Setiap Bulan, 9 Sampai 10 Anak di Lampung Jadi Korban Kekerasan

share on:
Ilustrasi kampanye melawan kekerasan seksual – perempuanmahardhika.wordpress.com
Ilustrasi kampanye melawan kekerasan seksual – perempuanmahardhika.wordpress.com

Bandarlampung, Jubi – Kasus kekerasan terhadap anak di Provinsi Lampung masih terus terjadi dan kian mengkhawatirkan, baik terungkap ke publik maupun yang tersembunyi.

Beberapa hari lalu, Rumah Sakit Umum Daerah Dr H Abdul Moeloek Bandarlampung merawat gadis di bawah umur yang diduga menjadi korban penganiayaan dan pelecehan seksual.

Hingga Senin (8/8/2016), pihak RSUDAM itu belum dapat mengetahui identitas pasien tersebut, mengingat anak gadis yang diperkirakan berusia 12 tahun itu kondisinya masih belum bisa makan dan minum karena bagian bibirnya masih luka.

Gadis itu diduga mengalami kekerasan dan pemerkosaan. Ia ditemukan warga di pinggiran trotoar depan pusat grosir pakaian Mangga Dua, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Telukbetung Selatan, Selasa (2/8).

Saat ditemukan, kondisi gadis itu sangat memprihatinkan, mengalami luka di bagian bibir, wajah dan bagian kemaluannya serta bagian tubuhnya dipenuhi luka lebam, rambutnya tampak bekas dipotong secara paksa.
Lembaga Advokasi Anak (LAdA) dan Lembaga Advokasi Perempuan Damar mencatat sebanyak 21 kasus kejahatan seksual terhadap anak di Lampung terjadi dalam kurun waktu lima bulan pertama 2016.

Sebanyak 49 anak menjadi korban, dua di antaranya meninggal dunia. Artinya, sembilan sampai 10 anak di Lampung menjadi korban kekerasan seksual setiap bulan.

Direktur Eksekutif LAdA Lampung, Turaihan Aldi, menilai, kasus kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak di Lampung terbilang mengkhawatirkan.

Menurutnya, selain di lingkungan keluarga, di sekolah pun anak-anak bisa menjadi korban kekerasan, seperti kekerasan seksual terhadap siswi TK di Kota Metro diduga melibatkan penjaga sekolah.

“Sepertinya tidak ada lagi tempat yang aman bagi anak untuk tumbuh kembang, mengingat di tempat tinggalnya sendiri, anak bisa menjadi korban orang tua maupun keluarga dekatnya,” katanya pula.

LAdA-Damar meminta pemerintah, penegak hukum, dan masyarakat dapat menjadi jejaring yang efektif untuk mencegah kejahatan seksual terhadap anak sejak dini, sekaligus memberikan pemahaman terhadap kelompok masyarakat sipil tentang UU Perlindungan Anak dan Hak-Hak Anak.

Per 1 Mei 2016, berdasarkan data kasus yang ditangani Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), Lamban Indoman Putri, Provinsi Lampung, telah terjadi 85 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tahun 2016 ini diperkirakan akan lebih banyak kasus kekerasan dibandingkan tahun 2015.

“Tahun lalu, hingga Desember telah terjadi 95 kasus” demikian menurut Dra Heni Astuti MIP, Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Lampung.(*)

Editor : Zely Ariane
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Setiap Bulan, 9 Sampai 10 Anak di Lampung Jadi Korban Kekerasan