Imitasi, Cara Tepat Lindungi Cenderawasih

share on:
Burung Cenderawasih, hewan langka endimik Papua, ternyata banyak dijual secara ilegal - pernikdunia.com
Burung Cenderawasih, hewan langka endimik Papua, ternyata banyak dijual secara ilegal – pernikdunia.com

Jayapura, Jubi – Pembuatan aksesori atau cenderamata dari bulu burung cenderawasih menjadikan populasi burung surga ini perlahan punah. Maka dari itu, penjual cenderamata di Papua menyiasatinya dengan bulu-bulu ayam; yang seolah-olah semacam bulu cenderawasih, dengan tidak menghilangkan maknanya. Misalnya pembuatan mahkota.

Hal itu diaku penjual cenderamata mahkota cenderawasih, Frederika Rumkoren, ketika diwawancarai Jubi di lokasi Festival Teluk Humbolt, Pantai Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Kamis (4/8/2016).

“Saya sudah memulainya sejak masih duduk di bangku SMP tahun 1990-an,” katanya.

Sejak itu ia bergabung dalam sanggar dan dilatih untuk membuat imitasi bulu ayam dalam pembuatan aksesori khas Papua.

“Saya belajar membuat imitasi awalnya dengan daun-daunan. Setelah itu mencari bulu ayam kampung, kemudian membuat sendiri, kemudian kami menancap bulu-bulu ayam di karton,  kemudian dijadikan mahkota untuk kepala,” lanjutnya.

Bahan dasar pembuatan cenderamata ini, yaitu, kulit kayu, karpet,  tikar biasa, kain batik.

“Bulu ayam warnanya cokelat, hitam, yang warnanya asli. Kemudian bulu kasuari, semuanya dibeli. Hasil buatan ini dikirim sampai ke Yogyakarta,” katanya.

Cenderamata jenis ini bahkan laku di pasar, terutama saat festival budaya semisal Festival Danau Sentani dan Teluk Humbolt.

“Saat FDS tahun 2015 saya dapat Rp 5 juta dalam lima hari. Peminat imitasi bulu ayam ini banyak orang non Papua sebab modelnya tak beda jauh dengan cenderawasih,” ujarnya.

Saat FDS di Sentani kemarin aksesori yang laku terjual ialah motif dari Biak dan Sentani dengan harga Rp 50 ribu sampai Rp 250 ribu. Jenis bulu ayam Rp 50 ribu dan bulu kasuari sekitar Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu.

Sebelum menikah, tahun 2010-2014, saya menjual aksesori ini keliling Papua. Kami membuat ini agar orang tidak lagi memburu cenderawash,” kata pemilik ‘Art Shop’ khas Papua.

Aktivis pendidikan Papua Alfonsa Wayap mengatakan sudah saatnya membuat cenderamata imitasi. Dikatakannya, dalam setahun jika cenderawasih dibunuh maka burung kebanggaan Papua ini akan punah.

“Saya berharap imitasi bagus untuk dilakukan untuk menyelematkan burung cenderawasih. Untuk pejabat, harus sadar agar tidak lagi menggunakan cenderawasih dalam acara-acara resmi, justru pemerintah yang berinisiatif membuat imitasi seperti itu,” katanya. (*)

Editor : Timoteus Marten
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Imitasi, Cara Tepat Lindungi Cenderawasih