In Memoriam Olga Hamadi Pengacara HAM Papua

share on:
Olga Helena Hamadi (Jubi/DAM)
Olga Helena Hamadi (Jubi/DAM)

Jayapura, Jubi – Hujan airmata dari pelosok negeri saat melepas engkau pergi berjuta kepala tertunduk haru, terlintas nama seorang sahabat yang tak lepas dari nama mu. Terbayang bhakti mu, terbayang jasa mu, terbayang jelas jiwa sederhamu. Bernisan bangga berkafan doa dari kami yang merindukan orang seperti mu. Begitulah sepenggal lirik lagu karya Iwan Fals berjudul Bung Hatta yang dikutip Jubi menghantar kepergiaan seorang sahabat tersayang Olga Helena Hamadi.

Rumah duka di Tanah Hitam, Abepura, sore itu Kamis (28/72016) tampak sendu, dipenuhi kursi-kursi plastik hijau yang disediakan bagi mereka yang datang melayat. Krans bunga plastik memenuhi pintu masuk. Pengacara HAM Papua, Olga Hamadi. Perempuan kelahiran Jayapura 34 tahun lalu itu terbaring manis dengan pakaian putih bersih di atas dipan.

Olga Helena Hamadi (34 tahun), subuh dinihari, Kamis (28/7/2016), meninggal di Rumah Sakit Dok 2, sekitar pukul 4.00 waktu Papua. Pesan singkat yang masuk ke redaksi Jubi datang dari Pemimpin Redaksi Suara Papua, Arnold Belau, “Olga Hamadi meninggal, benar kah?”

“Kami terdiam cukup lama. Kami berduka. Kami segera tahu, bahwa kami telah kehilangan satu lagi ‘senjata’ bagi perjuangan penegakan HAM di Tanah Papua,” saat menerima pesan singkat itu.

“Kalau Bukan Saya yang Membantu Orang Papua, Siapa Lagi?”

Olga adalah satu-satunya pengacara perempuan Papua yang terkenal berani dan sangat berdedikasi. Salah seorang redaktur Jubi mengingatnya dengan sendu. “Bahkan dikesempatan santai pun, ketika bersama teman-teman, Olga selalu menyempatkan diri bekerja. Dia pekerja yang sangat berdedikasi, tidak banyak bicara,” ujar Angela Flassy mengenangnya dengan lirih.

Kakak perempuan Olga, duduk disamping jasadnya sore itu, saat teman-teman redaksi Jubi datang untuk mengucapkan salam terakhir, sekaligus doa perpisahan.

“Olga sudah jatuh sakit sejak Januari lalu. Saya pikir karena dia bekerja terlalu keras. Saya selalu ingatkan dia untuk istirahat,” ujarnya sambil menghapus titik air di sudut matanya.

“Saya tahu dia melakukan pekerjaan yang beresiko, padahal sebagai pengacara dia bisa bekerja di tempat lain yang tidak beresiko politik terlalu besar. Tetapi Olga selalu menjawab, bahwa dia harus melakukannya, karena, katanya, kalau tidak saya, siapa lagi yang akan membantu orang-orang Papua?” kenangnya dengan suara pelan.

“Saya tinggal di Timika, dia meminta saya datang tanggal 27 Juli kemarin, tetapi saya bilang tidak bisa karena harus ke Jakarta. Dan ternyata, dia tidak bisa lagi menunggu kedatangan saya, dia pergi tanggal 28 Juli,” ujarnya.

Mendiang Ayah Olga, Yohanes Hamadi, adalah seorang pendeta. Dia memberi dukungan dan dorongan agar Olga belajar hukum demi membela masyarakat yang terpinggirkan.

“Sejak kecil saya punya cita-cita jadi pengacara. Kalau jadi pengacara, saya bisa menolong banyak orang,” katanya kepada Benny Mawel, wartawan Jubi,Desember 2013 lalu. “Bapak sering mengatakan kepada saya kalau jadi pegacara itu bagus, bisa menolong orang yang susah,”

Olga Helena Hamadi adalah sosok perempuan pemberani. Selain menjadi pengacara HAM, dia pernah memimpin Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan  (KONTRAS) Papua di Jayapura pada tahun 2009, dan bekerja di divisi Sipil dan Politik Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua pada  2005.

Sebagai pengacara dia berjasa ikut mengadvokasi kasus-kasus pelanggaran HAM Papua yang tidak banyak mau ditangani pengacara lain. Kasus Abepura 16 Maret 2005 adalah salah satu yang paling dikenangnya. Sejak itu dia terus melakukan pembelaan terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM Sipol Papua seperti kasus tuduhan maker di Nabire, penyerangan Mapolsek Abepura dan kasus Kapeso tahun 2009, kasus aktivis Komite Nasional Papua Barat,, kasus Kongres Rakyat Papua  III tahun 2011, dan kasus makar Sarmi pada  2013.

Karena pekerjaannya itu, Olga telah membiasakan diri dengan berbagai stigma, ancaman dan intimidasi dari aparat keamanan. Tetapi hingga sakit menghampirinya, Olga tidak mundur.

Yeremias Degei, mantan Pemimpin Redaksi Majalah Selangkah Papua, mengatakan, bahwa kepergian Olga untuk selama-lamanya, adalah kematian yang sesungguhnya dari berbagai kematian yang datang silih berganti di tanah Papua.(*)

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  In Memoriam Olga Hamadi Pengacara HAM Papua