Dinkes Papua Lakukan Pelatihan dan Sosialisasi IVP Suntik

share on:
Proses pemberian vaksin PIN Polio dari Puskesmas Abepura yang berlangsung di Saga Mall Abepura beberapa waktu lalu – Jubi/Roy Ratumakin.
Proses pemberian vaksin PIN Polio dari Puskesmas Abepura yang berlangsung di Saga Mall Abepura beberapa waktu lalu – Jubi/Roy Ratumakin.

Jayapura, Jubi – Sejak diberlakukannya Introduksi Vaksin Polio (IVP) Suntik oleh Menteri Kesehatan (Menkes) RI, Menkes Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M 4 April 2016 lalu tentang peralihan vaksin polio tetes ke vaksin polio suntik, pihak Dinas Kesehatan Provinsi Papua melalui Seksi Pengedalian Penyakit Tidak Menular (PPTM) dan Imunisasi gencar melakukan pelatihan dan sosialiasi untuk tenaga imunisasi di beberapa daerah di Provinsi Papua.

Kepala Seksi Pengedalian Penyakit Tidak Menular (PPTM) dan Imunisasi, Togu Sihombing kepada Jubi, Jumat (12/8/2016) mengatakan, pihaknya telah melakukan pelatihan dan sosialisasi tahap pertama di tujuh wilayah diantaranya, Kabupaten Jayawijaya, Nduga, Yalimo, Yahukimo, Tolikara, Mamberamo tengah dan Lanny Jaya.

“Disamping kami kelakukan pelatihan cara pemberian IVP kami juga memberikan pelatihan bagaimana cara aman menyimpan vaksi tersebut,” katanya kepada Jubi, Jumat (12/8/2016) diruang kerjanya.

Katanya, ada beberapa petugas kesehatan, khususnya tenaga imunisasi yang belum tahu betul cara penyimpanan vaksin agar tidak rusak.

“Ketika kami lakukan sidak beberapa waktu lalu, ada beberapa Puskesmas maupun Pusat Pelayanan Terpadu (Pustu) petugasnya tidak tahu cara penyimpanan vaksi dengan benar dan baik,” ujarnya.

Sihombing mengatakan, petugas imunisasi harus memperhatikan beberapa hal diantaranya pengaruh suhu yang dapat menurunkan potensi dan efikasi vaksin jika disimpan pada suhu yang tidak sesuai.

“Pengaruh sinar matahari juga berpengaruh karena akan menyebabkan vaksin rusak. Selain itu juga suhu di dalam Cold Room (tempat penyimpanan vaksin) harus 2 oC s/d 8 oC untuk vaksin BCG, Campak, DPT, TT, dan lain-lain, sedangkan suhu -20 oC untuk vaksin Polio,” katanya.

Setelah hal-hal tersebut dilaksanakan, bukan berarti sudah selesai, para petugas imunisasi juga harus melakukan pemantauan terhadap suhu di dalam Cold Room secara berkala serta melakukan pengaturan stok (Inventory Control).

Dijelaskan program imunisasi ini merupakan salah satu program kesehatan yang paling efektif dalam pembangunan kesehatan terutama untuk mencegah penyakit, kecacatan dan kematian yang disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Tujuan Program imunisasi hanya dapat dicapai dengan cakupan imunisasi yang tinggi dan merata.

Ia menambahkan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio yang dilakukan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia pada 8-15 Maret 2016 lalu, berlangsung dengan baik dengan cakupan 95,6 persen.

“Saya mengapresiasi apa yang dilakukan teman-teman petugas imunisasi yang melakukan imunisasi terhadap anak-anak dengan cara menjemput bola. Artinya, kami inginkan masyarakat Papua harus bebas dari Polio,” ujarnya.

Petugas Kesehatan di Puskesmas Abepura, Wilhelmina Balin mengatakan selama Pekan PIN Polio yang dilaksanakan beberapa bulan lalu, pihaknya melakukan vaksin keliling di beberapa sekolah PAUD yang ada di wilayah Abepura hingga ke mall-mall.

“Kami ingin menjemput bola. Kami tidak mau anak-anak sekarang tidak mendapatkan PIN Polio, apalagi waktu yang ditetapkan pemerintah sangat terbatas waktu itu,” katanya.

Ia menambahkan antusiasme orang tua untuk memberikan PIN Polio kepada anaknya cukup tinggi.

“Kami bisa melayani 50 hingga 100 anak satu jam pelayanan,” katanya. (*)

Editor : Kyoshi Rasiey
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Dinkes Papua Lakukan Pelatihan dan Sosialisasi IVP Suntik