Minim Siswa, PLS SMPN 13 dan SMKN 10 Berjalan Baik

share on:
Suasana Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) di SMP Negeri 13 Kota Jayapura – Jubi/Angel
Suasana Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) di SMP Negeri 13 Kota Jayapura – Jubi/Angel

Jayapura – Seperti hanya sekolah-sekolah di seluruh Kota Jayapura, SMPN 13 Kota Jayapura memulai masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) di SMP Negeri 13 dan SMKN 10 Kota Jayapura yang berada di lembah Organda, Distrik Abepura juga memulai sejak 21 sampai 23 Juli 2016.

Ketua panitia penerimaan siswa baru SMPN 13, Justina Simamora mengatakan pada hari pertama ini siswa diperkenalkan dengan lingkungan sekolah juga pengetahuan dasar tentang HIV/AIDS.

“Ada 54 siswa yang terdaftar sebagai siswa baru, tetapi hanya 45 siswa yang mengikuti PLS pada hari ini. Karena sakit atau juga tidak datang,” kata Justina saat ditemui Jubi di sekolah itu, Kamis (21/6/2016).

Dari kapasitas daya tampung sebanyak tiga rombongan belajar (96 siswa), sekolah ini hanya terisi 54 siswa. “Dengan jumlah siswa ini, kami akan bagi menjadi dua kelas. Jadi satu kelas sekitar 27 siswa. Ini jumlah yang sangat ideal, sehingga guru dapat memperhatikan siswa dengan lebih intens,” katanya lagi.

Seperti halnya SMPN 13, SMKN 10 yang awalnya satu atap dengan SMP itu juga memulai PLS pada Kamis ini. Hari pertama dimulai dengan penyampaian visi misi sekolah, tata tertib dan struktur sekolah.

“Kami sudah mulai dengan pra PLS sejak tiga hari lalu. Mulai hari ini hingga Sabtu nanti kami lakukan PLS,” kata koordinator PLS SMKN 10, Melki Gandeguai.

Pada pelaksanaan PLS kali ini, 25 siswa baru sekolah itu mengikuti dengan bimbingan beberapa guru dan pimpinan sekolah tersebut.

“Pada angkatan ketujuh ini, kami menerima siswa untuk 3 jurusan, teknik pendingin dan tata udara, teknik instalasi listrik, dan teknik komputer jaringan,” kata Kepala sekolah SMKN 10, Melkianus Mawene yang baru menjabat sebagai kepala sekolah selama 6 bulan, pasca pemekaran sekolah itu.

Menurut ia, sebelumnya sekolah ini hanya memiliki satu jurusan, yakni teknik pendingin dan tata udara, namun tahun ini pihaknya memberanikan diri membuka jurusan baru guna meningkatkan jumlah siswa baru.

“Tantangan paling besar dalam mengembangankan sekolah ini adalah penambahan lokasi lahan sekolah. Tinggal tambah bengkel (ruang praktek siswa) dan ruang kelas saja. Saja juga sudah berbicara dengan seksi sarana dan prasarana pada direktorat pengembangan SMK di Jakarta. Mereka bersedia membantu membangun 3 kelas dan 3bengkel juga guru kontrak selama setahun.” kata Mawene.

Untuk itu, pihaknya sudah berbicara dangan Dinas pendidikan kota dan Provinsi untuk membantu penambahan lahan lokasi SMK negeri itu.

“Lokasi sekolah ini memang agak jauh, 1,5 kilo dari jalan raya. Tapi jika tertata baik, siswa pasti datang. Pengembangan tidak usah besar-besar, dua hektare saja cukup. Yang penting tidak tanggung seperti ini, agar pengembangan sekolah dimungkinkan,” katanya.

Sementara seorang orang tua siswa SMPN 13, Diana saat ditemui di sekolah itu mengatakan, kendala yang dihadapinya adalah jarak sekolah yang sangat jauh dari jalan raya.

“Sekolah yang ada di tengah kota dikasih bantuan bus, kenapa sekolah ini tidak punya bus sekolah? Padahal jarak sekolah dan jalan raya sangat jauh,”kata ibu yang tinggal di perumahan sosial

Abepura. Menurutnya, jika sekolah ini dilengkapi bus sekolah, akan lebih banyak siswa yang masuk sekolah ini.

“Dari rumah naik taxi 5000 rupiah, sambung ojek 5000 rupiah. PP duapuluh ribu rupiah, belum pake uang jajan. Seharusnya pemerintah memperhatikan sekolah di pinggiran seperti ini,” pungkasnya. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Minim Siswa, PLS SMPN 13 dan SMKN 10 Berjalan Baik