Dihadapan Gubernur, Mahasiswa Papua di Yogya Dirazia

share on:
Gubernur Papua, Lukas Enembe saat berkunjung ke aAsrama mahasiswa Papua di Yogyakarta, pekan ini - IST
Gubernur Papua, Lukas Enembe saat berkunjung ke aAsrama mahasiswa Papua di Yogyakarta, pekan ini – IST

Jayapura, Jubi – Mahasiswa/mahasiswi Papua yang ada di Yogyakarta dikabarkan dirazia sekelompok orang ketika Gubernur Papua, Lukas Enembe akan bertemu Sri Sultan Hamengkubuwono X, Rabu (3/8/2016). Informasi yang diperoleh, seorang mahasiswi Papua terkena pukulan di bagian bibir. Razia itu dikabarkan disaksikan sendiri oleh Gubernur Papua.

Legislator Papua, Laurenzus Kadepa yang sejak beberapa pekan lalu berada di Yogyakarta membenarkan kabar tersebut. Ia mengatakan, informasi itu benar.

“Memang informasi itu benar. Pak Gubernur sudah melihat sendiri. Saya berpendapat, kedepan akan ada masalah lebih besar dari yang sudah terjadi, jika orang Yogya maupun orang Papua tidak intropeksi diri. Segalah upaya sudah dilakukan,” kata

Katanya, DPR Papua tak hanya bertemu Kapolda Yogyakarta, tapi juga Sri Sultan Hamengkubuwono. Namun belum ada jaminan perlindungan dan keselamatan untuk mahasiswa Papua yang pro demokrasi.

“Gubernur juga sudah bertemu mahasiswa Papapua di Asrama Kamasan 1 Yogyakarta. Setelah itu Gubernur menemui Sultan dikediamannya. Namun hanya Gubernur sendiri yang diijinkan menemui Sultan,” ucapnya.

Dari informasi yang diperoleh kata Kadepa, dalam pertemuan itu Sulta mengatakan kepada Gubernur Enembe, kalau Yogyakarta yang pernah menjadi ibu kota negara, tidak bisa dijadikan tempat menyampaian aspirasi menuntut kemerdekaan Papua. Meskipun, kebebasan menyampaikan pendapat dilindungi oleh konstitusi. Yogya adalah Indonesia.

“Itu kata Sultan. Sultan berpendapat, menyampaikan ekspresi harus di dalam asrama mahasiswa Papua, Kamasan I. Jangan keluar,” katanya.

Terpisah legislator Papua yang juga bagian dari Tim DPR Papua ke Yogyakarta, Wilhemus Pigai mengapreasiasi Gubernur Enembe yang mau datang langsung ke Yogya mendengar langsung keluh kesah mahasiswa Papua selama studi di kota itu dan melihat langsung kondisi mereka pasca insiden 15 Juli 2016 di Asrama Kamasan I Yogya serta bisa beraudensi dengan sultan.

“Kami harap kehadiran Gubernur di Yogya bisa memastikan kalau anak-anak Papua yang studi di sana bisa merasa kemanan dan nyaman. Semoga kehadiran Gubernur memberikan sinyal kepada Pemerintah D.I.Y maupun pihak lain termasuk masyarakat setempat kalau apapun yang terjadi terhadap mahasiswa Papua, Pemprov Papua tak menutup mata. Tak hanya mahasiswa di Yogya tapi se Jawa, Bali dan daerah di luar Papua,” kata Pigai.

Ia juga berharap, dengan adanya pertemuan antar Gubernur Papua, Sultan bisa mengklarifikasi pernyataannya yang menyebut tak boleh ada separatis di Yogya agar tak bermaksud menggenalisir semua mahaiswa Papua dan orang Papua di Yogya tapi ditujukan kepada oknum.

“Saya harap sudah ada klarifikasi dari Sultan kepada gubernur Papua. Saya juga minta anak-anak Papua di Yogya dan kota studi lain agar lebih kosentrasi studi. Jangan terlibat hal-hal yang tak diinginkan,” ucapnya.

Dikatakan, tak hanya masalah keamanan dan kenyamanan, mahasiswa Papua juga menyampaikan. kepada tim Komisi I DPR Papua lalu jika mereka dipersulit ketika akan membuka rekening bank. Mereka tak dilayani jika tak ada Kartu Tanda Penduduk (KTP).

“Ketika mereka menunjukkan KTP, mereka tetap tak diterima. Sementara di Papua dengan mudahnya orang mendapatkan KTP dan akses untuk apa saja diipermudah. Kenapa di yogya dipersulit. Saya minta Gubernur Papua bekerjasama dengan pemerintah daerah masing-masing kota studi. Baik di Jawa, Bali, maupun Sulawesi dan provinsi lain agar anak-anak Papua yang studi di sana tak dipersulit dalam akses kemana saja,” katanya. (*)

Editor : Kyoshi Rasiey
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Dihadapan Gubernur, Mahasiswa Papua di Yogya Dirazia