Brexit Menang, Inggris Dibayangi Referendum Skotlandia

share on:
Hasil referendum Inggris  terhadap keanggotaan UE - bloomberg.com
Hasil referendum Inggris terhadap keanggotaan UE – bloomberg.com

London, Jubi – Rakyat Inggris akhirnya memilih “Keluar” dari Uni Eropa (Brexit) pada Jumat pagi (24/6/2016) dengan memenangkan referendum Brexit sebesar 52 persen atau sekitar 17 juta suara, sementara yang menghendaki tetap tinggal sebesar 48% atau sekitar 16 juta suara.

Hasil referendum menunjukkan perpecahan mendalam di masyarakat Inggris. Pendukung Brexit merupakan jutaan warga yang merasa ketinggalan dalam globalisasi dan tidak mendapat keuntungan dari ekonomi pasar bebas.

Dengan memilih keluar dari Uni Eropa, Inggris akan kehilangan akses terhadap pasar bebas dan harus merundingkan kesepakatan dagang baru dengan negara-negara lain.

Di sisi lain, pendukung Brexit merayakan kemenangannya dari kelompok elit, pengusaha besar, dan pemimpin dunia yang meminta agar Inggris memilih bertahan.

“Ini adalah kemenangan bagi warga, kemenangan bagi rakyat kecil. Biarlah 23 Juni ini menjadi hari kemerdekaan kami,” kata Nigel Farage, pemimpin partai anti-Eropa, UKIP.

Selain itu, Britania Raya juga berpotensi terpecah belah mengingat Skotlandia, yang dua per tiga warga memilih bertahan di Uni Eropa, meminta untuk referendum kemerdekaan yang baru.

Menyusul kemenangan “Brexit”, David Cameron dikabarkan akan mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada Oktober mendatang. Cameron, yang menyerukan warga Inggris untuk memilih “tetap bertahan” di Uni Eropa, adalah tokoh penggagas referendum tiga tahun lalu.

“Warga Inggris telah menentukan pilihan berbeda, oleh karena itu saya berpendapat negara ini membutuhkan kepemimpinan baru yang sesuai,” kata Cameron di depan kantor perdana menteri di kawasan Downing Street.

Cameron, yang telah menjabat sebagai perdana menteri selama enam tahun, mengatakan  pemimpin selanjutnya yang bertugas memulai proses formal keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Proses tersebut akan berlangsung selama dua tahun ke depan.

Rival Cameron di Partai Konservatif, Boris Johnson, yang juga mantan Wali Kota London, diperkirakan akan mengejar jabatan perdana menteri menggantikannya.

Sebelumnya seorang anggota parlemen Inggris, Jo Cox, yang pro-Uni Eropa tewas dibunuh beberapa hari lalu oleh pendukung Brexit.

Respon negara-negara Eropa

Sementara itu Uni Eropa, blok beranggotakan 28 negara, akan menghadapi konsekuensi buruk baik secara ekonomi maupun politik. Sebagai gambaran, blok tersebut telah kehilangan seperenam PDB-nya.

Dari sisi politik, permintaan untuk keluar juga mulai muncul dari Belanda dan Prancis.

“Ini seperti mimpi yang sangat buruk,” kata mantan perdana menteri Finlandia, Alexander Stubb dalam akun Twitternya.

Keputusan rakyat Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa tampaknya “tidak dapat diubah”, kata Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, seraya menambahkan bahwa keputusan itu harus memacu blok tersebut untuk mengatasi ketidakpuasan di negara-negara lain juga.

“Ketidakpuasan yang kita lihat di Inggris juga ada di negara-negara lain, termasuk negara saya sendiri,” katanya kepada wartawan saat ia meninggalkan Den Haag untuk menghadiri pertemuan puncak para pemimpin Eropa di Brussel.

“Ini harus menjadi stimulus untuk reformasi lebih lanjut, kesejahteraan yang lebih,” ujarnya.

Inggris, yang mulai bergabung dengan Komunitas Ekonomi Eropa pada 1973, memang selalu mempunyai hubungan ambivalen dengan blok tersebut.
Meski mendukung perdagangan bebas dan ekspansi keanggotaan ke Eropa timur, mereka menolak menggunakan mata uang euro maupun bergabung dalam zona bebas Schengen.

Hasil pilihan rakyat Inggris ini dikatakan sebagai wujud kekhawatiran akan migrasi yang tidak terkontrol dan ancaman kedaulatan, mengalahkan peringatan akan dampak buruk terhadap ekonomi jika Inggris keluar dari Eropa.(*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Brexit Menang, Inggris Dibayangi Referendum Skotlandia