Alce Makanwai, Konselor Rumah Tangga di Puskesmas Tanjung Ria

share on:
Suster Olce Makanway- Jubi/dam
Suster Olce Makanway- Jubi/dam

Jayapura, Jubi- Meski tak melepaskan tanggungjawabnya sebagai perawat di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Tanjung Ria, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura. Suster Alce Makanwai harus menjalani tugas barunya sebagai konselor untuk kasus kekerasan dalam rumah tangga.

“Pertama kali menjalani tugas ini hanya sekadar mendata saja tetapi kekerasan dalam rumah tangga bukan sekadar menunjukan data-data. Butuh pendampingan yang terus menerus dan ini pekerjaan baru bagi saya,” kata Alce kepada Jubi di sela-sela diskusi media tour dari Usaid Kinerja beberapa waktu lalu di Puskesmas Tanjung Ria.

Untuk memulai tugas ini, kata dia harus mengikuti pelatihan-pelatihan dan pendampingan dalam memberikan konseling, termasuk prosedur dalam menyelesaikan kasus-kasus kekerasan maupun pelecehan seksual.

“Itupun kalau keluarga korban mau lanjut ke proses hukum dan ini perlu pendampingan agar jangan sampai di Polisi terpaksa ditarik kembali,” katanya.

Bagi ibu dari empat anak ini,  menjadi konseling adalah sebuah tantangan baru karena selama ini hanya berhubungan dengan pasien saja.

“Namun ketika mereka dirawat barukita  mengetahui luka di wajah mereka karena benda tumpul atau akibat mendapat perlakuan kasar,” katanya.

Hal ini membuat perempuan asal Kampung Kayu Batu ini tergerak hatinya, untuk terus menekuni  lebih dalam bagaimana melakukan konseling terhadap korban.

Ini tahun ketiga, kata Alce sebab pertama kali hanya selalu membuat data-data kekerasan tetapi ternyata para korban juga membutuhkan pendampingan dan penguatan agar mereka berani serta tidak melihat akibat kekerasan sebagai aib.

“Berkat pendampingan dan konseling yang terus menerus, warga sudah berani melaporkan kalau terjadi kekerasan termasuk pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur,” katanya seraya menambahkan warga dari Kampung Ormu wilayah Kabupaten Jayapura juga datang mendapat pelayanan media maupun konseling.

Lebih lanjut kata alumni Ilmu Keperawatan D3 Universitas Cenderawasih ini mengatakan sudah tercatat  di Puskesmas Tanjung Ria pada 2014 sebanyak 19 kasus.

“Rata-rata paling banyak kasus kekerasan karena paitua (suami) mabuk, pelecehan seksual  anak dibawag usia tiga tahun,” kata Suster Alce.

Soal pelecehan anak di bawah usia tiga tahun kata dia pelakunya seorang kakek dan sudah dilimpahkan ke Polresta Jayapura. Sedangkan pada 2015 kata dia sebanyak 10 kasus juga kekerasan akibat minuman keras.

Banyaknya pengaduan ini, kata alumni D3 Uncen 2003 lalu itu masyarakat semakin berani untuk datang melaporkan kasus kekerasan maupun pelecehan seksual.

“Mereka biasanya melaporkan berdasarkan pengalaman keluarga mereka yang pernah lapor. Begitu pula warga dari Kampung Ormu datang mengadu,” katanya.

Hanya saja, Olce mengakui kalau proses kekerasan biasanya penanganan lanjut ke Polresta sangat lambat direspon.

“Hal ini cukup mengganggu dalam menyelesaikan kasus kekerasan,” katanya.

Senada dengan pernyataan Olce, Kepala Puskesmas Tanjung Ria dr Marthina juga mengakui kalau kasus kekerasan perlu pendampingan dan konseling agar mereka merasa nyaman.

“Ini baru pertama kali ada khusus konseling bagi warga di Puskesmas di sini,” katanya.

Memang kata dia dalam Puskesmas juga harus ada ruang konseling bagi para korban sehingga pelayanan bisa berjalan tuntas.

Usaid Kinerja Bidang Media, Firmansyah mengakui kalau program konseling bagi kekerasan di Kota Jayapura baru pertama kali dilakukan di Puskesmas Tanjung Ria.

“Kita sudah mendampingi selama tiga tahun dan terus berkembang semakinbaik. Terutama masyarakat sudah berani melaporkan dan konseling,” katanya.  (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Alce Makanwai, Konselor Rumah Tangga di Puskesmas Tanjung Ria