Persipura dari Samba ke “Yosim Tango”

share on:
Para pemain Persipura usai melawan Bali United beberapa waktu lalu di Stadion Mandala Jayapura – Jubi/Roy Ratumakin.
Para pemain Persipura usai melawan Bali United beberapa waktu lalu di Stadion Mandala Jayapura – Jubi/Roy Ratumakin.

Jayapura, Jubi- Selama enam tahun Jacksen F Tiago dan Osvaldo Lessa membawa aroma Samba Yosim di kubu Mutiara Hitam. Permainan bola pendek dan cepat serta serangan melalui dua wing bek jadi ciri khas Persipura. Kekalahan beruntun di Torabica Soccer Champion (TSC) 2016 menyebab Jafri Sastra akhirnya ditendang. Kini Jafri Sastra kembali membesut klub lamanya, Mitra Kukar di Kalimantan Timur.

Jacksen F Tiago, ketika masih membesut Persipura kepada Jubi  mengatakan ada kemiripan antara orang Papua dan Brazil.

“Kalau di Brazil ada karnaval dengan gerakan yang sangat mirip Yosim pada orang Papua,” kata Jacksen kala itu.

Kedekatan budaya ini, membuat Jacksen tak sulit membawa Persipura merajai Indonesia Super League(ISL) sebanyak tiga kali dan masuk semi final AFC 2014. Itulah prestasi gemilang Mutiara Hitam ketika beraroma Yosim Samba.

Kali ini manajemen Persipura, membawa Persipura ke Dansa Tango, Argentina, bisakah Yosim Samba berubah jadi Tango Yosim?  Pelatih anyar Persipura, Angel Alfredo Vera sudah memimpin latihan tim Mutiara Hitam di  Stadion Brawijaya kompleks Makodan V/Brawijaya. Pelatih asal Argentina ini diampingi asisten pelatih Tony Ho.

Pelatih baru ini ditemani dua asisten lainya Mettu Dwaramuri dan Erick Ibrahim. Dua pelatih baru Toni Ho dan Alfredo membesut tim  berjuluk Mutiara Hitam itu menggantikan coach Jafri Sastra dan Irwansyah.

Keindahan bermain bola gaya Samba sering kali disebut pula Joga Bonito.

“Kalau pemain bermain bola dengan meliuk-liuk dan lincah, orang-orang Brazil akan bilang Jogo Bonito,”kata Jacksen F Tiago dalam buku berjudul Enam Tahun Bersama Mutiara Hitam.

Tarian atau Samba Brazil lebih mengedepankan kelenturan badan dan gerakan tubuh yang indah. Dari tarian tersebutlah yang kemudian menjadi inspirasi dan kebiasaan permainan Brazil. Bermain bak penari yang mampu menyihir setiap penonton.

Pemain Mutiara Hitam, Ferinando Pahabol mampu meliuk-liukan badannya ibarat gabungan Yosim Samba dipraktekan dalam  sepak bola Indonesia.

Permainan Tango ala Argentina jelas hampir sama dengan Jogo Bonito. Pasalnya keduanya sama-sama berasal dari Amerika Latin. Hanya saja permainan Tango ala Argentina berdasarkan tarian Tango yang mengedepankan gerakan kelincahan kaki. Pemain Argentina yang kental dengan nuansa tango mampu melakukan ball possession, wallpass, interpass hingga melewati pemain dengan tubuh meliuk-liuk.

Filosofi ini juga mengagungkan kelihaian mengolah bola dengan akurasi tinggi. Kemampuan seorang pemain begitu menentukan dalam permainan tim. Gaya sepakbola ini pada akhirnya memunculkan one man show.

Saat Argentina juara piala dunia 1982, meski Maradona tak ikut mencetak gol di final. Toh, hal tersebut tak menghilangkan stigma di otak masyarakat, bahwa piala dunia didapatkan oleh Maradona dengan bantuan 10 pemain lainnya. Begitupula dengan Lionel Messi tak pernah membawa Argentina juara dunia tetapi ada “Messi-dependencia” di kubu Argentina. Sialnya saat Messi sedang absen, secara otomatis permainan Argentina juga memburuk.

Sebaliknya kelebihan pelatih Atletico Madrid Diego Simeone mampu memaksimalkan pemain Atletico Madrid untuk juara La Liga Espana maupun Champion Eropa Club. Bisakah Alfredo membawa Persipura bermain gaya Yosim Tango di Indonesia dan Asia. Bayangkan saja Jacksen F Tiago saja butuh enam tahun, bagaimana dengan Alfredo. Butuh waktu untuk mewujudkan Mutiara Hitam Berjaya. (*)

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Persipura dari Samba ke “Yosim Tango”