Kamoro, Alat Musik Tradisional Tifa

share on:
Tifa kamoro Papua - Buku Tifa, Agus Dumatubun dan kawan-kawan
Tifa kamoro Papua – Buku Tifa, Agus Dumatubun dan kawan-kawan

Jayapura, Jubi-Orang Kamoro, di dataran rendah Kabupaten Mimika percaya kalau alam yang mereka tempati selalu dilindungi dan di jaga  para leluhur mereka. Hingga apapun yang mereka lakukan diintepretasikan dalam setiap bentuk.

Demikian penulisan Tifa yang dikutip Jubi dari buku Inventarisasi Warisan Budaya Takbenda (WBTB).

Orang Kamoro menyebut tifa dalam bahasa Kamoro yaitu eme. Dalam membuat tifa selalu mengintepretasikan kehidupan alam sekitar di dalam badan tifa. Bagi orang Kamoro, tifa adalah sebagai salah satu alat alat yang  dapat membawa harapan dalam kehidupan. Proses membuat tifa membutuhkan selama empat sampai lima hari.

Cara membuat tifa, pertama kali dilakukan adalah mencari bahan baku utama yaitu batang pohon. Batang itu disebut pohon waru, apo dan kokota(kayu susu). Pohon yang akan ditebang memiliki ukuran yang berdiameter 25 cm sampai 30 cm. Batang itu dipotong sesuai dengan keinginan si pembuat.

Langkah kedua bagian dalam dilubangi dengan besi tajam atau linggis, yang proses ini memakan waktu dua jam tergantung panjang tifa. Selanjutnya melubangi dan memperhalus bagian dalamnya serta menggambar motif-motif lokal.

Motif sirip ikan, selain itu ada wajah manusia dengan menggunakan hiasan kepala, wajah manusia ini merupakan titisan merupakan titisan nenek orang Kamoro. Gambar hiasan kepala berupa makota yang terdiri dari bulu kasuari(tuu iri), burung  cenderawasih(yaomoko), tali waru(pikwime) sebagai pengikat kepala.

Warna-warna ukiran tifa yang dipakai dalam budaya Kamoro adalah warna merah, putih dan hitam. Warna merah terbuat dari watae, warna hitam dari arang dan warna putih dari kapur(mbuu puri).

Warna merah dalam budaya Kamoro merupakan warna yang mengandung arti keberanian dan penyelamat  serta penyemangat. Warna –warna ini sering dipakai juga dalam acara tarian-tarian sebagai perias wajah.

Warna putih, merupakan warna kesucian  dan warna ini paling dominan dalam kehidupan orang Kamoro; Warna putih sering dipakai dalam acara sakral seperti acara kematian dan upacara lainnya. Selain itu warna hitam, merupakan warna yang menandakan identittas orang Kamoro, warna putih sering dipakai dalam acara sakral seperti acara kematian dan upacara lainnya.

Langkah selanjutnya pemasangan kulit biawak (weke), ini memerlukan bantuan dari beberapa pihak untuk mengencangkan kulit biawak tersebut. Sebelum memasang kulit harus digosok dengan  darah kaum laki-laki dewasa agar bertahan lama.

Dalam kepercayaan orang Kamoro tifa yang telah digosok dengan darah manusia bisa tahan lama, sekarang warga Kamoro hanya memakai darah hewan termasuk pula darah biawak itu sendiri. Getah damar akan ditempelkan pada tifa agar suaranya semakin nyaring terdengar. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Kamoro, Alat Musik Tradisional Tifa