Beri Cenderamata Burung Cenderawasih Sama dengan Jual Diri

share on:

Ilustrasi burung cendrawasih – Jubi/ruparupaburung.blogspot.co.id
Ilustrasi burung cendrawasih – Jubi/ruparupaburung.blogspot.co.id
Wamena, Jubi – Tokoh masyarakat yang juga pencinta kearifan lokal di Jayawijaya Niko Richard Lokbal mendukung pernyataan Walik Gubernur Papua, Klemen Tinal yang melarang penangkapan dan penyelundupan burung cendrawasih untuk dijadikan cenderamata.

Menurut Niko memberi cenderamata Cenderawasih sama halnya menjual diri karena burung surga itu merupakan ciri khas orang Papua.

“Jadi, dengan memberikan barang itu, sepertinya kita menyerahkan diri kita kepada para pejabat entah dia bermaksud baik atau jahat,” katanya di Wamena, Kamis (23/6/2016).

Maka dari itu, ia meminta kepada pemerintah Provinsi Papua dan kabupaten-kabupaten di Papua agar melindungi burung kebanggaan itu serta binatang endemik Papua lainnya.

“Cenderawasih adalah jati diri kita, saya juga pernah menegur orang di hotel Baliem Pilamo Wamena karena menguliti kuskus dan dijadikan sebagai hiasan dinding. Jadi, sekali lagi, saya mendukung apa yang disampaikan Pak Klemen Tinal untuk tidak menjadikan Cenderawasih sebagai cenderamata,” katanya.

Ia bahkan menyarankan agar datang ke Papua untuk mengetahui burung surga itu, bukan bukan maskot atau cenderamatanya.

Tokoh agama Jayawijaya Pastor John Djonga mengatakan burung Cenderawasih sudah dilindungi undang-undang. Maka penghormatan kepada pejabat negara tidak perlu dengan mengorbankan burung yang sebenarnya sudah mulai punah.

“Kebijakan pemerintah mengenai yang khusus itu tidak ada. Seperti larangan terhadap burung Cenderawasih itu kan larangan khusus bagi Papua, tetapi orang buat untuk menghormati atau hadiah kepada pejabat dengan mengorbankan burung,” katanya. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Beri Cenderamata Burung Cenderawasih Sama dengan Jual Diri