Presiden, Ambisi Kuasa dan Pemburu

share on:

Ilustrasi. Salah satu peserta tari pada Festival Danau Sentani 2016 yang menampilkan tarian tradisional saat memperagakan alat-alat yang biasa digunakan saat berburu di hutan pada acara pembukaan FDS 2016 di Khalkote, Distrik Sentani Timur, Senin (20/6/2016) – Jubi/Yuliana Lantipo
Ilustrasi. Salah satu peserta tari pada Festival Danau Sentani 2016 yang menampilkan tarian tradisional saat memperagakan alat-alat yang biasa digunakan saat berburu di hutan pada acara pembukaan FDS 2016 di Khalkote, Distrik Sentani Timur, Senin (20/6/2016) – Jubi/Yuliana Lantipo
* Oleh Timoteus Marten

Jayapura, Jubi – Huru-hara dan rasa was-was menyelimuti istana dan anak buah sang presiden. Sementara si ambisius; wakil presiden tak nyaman.

“Ubah rencana. Langsung bunuh saja.” Demikian pesan pendek yang dikirim ke Hazar dan kroninya di hutan rimba.

Awalnya berencana menculik, menyiksa di peti es, bahkan membunuh tuan presiden jika mungkin. Tapi sia-sia.

Kerja sama dengan penjahat yang apik nyaris mengelabui istana. Apa sangka? Tak terduga. Ambisi licik dan berbahaya dijawab keajaiban. Tuan presiden selamat. Sang wakil gagal. Berniat jadi presiden, malah nyawa sang wakil direnggut ambisi tamak dan tengik.

Rancangan jahat dan rapi toh tak mempan. Sang wakil tak menyangka, bahkan tak tahu ada kekuatan luar biasa di dunia sana. Dunia sana mengalahkan taktik dunia sini.

“Kita terkadang harus tegar dan kuat. Tetapi juga harus terlihat tegar.”

Kata tuan Presiden ini mengawali perbincangan dengan pemburu tiga belas tahun yang sedang diuji ayahnya berburu. Namanya Oskari. Namun tenangnya masih menimbulkan sangsi.

Percakapan ringan dilanjutkan. Berdua di rimba Finlandia. Pohon-pohon berdaun jarum di plato; dataran tinggi yang luas dengan lembah dan bukit di sana-sini akibat pengikisan, jadi saksi.

Suatu ketika sang presiden mau membawakan pidato. Namun sebelumnya ia ke toilet. Kembali ke podium. Tahu-tahunya tuan presiden mengompol, tetapi ia tetap yakin dan membawakan pidatonya, yang tentu saja didengar seluruh dunia.

“Saat itu saya biasa-biasa saja. Kau tahu, di dunia ini hanya dua orang yang tahu kejadian itu. Hanya kau dan aku,” kata tuan presiden meyakinkan Oskari.

Oskari terdiam. Mengangguk. Namun menyimpan tanya. Ia masih sangsi terhadap pria naas yang ditemuinya di rimba.

Perjalanan dilanjutkan. Menyusuri hutan Finlandia. Menghadapi tantangan yang lebih besar; yang mana, nyawa jadi taruhan.

Keduanya terlibat percakapan akrab. Padahal mereka baru bertemu. Makan seadanya. Bukan hidangan mewah tuan terhormat, tapi binatang buruan. Hutan memang hakim yang adil. Hutan tak memandang kelas dan status sosial. Di hutan semua orang sama.

Si anak mengembara. Berburu. Hadiah ulang tahun ketiga belas dengan memburu binatang buas, rusa dan binatang buas lainnya tentu mengancam keselamatan nyawanya. Dan tuan presiden terjebak di dalam pesawat yang jatuh di rimba. Ksatria dan penguasa dinarasikan bertemu di hutan.

Seorang anak ke hutan rimba seorang diri. Tapi ia kembali menjadi seorang pria perkasa. Tangguh dan tahan banting.

