Petani OAP Keluhkan Biaya Sewa Traktor Bajak Lahan

share on:
alat pertanian
Traktor yang akan diberikan kepada masyarakat di Kampung Sumber Makmur, Distrik Tanah Miring – Jubi/Frans L Kobun

Merauke, Jubi – Petani Orang Asli Papua (OAP) di Kampung Kamanggi, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, mengurungkan niat mereka membuka lahan untuk menanam padi pada musim gadu. Hal itu dilakukan lantaran biaya sewa traktor membajak lahan sangat mahal, hingga Rp 1,2 juta per hektar.

“Memang dalam musim tanam pertama (rendengan;red), saya bersama masyarakat di Kampung Kamanggi membuka lahan satu hektare untuk tanam padi. Hanya biaya buka lahan, sangat mahal. Sementara pendapatan warga setempat yang merupakan orang asli Papua, terbatas,” ujar pendamping masyarakat setempat, Bruder Johny Kilok kepada Jubi Rabu (27/7/2016).

Diakui salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat di Kampung Kamanggi adalah peralatan pertanian.

“Kami angkat tangan jika bicara tentang alat untuk membajak lahan. Karena tidak ada, sehingga satu-satunya cara adalah menyewa. Itupun harganya mahal untuk satu hektare harus dibayar Rp 1,2 juta,” ungkapnya.

Dari lahan satu hektare yang ditanami padi, demikian Bruder Johny, telah dipanen. Hasilnya adalah 50 sak gabah.

“Kita sudah panen gabah sekaligus mengeringkan dan membawa untuk digiling menjadi beras. Ini karena pertama kali, sehingga hasil beras dibagi merata kepada petani,” tuturnya.

Salah seorang warga di Kampung Kamanggi, Andreas Ndinggon mengaku, mereka sangat kesulitan mendapatkan peralatan membuka lahan, padahal hamparan masih sangat luas.

“Kami merasa berhutang budi kepada Bruder Johny Kilok yang setiap hari mendampingi masyarakat di kampung membuka lahan sekaligus mengembangkan usaha-usaha lain,” katanya. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Petani OAP Keluhkan Biaya Sewa Traktor Bajak Lahan