Mama Papua: Kami Harap Pasar yang Lebih Baik dan Tidak Banjir Lagi

share on:
Mama Jeilera Gire bersama seorang rekannya, sesaat setelah menimbun lapak yang terkena banjir di Pasar Induk Youtefa, Jayapura – Jubi/Ruth Ohoiwutun
Mama Jeilera Gire bersama seorang rekannya, sesaat setelah menimbun lapak yang terkena banjir di Pasar Induk Youtefa, Jayapura – Jubi/Ruth Ohoiwutun

Sebuah truk besar berwarna merah bata sedang menurunkan setumpukan tanah di tempat jualan sayur mayur pedagang mama-mama asli Papua yang terendam banjir di Pasar Induk Youtefa, Jumat.

Siang itu, sekitar pukul 14.30. Belasan mama pedagang terlihat sibuk meratakan timbunan tanah di atas lapak mereka yang hanya beralaskan tanah yang sudah tergenang air itu. Ia sekitar 5 meter, panjangnya. Kalau masuk dari pintu pasar Jalan Baru Pantai Injros (Enggros), ia berlokasi di sisi kanan.

Kurang dari sejam, genangan air akibat hujan semalam itu berhasil ditutup. Kartun-kartun bekas dan karung beras pun mulai digelar, menutup tanah yang basah dan berbecek. Dagangan pun mulai ditata dan siap dijual. Sementara lapak pedagang di kios-kios, jauh lebih aman.

Kendati hari mulai senja, mama-mama itu terlihat kuat. Berpacu dengan waktu dan menjual dagangannya dengan penuh harap, “Semoga sayur-sayur ini laku sebelum sa pulang,” ucap Mama Jeilera Gire, yang ditemui Jubi sore itu.

Mama Jeilera merupakan salah seorang pedagang hasil bumi yang sehari-hari membawa dagangannya dari luar kota Jayapura.

Sembari menata dagangannya: jagung, betatas, ketimun, sayur pare dan sayur daun singkong, serta buah pinang, Mama Jeilera menceritakan perjuangannya bersama rekan pedagang lainnya di setiap musim hujan, seperti sore itu.

Secara kolektif, mama-mama pedagang yang berjualan hanya dengan beralaskan karton dan beratapkan langit itu memesan tanah dan pasir dengan membayar jasa angkut sebuah truk, untuk menutup genangan air.

Sering Banjir, Minim Perhatian Pemerintah

Mama-mama pedagang juga mengeluhkan hampir tak ada perhatian pemerintah untuk melakukan perbaikan kondisi pasar induk tersebut.

“Ini bukan baru pertama hujan baru banjir begini. Sudah lama, tapi (kondisi) begini saja terus,” curhar mama Jeilera, yang mengaku lama berjualan di tempat itu.

Secara kasat mata, terlihat drainase tidak bekerja baik. Got atau saluran air yang dibuat, mampet penuh botol-botol dan plastik bekas. Saluran airnya tidak lancar.

“Kami jualan di atas pecek, dan banyak sampah  di mana-dimana,” timpal mama Anna Asso, seorang pedagang lainnya.

“Kami jualan di sini sering banjir seperti ini, becek, yang lain tidak bisa jualan. Kami timbun tetapi nanti banjir lagi. Orang di sini tidak diperhatikan, tidak ada perhatian dari pemerintah,” ucap mama Jeilera, mengambil alih pembicaraan.

Pengelola Pasar Induk Youtefa beserta pihak-pihak terkait lainnya, lagi-lagi diminta dengan penuh harap dari mama-mama pedagang asli Papua—yang bisa dikata belum beruntung—agar mendapat tempat berjualan yang lebih baik.

“Kami sangat harapkan pasar yang lebih baik dan tidak banjir lagi seperti ini,” pinta mama Jeilera, yang mengaku berjuang demi ketiga orang anaknya yang masih bersekolah itu. (Ruth Ohoiwutun)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Mama Papua: Kami Harap Pasar yang Lebih Baik dan Tidak Banjir Lagi