WCC Minta Pemerintah Tinjau Ulang Usia Pernikahan Perempuan

share on:
Ilustrasi kampanye melawan pernikahan dini - IST
Ilustrasi kampanye melawan pernikahan dini – IST

Palembang, Jubi – Pusat Pembelaan Hak-hak Perempuan atau “Women`s Crisis Centre” Palembang, Sumatera Selatan, meminta pemerintah meninjau ulang batas usia minimal pernikahan terutama perempuan.

Batas usia minimal seseorang boleh menikah, sesuai dengan ketentuan hukum di negara ini, jika sudah dikategorikan dewasa, dibuktikan dengan kartu tanda penduduk atau berusia sekitar 17 tahun, kata Ketua “Women`s Crisis Centre” (WCC) Palembang, Yeni Roslaini Izi, di Palembang, Rabu (17/8/2016).

Namun, dia mengatakan, dalam kondisi usia tersebut perempuan secara medis belum memiliki perangkat reproduksi yang matang/sempurna untuk mengandung dan melahirkan anak.

Selain belum memenuhi persyaratan medis, perempuan yang usianya masih tergolong muda itu belum memiliki kesiapan mental untuk melayani suami dan menjadi ibu atau mengurus anak-anaknya, katanya.

Menurut dia, perempuan memiliki kesiapan mental dan memenuhi persyaratan medis atau memiliki perangkat alat reproduksi yang matang dalam usia di atas 21 tahun.

Berdasarkan kondisi tersebut pihaknya meminta kepada pemerintah untuk melakukan revisi batas usia minimal pernikahan, “dengan mempertimbangkan kesiapan mental seorang perempuan dan perangkat reproduksi sesuai dengan persyaratan medis”, ujarnya.

Dia menjelaskan, berdasarkan data yang dihimpun WCC, perempuan yang menikah di bawah 20 tahun banyak mengalami masalah dalam rumah tangganya dan mengancam kesehatannya. Perempuan dari pasangan muda yang menjalin hubungan rumah tangga atau pernikahan pada usia dini, juga sangat rentan menjadi korban tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Perempuan dan laki-laki yang menikah dalam usia relatif muda masih belum bisa mengendalikan emosinya dengan baik, sehingga ketika terjadi pertengkaran biasanya tidak segan-segan suami main pukul atau melakukan tindak kekerasan terutama terhadap istri”, kata dia.

Dia juga mengatakan bahwa perempuan yang menikah dalam usia muda banyak mengalami gangguan kesehatan perangkat reproduksi seperti kanker payudara dan serviks.

Untuk melindungi kaum perempuan dan mencegah semakin banyak yang menjadi korban tindak kekerasan atau gangguan kesehatan reproduksi, akibat menikah dalam usia relatif muda, lanjutnya, “ketentuan batas usia minimal pernikahan perlu direvisi karena sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman:”, kata Yeni.(*)

Editor : Zely Ariane
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  WCC Minta Pemerintah Tinjau Ulang Usia Pernikahan Perempuan