Masyarakat Adat "Gadungan" Korbankan Masyarakat Adat Papua

share on:
Ilustrasi Orang Asli Papua yang merupakan masyarakat adat Papua - Jubi/IST
Ilustrasi Orang Asli Papua yang merupakan masyarakat adat Papua – Jubi/IST

Jayapura, Jubi – Anggota Legislator Papua Laurenzus Kadepa menyikapi Hari Masyarakat Adat se Dunia yang diperingati setiap 9 Agustus. Ia  menilai, hingga kini masyarakat adat Papua yang sesungguhnya belum mendapat perhatian pemerintah.

“Hak-haknya belum diakomodir, justru mereka sering dikorbankan dalam berbagai kebijakan,“kata Anggota Komisi I DPR Papua bidang Pemerintahan, Politik, Hukum dan HAM .

Dia mengatakan, di Tanah Papua seringkali ada pihak-pihak yang  menamakan dirinya sebagai masyarakat adat untuk berbagai kepentingan. Hal ini kata dia hadirnya masyarakat adat “gadungan” itu menyebabkan mereka yang benar-benar murni masyarakat adat akhirnya menjadi korban.

“Selamat hari masyarakat adat se dunia, 9 Agustus 2016. Di Papua hingga kini tidak pernah ada ruang untuk masyarakat adat yang sesungguhnya ketika akan menuntut dan mendapatkan hak-hak mereka. Mereka yang mengatasnamakan adat banyak di Papua. Akibatnya, masyarakat adat yang murni korban,” kata Kadepa via teleponnya kepada Jubi, Selasa (9/8/2016).

Cilakanya, kata dia mereka yang mengatasnamakan masyarakat adat justru mendapat perhatian dari para stakeholder. Sementara masyarakat adat yang sesungguhnya, lanjut Kadepa  masyarakat adat yang benar-benar murni, mengakar di masyarakat dan sudah ada dalam tatanan adat sejak jaman dulu, sejak nenek moyang mereka, sebelum sistem pemerintahan ada di Papua, justru dikesampingkan.

“Mereka dikorbankan. Pemerintah belum mampu memproteksi masyarakat adat yang sesungguhnya. Mereka dikorbankan untuk berbagai kepentingan. Mulai dari kepentingan ekonomi, pembangunan hingga politik,”katanya.

Katanya, para pemangku kepentingan tahu, banyak pihak yang mengatasnamakan adat, namun karena kepentingan tertentu, pemerintah kelihatannya menutup mata akan hal tersebut.

“Akibatnya justru mengorbankan masyarakat adat yang sebenarnya dan diakui dalam tatanan adat yang sudah ada sejak dulu,” katanya.

Hal yang tak jauh berbeda dikatakan legislator Papua lainnya, Ruben Magai. Ia mengatakan, masyarakat adat Papua terus dirugikan akibat kebijakan investasi dan lainnya. Kekayaan alam Papua terus dikeruk, namun masyarakat adat Papua tak mendapat keuntungan.

“Misalnya saja kayu di hutan masyarakat adat, diambil dan dijual ke luar Papua dengan harga hingga ratusan juta bahkan miliaran. Tapi apa yang didapat oleh masyarakat adat. Tidak ada,” kata Magai.

Dia menambahkan masyarakat adat Papua tak bisa berbuat banyak. Mereka tak berdaya untuk melindungi kekayaan alamnya. “Ketika masyarakat adat menuntut haknya, berbagai macam stigma diberikan kepada mereka,”katanya. (*)

Editor : dominggus
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Masyarakat Adat "Gadungan" Korbankan Masyarakat Adat Papua