Mari Rajut, Anyam dan Sulam Bersama Noken Mama Papua

share on:
Noken asal wilayah adat Mee - IST
Noken asal wilayah adat Mee – IST

Jayapura, Jubi – Ketua Lembaga Ekologi Papua dan pencetus gagasan menominasi Noken ke UNESCO, Titus Pekei mengatakan, noken Papua telah menjadi tradisi dan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang sangat berharga. Entah sadar atau tidak sadar siapapun orang Indonesia, orang asli Papua (OAP) dan dan di manapun semua orang berada pasti hadir lewat mama-mamanya.

Tetapi terkadang, lupa atau mungkin tanpa sengaja justru merobek, merusak makna hidup yang hadir dari dalam keringat mama atau ibunya.

“Mari kita merajut, menganyam dan menyulam hidup ini bersama Noken Mama Papua. Sebab, tumpuan hidup Noken Mama Papua sedang berada di ambang krisis ekologis di atas bumi ini,” kata Titus Pekei kepada Jubi di Jayapura, Jumat (22/07/2016).

Pekei menjelaskan, ketika UNESCO hargai dan akui dengan pengesahan keringat mama-mama Papua. Secara otomatis kata dia noken telah menjadi satu kehormatan atas falsafah noken kehidupan bagi semua orang.

Menurut dia, berbagai pihak yang adalah anak mama-mamanya lakukan berbagai kegiatan tanpa menjiwai dan memaknai wadah noken kehidupan tadi.

“Coba pikir, ingat mama yang melahirkan dirinya dan identitasnya, bahwa ketika generasi tertentu entah dari mana menghambur-hambur plastik penuh masalah di tanah ini,” jelasnya.

Menurut pengamatan Lembaga Ekologi Papua, tiap kemauan kepentingan telah melumpuhkan hidup, krisis ekologi tanah ini makin jadi dan kusut bagi dirinya.

“Generasi yang tidak paham krisis ekologi di tanah ini pun menjadi bagian dari masalah perubahan iklim,” bebernya.

Noken yaitu tas tradisional masyarakat Papua yang dibawa dengan menggunakan kepala dan terbuat dari serat kulit kayu. Sama dengan tas pada umumnya tas ini digunakan untuk membawa barang-barang kebutuhan sehari-hari.

Lebih lanjut dikatakan, masyarakat Papua biasanya menggunakannya untuk membawa hasil-hasil pertanian seperti sayuran, umbi-umbian dan juga untuk membawa barang-barang dagangan ke pasar. Karena keunikannya yang dibawah dengan kepala, noken ini di daftarkan ke UNESCO sebagai salah satu hasil karya tradisional dan warisan kebudayaan dunia dan pada 4 Desember 2012 ini, noken khas masyarakat Papua ditetapkan sebagai warisan kebudayaan tak benda UNESCO.

“Pengakuan UNESCO ini akan mendorong upaya melindungi dan mengembangkan warisan budaya Noken, yang dimiliki oleh lebih dari 250 suku bangsa di Provinsi Papua dan Papua Barat,” paparnya.

Pengrajin noken Papua dari Dogiyai, Yosias (44) mengatakan, melestarikan noken merupakan bagian dari identitas orang asli Papua (OAP). Sebab, noken Papua akan selamat dan tetap lestari jika semua komponen bersatu untuk melestarikan.

“Pemerintah Provinsi Papua dan Kabupaten/Kota jangan hanya asal-asalan bicara saja. Tapi, buktikan dengan pemberdayaan kepada petani yang melindungi bahan pembuat noken,” katanya. (*)

Editor : Dominggus Mampioper
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Mari Rajut, Anyam dan Sulam Bersama Noken Mama Papua