Teguh Ostenrik : Papua Itu Sudah Terlalu Lama Dijajah Jawa

share on:
Konstruksi patung Corpus Christi saat dibangun di Gereja St.Yohannes Maria Vianney, Cilangkap - tempo.co
Konstruksi patung Corpus Christi saat dibangun di Gereja St.Yohannes Maria Vianney, Cilangkap – tempo.co

Jayapura, Jubi – Pelukis dan pematung lulusan Fine Arts Hochschule der Kuenste, Berlin, Jerman ini boleh disebut sebagai salah satu perupa terbaik Indonesia. Karya lukis maupun patungnya sudah banyak dikoleksi oleh kolektor maupun diulas oleh kurator seni rupa Indonesia maupun luar Indonesia.

Tapi siapa yang tahu jika Teguh Ostenrik, punya pendapat sendiri tentang Papua dan Orang Asli Papua yang mendiami bagian barat pulau yang sebelumnya dikenal dengan nama Nueva Guinea ini.

Di rumah, sekaligus studionya, yang terletak di kawasan Cilandak Barat, tampak desain dari tiga patung karyanya yang menghiasi Gereja St.Yohannes Maria Vianney di Cilangkap. Salah satunya adalah patung Corpus Christi yang diakuinya terinspirasi dari orang Papua.

“Yesus yang saya buat adalah Yesus dari Papua,” katanya kepada Tempo, setahun lalu.

Model wajah Yesus yang umum di seluruh dunia diabaikannya dalam pembuatan patung Corpus Christi. Baginya, sosok Yesus tak mesti berhidung mancung, berdagu lancip, berambut ikal, dan berjanggut lurus. Demi melawan itu semua, Teguh menjadikan wajah orang Papua sebagai model.

Tinggi patung Yesus fenomenal tersebut mencapai 5,30 meter. Patung ini menggunakan bahan dasar limbah besi dengan berat mencapai 1 ton untuk membuat patung ini.

“Itu figur emansipator. Soalnya Papua itu sudah terlalu lama dijajah Jawa,” katanya memberikan penjelasan kepada rumah123.com pekan lalu.

Teguh menambahkan salah satu bentuk intimidasi yang diterima oleh orang Papua  lebih pada warna kulit orang Papua yang lebih gelap. “Padahal orang-orang Papua itu lebih santun,” ungkapnya.

Ia juga yakin, sikap orang Papua itu lebih beradab ketimbang penilaian negatif dari kebanyakan orang. “Sebuah permainan sepak bola yang dimainkan orang-orang Papua adalah contoh nyatanya,” kata Teguh lagi.

Dijelaskannya, dalam permainan sepakbola yang dimainkan oleh anak-anak Papua, skor yang dihasilkan selalu sama. Ini ia dengar dari kawannya seorang pastor di Papua.

“Mereka, sudah terbiasa hidup berdampingan dengan damai. Bermain sepak bola pun selalu berusaha menghasilkan skor yang sama,” lanjut Teguh. (*)

Editor : -
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Teguh Ostenrik : Papua Itu Sudah Terlalu Lama Dijajah Jawa