Rekonsiliasi Solomon Sebagai Dasar Perdamaian Dirayakan

share on:
Perdana Menteri Kepulauan Solomon Manasye Sogavare (tengah) saat di acara Healing Nasional dan Apology Week di Honiara, tahun lalu, pada 2-7 Juli 2016 - Facebook - PM Press Secretariat
Perdana Menteri Kepulauan Solomon Manasye Sogavare (tengah) saat di acara Healing Nasional dan Apology Week di Honiara, tahun lalu, pada 2-7 Juli 2016 – Facebook – PM Press Secretariat

Jayapura, Jubi – Panitia perayaan Pekan Rekonsiliasi yang diselenggarakan di Kepulauan Solomon mengatakan kegiatan tersebut merupakan sebuah langkah pertama menuju pemulihan secara nasional.

Bertepatan dengan perayaan ulang tahun kemerdekaan negara itu yang ke-38 pada Kamis, kegiatan rekonsiliasi selama sepekan itu menandai 13 tahun perdamaian yang telah berlangsung di negara tersebut setelah konflik berdarah antar etnik pada pergantian abad.

Selama lima tahun, dalam periode 1998-2003, masa itu dikenal secara lokal sebagai masa ‘ketegangan etnis’ yang hampir menghancurkan negara tersebut.

Laporan menyebutkan lebih dari 200 orang tewas pada masa itu. Dan, masih banyak dari para korban yang belum ditemukan dan puluhan ribu nyawa terkena dampak.

Pengawas Perdamaian Nasional dari Kementerian Persatuan Nasional Rekonsiliasi dan Perdamaian, Pastor John Patteson Ngalihesi mengatakan program kegiatan bernilain $ US750,000 itu merupakan langkah penting pertama untuk pemulihan sebuah bangsa yang telah hancur.

Bapa John Patteson Ngalihesi mengatakan dengan menangani keluhan masa lalu akan memungkinkan penanganan isu-isu penting lainnya yang sedang dihadapi Kepulauan Solomon, seperti isu disektor ekonomi, politik dan pemerintahan negara

“Kau harus mula, semua ini adalah masalah yang perlu ditangani, tetapi kau harus memulai. Dan jika kita terus berupaya mengatasi masalah ini tanpa ada rekonsiliasi artinya kau tidak bisa benar-benar mengatasi masalah ini dengan baik. Jadi kami percaya bahwa peletakan dasar perdamaian akan membantu kita untuk benar-benar mengatasi masalah itu,” katanya seperti dikutip dari Radio New Zealand, Minggu (10/7/2016).
Rekonsiliasi untuk Bougainville

Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Manasseh Sogavare, saat berpidato pada acara National Healing and Apology Week di Honiara, tahun lalu yang diselenggarakan pada 2-7 July 2016 - Facebook/PM Press Secretariat
Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Manasseh Sogavare, saat berpidato pada acara National Healing and Apology Week di Honiara, tahun lalu yang diselenggarakan pada 2-7 July 2016 – Facebook/PM Press Secretariat

Kepulauan Solomon berencana mendamiakan masyarakat Melanesia di negara tetangganya: Papua Nugini dan Daerah Otonomi Bougainville atas insiden Perang Saudara Bougainville.

Pastor John Patteson Ngalihesi mengatakan saat ini pihaknya berencana ingin mengejar dilakukannya rekonsiliasi antara PNG dan Bouganville. Ia mengatakan, penyelesaiannya perbedaan masa lalu adalah satu-satunya jalan menuju kedamaian sejati dan keamanan di daerah perbatasan.

“Kami dikunjungi juga Bougainville di sini, mereka datang sebagai pengamat. Dan kita melihat bagaimana kita dapat melakukan pembangunan perdamaian di perbatasan antara PNG dan Kepulauan Solomon sedikit lebih baik dan dengan cara yang dapat mempromosikan dan memanfaatkan perdamaian antara orang-orang kami.

“Hal ini juga untuk melihat soal pertentangan serius antara polisi di perbatasan Kepulauan Solomon – PNG, termasuk beberapa pintu penyeberangan antar kedua teritori yang tidak sah oleh personil militer Papua Nugini ke Kepulauan Solomon dalam mencari militan Bougainvillean. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Rekonsiliasi Solomon Sebagai Dasar Perdamaian Dirayakan