Aktivis Tuntut 20 Jatah Kursi Perempuan Di Parlemen Vanuatu

share on:
Seorang perempuan Vanuatu yang menampilkan tarian adat pada perayaan International Day for Rural Women, Oktober 2015 di desa Emua -  Courtesy of UN Women/Nicky Kuautonga
Seorang perempuan Vanuatu yang menampilkan tarian adat pada perayaan International Day for Rural Women, Oktober 2015 di desa Emua – Courtesy of UN Women/Nicky Kuautonga

Jayapura, Jubi – Seorang aktivis hak asasi perempuan di Vanuatu mengatakan perwakilan rakyat di Parlemen tidak hanya untuk kaum laki-laki.

Perdana Menteri Vanuatu, Charlot Salwai, baru-baru ini telah memperkenalkan 25 peraturan yang akan mengalami perubahan di konstitusi. Salah satu peraturan yang akan diubah itu itu adalah tentang jatah kursi untuk perempuan di parlemen.

Perubahan peraturan itu nantinya akan dibawa dalam sebuah referendum publik.

Kepala Perempuan Melawan Kejahatan dan Korupsi, Jenny Ligo, mengatakan banyak orang menyatakan takut akan melanggar adat dan budaya bila terlibat di parlemen itu. Tetapi, kata Ligo, perempuan juga harus menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan di tingkat nasional.

“Saya pikir seluruh orang di bangsa ini perlu mengambil bagian itu bahwa Parlemen tidak hanya untuk laki-laki, mereka berpikir Parlemen hanya untuk diri mereka sendiri. Mereka salah,” kata Ligo seperti dikutip dari Radio New Zealand, Senin (20/6/2016).

“Perempuan perlu mempertimbangkan, bahwa ini bukan tentang satu kelompok perempuan, itu harus menjadi isu nasional, dan perempuan harus berpikir secara nasional,” lagi jelasnya.

Jenny Ligo menginginkan agar 20 jatah kursi di parlemen dikhususkan untuk perempuan. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Aktivis Tuntut 20 Jatah Kursi Perempuan Di Parlemen Vanuatu