Pesan ayahnya ini menjadi motivasi, semangat dan komitmen agar tetap berani berburu. Menghadapi tantangan mahaganas. Anak yang gagah dengan ransel kepala rusa dengan tabung panahnya. Berbekal seadanya; busur, beberapa buah anak panah dan tabung panah.

“Berbahagialah orang yang mengisi tabung panahnya sampai penuh.” Demikian Mazmur Daud dalam Alkitab.

Lalu…

Sejarah sang anak dan tuan presiden yang terhormat terjadi di hutan belantara. Bahwa tuan presiden, yang dibintangi pria kulit hitam, Samuel L. Jackson, yang terhormat yang diburu teroris justru diselamatkan pemburu kecil dengan nama asli Onni Tommila itu.

Ceritanya sampai di sini. Dan itu sepotong cerita film Big Game berdurasi 90 menit yang disutradarai Jalmari Helander. Saya menontonnya suatu ketika menjelang fajar di FOX TV.

Di pertengahan cerita, hanya sejeda, tuan presiden menitipkan pin kebesaran mahakuasa di negara adidaya. Biar suatu saat dikenang pemburu kecil nan pemberani itu.

Itu kenyataan fiksi. Mungkin juga kenyataan empiris. Dan penulis tidak sedang menulis resensi. Itu ranah lain.

Sebagai sebuah cerita, Big Game, tentu mungkin fiksi, tetapi menjadi bagian dari pentas kehidupan abad ini. Di tanah ini. Barangkali?

Bahwa dunia sana dan dunia sini punya hubungan. Jika realitas fiksi tadi dan fakta dikawinkan akan menyata. Hubungan kesalingan. Keterkaitannya soal kuasa, ambisi, akal bulus dan kekuatan pemburu yang “mungkin” tak dianggap sebagai kekuatan.

Big Game mungkin sudah, sedang dan akan terjadi. Dan dilawan dengan “keajaiban”? Tidak meski demikian. Ini bukan negeri dongeng. Ini negeri pemenang.
Konspirasi, jejaring yang melibatkan kekuatan besar, rahasia, dan masif, tak bisa tidak: dilawan. Satu kata; lawan. Perlawanan, yang bisa jadi, pada gilirannya menuai label “kiri” jika itu mau mengubah status quo.

Upaya logis, kritis, tajam dan semacam kajian ilmiah tentu dilakukan. Ini untuk menganalisis sebab musabab dan upaya solutif untuk kebaikan bersama. Dan perdamaian negeri kita; tempat matahari pagi bergantung di puncak bukit nan merekah.

Jika Helander melanjutkan kisahnya dalam Big Game, mungkin Oskari melanjutkan: wahai Tuan Presiden, kita pernah bertemu di suatu masa yang kritis. Maukah Anda bertemu dan kita saling bercerita? Tentu tidak mungkin. Dan kisahnya terhenti.

Seandainya tuan presiden ke rimba, dan pemburu kecil adalah Obeth (baca: tokoh dalam mop Papua) di belantara Nemangkawi, percakapan mungkin lain. Obeth barangkali tak sungkan-sungkan berkisah; tentang cinta dan hidupnya, alamnya, tanahnya, airnya, perut buminya dan langitnya yang mulai kelabu oleh asap korporasi yang beroperasi. Dan tuan presiden pun mendengarnya. Lalu mereka berembuk untuk menata hidup selanjutnya, dalam duri-duri anggrek hitam.

Namun, satu-satu daun berguguran, ranting yang kokoh terkulai lemah. Lebah mengisap manisnya saripati anggrek hitam. Mendesah dan mengadu pada siapa kalau bukan pada kaumnya? Urusannya jadi pelik.

Oskari boleh jadi adalah Obeth dan kawan-kawannya, yang menyelamatkan negara adidaya dan “konspirasi” dan korporasi besar lalu merampok alam dan kekayaan leluhurnya—dalam bayang-bayang, yang oleh I Ngurah Suryawan, jiwa yang patah. (*)

*Penulis adalah redaktur Koran Jubi dan tabloidjubi.com

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Presiden, Ambisi Kuasa dan Pemburu