir ke Persipura, Petrus Towolon ke Persipura, Osvaldo Chaay ke Persipura dan Yance Wenda ke Persipura. Walau demikian Komboy yakin pelatih Djoko Susilo sudah menyiapkan strategi agar Papua bisa lolos ke PON pada 20-30 Maret lalu. PON Papua masuk dalam Grup E bersama Papua Barat, Maluku Utara dan Maluku.

Nico Dimo eks penjaga gawang Persipura era 1970 an saat itu menilai dalam beberapa ujicoba kerja sama antar tim PON Papua masih belum maksimal. “Pemain masih sering salah dalam kontrol bola,’kata Nico Dimo. Lini depan lanjut dia juga tak memiliki insting yang baik dan para penyerang sering kalah ketika berduel dengan pemain belakang lawan.

Apalagi kata Dimo saat lawan melakukan serangan balik, koordinasi antar lini tengah dan belakang juga tidak ada. Begitulah ulasan yang bernada pesimis saat Pra PON Papua ikut Pra Kualifikasi PON kedua di Jawa Barat.

Di sinilah letak kehebatan pelatih Djoko Susilo, mantan pelatih kepala Semen Padang ini mampu membalikan keadaan dari keraguan, hingga berhasil lolos ke PON XIX Jawa Barat 2016. Bahkan tim sepak bola Papua Barat yang berambisi mengalahkan Papua berakhir imbang 1-1. Sedangkan Maluku dan Maluku Utara dikalahkan pasukan Djoko Susilo sehingga berhasil lolos ke PON.

Ini bukan sebuah pekerjaan mudah bagi seorang Djoko Susilo karena anak-anak secara mental jatuh karena sudah merasa menang dan lolos di Jayapura pada Oktober 2015. Bahkan beberapa pemain handal meninggalkan mereka, tinggal Marco dan kawan-kawan sendiri yang berjuang.

“Saya mau tanya dimana letak kegagalan saya dan tidak menyelamatkan tim PON Papua,”katanya saat djhubungi Jubi. Kata dia saat ini Marco dan kawan-kawan punya kondisi fisik sangat baik. “Mereka juga mampu mengalahkan Persipura saat ujicoba di Lapangan Mandala dengan skor tipis 2-1,”katanya heran..

Djoko Susilo mengaku tim PON Papua tidak dibantu wasit apalagi bermain curang sebab gol cepat terjadi saat mereka bermain. Apalagi bermain di tempat netral melawan tim-tim yang merasa ingin membalas dendam di Jawa Barat. Terutama PON Papua Barat sangat berambisi merebut tiket ke PON Jawa Barat.

Kini Djoko Susilo telah dilepas dan mantan asisten pelatih Persipura Cristian Leo Yarangga datang melatih Marco dan kawan-kawan. Waktu hanya tiga bulan bagi Yarangga, untuk membawa anak-anak PON Papua merebut medali emas di PON Jawa Barat.

Ferdinando Fairyo akui gagal bawa Nelson Alom dan kawan-kawan raih medali emas di Riau 2012-jubi/ist
Ferdinando Fairyo akui gagal bawa Nelson Alom dan kawan-kawan raih medali emas di Riau 2012-jubi/ist

Ini bukan pekerjaan mudah segampang membalikan sebuah telapak tangan. Sebab dalam sepak bola terkadang faktor non teknis ikut pula berbicara. Hingga tak heran kalau dorang bilang bola itu bundar. Sulit ditebak karena berbicara soal sepak bola selalu yang dilihat, hasil akhir dan gol kemenangan. Bukan permainan cantik dan melahirkan pemain bintang.

Yarangga butuh adaptasi dengan pemain baru, apalagi pelatih baru berdarah muda yang pernah menjadi bintang andalan PON Irian Jaya dan Persipura. Dia harus mampu melepaskan “ ego dan kejayaan masa lalu”, untuk membawa tim PON Papua merebut medali emas.

Belajar dari pengalaman PON 2012 di mana penggantian pelatih dari Maks Alua ke Ferdinando Fairyo. Mantan rekan Crist Yarangga di PON XIII harus membutuhkan waktu tiga bulan untuk menggenjot Nelson Alom dan kawan-kawan.
Hasilnya Nando akui bahwa mereka gagal untuk merebut medali emas di PON Riau 2012. Tentunya pengalaman Nando dan Daniel Womsiwor di PON 2012 jangan sampai terulang lagi di PON 2016 di Jawa Barat.(*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Ujian Christ Leo Yarangga dari PON Papua 2016, ke Persipura