Penjual Nangka itu Membeli Mobil

share on:
Yohanes Iwanembut berdiri di samping Pick Upnya dengan jualan yang masih menanti pembeli (Jubi/Mawel)
Yohanes Iwanembut berdiri di samping Pick Upnya dengan jualan yang masih menanti pembeli (Jubi/Mawel)

Jayapura, Jubi – Siapa sangka Yohanes Iwanembut yang berjualan nangka dipinggiran jalan sekitar Kantor Bupati Jayapura itu bisa membeli mobil Pick Up dari hasil berjualan nangka ini.

“Pada 31 Juli 2016, saya lunasi. Saya sudah bawa pulang BPKP mobil,” ungkapnya mengawali kisahnya membeli Pick Up seharga 160 an juta itu kepada Jubi di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Rabu (10/08/2016)

Kata dia, dirinya berjualan nangka dari kampungnya Genyem sejak empat tahun lalu. Ia mengawali usaha itu dengan modal semangat, kebun nangka miliknya dan kendaraan roda dua.

Kata dia, kendaraan roda dua itu menjadi transport utama pergi pulang Genyem untuk berjuaan setiap hari, kecuali hari Minggu. Setahun berjalan, hasil jualan makin laris. Ia mesti membawa nangka lebih banyak lagi setiap hari.

Karena itu, dia berfikir memilik kendaraan roda empat. Ia mengajukan proposal kredit modal ke bank Rakyat Republik Indonesia namun tidak berhasil lantaran syaratnya yang ditentukan agak merugikan pihaknya.

“Saya baca syaratnya terlalu merugikan saya. Saya batal pinjam uang ke Bank waktu itu,” ungkapnya.

Ia kembali berjualan dengan kendaraan roda dua. Tanpa dia duga, pihak diler Pick Up Toyota mendatanginya menawari kredit kendaraan.

“Siapa yang kasih tau mereka, saya tidak tahu. Mungkin mereka baca media yang pernah tulis tentang saya. Mereka minta saya masukan persyaratan. Saya masukan dengan setoran awal 25 juta,” ungkapnya.

Permohonannya diterima. Ia membawa mobil pick untuk meningkatkan usaha. Tiga tahun dia mengunakan Pick Up. Pergi pulang Genyem mengembangkan bisnis jualan nangka sambil cicil angsuran mobil. Akhirnya lunas juga.

“Pada 31 Juli kemari saya sudah bawa pulang BPKP mobil. Saya bisa membeli ini hanya karena kerja keras dan tindakan. Tindakan itu uang. Bukan ada uang dulu baru bertindak,” ungkapnya.

Dominikus Surabut, Sekretaris Dewan Adat Wilayah Lapago mengatakan usaha Yohanes layak diapresiasi. Bukan hanya diapresiasi melainkan layak menjadi contoh bagi orang Papua yang lain.

“Orang Papua itu sebenarnya bisa sukses, hanya komitmen dan semangatnya untuk berusaha kurang. Semangat yang kurang itu akibat dari pembangunan yang tidak memberdayakan dan yang memanjakan masyarakat dengan berbagai bantuan,” ungkapnya. (*)

Editor : Kyoshi Rasiey
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Penjual  Nangka itu Membeli Mobil