Jurnalis Tolak Arogansi TNI

share on:

Tampak puluhan jurnalis yang menggelar demo di Sorong - Jubi/Florence Niken
Tampak puluhan jurnalis yang menggelar demo di Sorong – Jubi/Florence Niken
Sorong, Jubi – Puluhan wartawan di Sorong, Papua Barat menggelar demo untuk mendesak Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) XIV Sorong agar mengklarifikasi larangan liputan pemusnahan kapal asing di perairan Raja Ampat.

Mereka membawakan spanduk dan pamflet berwarna putih dengan huruf merah-merah. Salah satu spanduk bertuliskan “Jurnalis Tolak Arogansi TNI”. Sementara lainnya “Oknum TNI Jangan Tindas UU Pers dan KIP”, “Jurnali Belum Merdeka di Usia Kemerdekaan RI Ke-71”, dan berbagai tulisan lainnya.

“Aksi ini dilakukan dengan mengedepankan aturan standar yang berlaku dengan melakukan koordinasi kepada pihak terkait serta meminta klarifikasi Danlantamal, mengingat TNI juga merupakan mitra sehingga aksi dilakukan dengan damai,” kata Ketua PWI Sorong, Ruben Isir di Sorong, Jumat (19/8/2016).

Pada peringatan HUT ke-71 kemerdekaan RI, Rabu (17/8/2016) Lantamal XIV Sorong melarang wartawan untuk meliput pemusnahan kapal berbendera asing yang terlibat penangkapan ikan secara ilegal.

Disebutkan pelarangan itu atas perintah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Danlantamal XIV Sorong, Laksamana S. S. Panjaitan mengklaim sudah mengklarifikasi larangan wartawan meliput pemusnahan kapal asing yang ditangkap beberapa bulan lalu itu.

“Kamis (18/8) siang, bertempat di Mako Lantamal Sorong sudah ada penjelasan kepada rekan-rekan wartawan,” katanya seperti ditulis Antara, Jumat (19/8/2016).

Menurut dia, sudah ada penjelasan kepada rekan-rekan pers terkait hal tersebut dari anggota satuan tugas (satgas) KKP 115 yang sudah beberapa hari ini berada di Sorong.

“Mohon maaf kami prajurit harus taat perintah,” katanya.

Salah seorang jurnalis yang ditemui Jubi saat demo, Wahyudi, Jumat siang mengaku kecewa atas penolakan peliputan pemushan kapal asing tersebut.

“Harusnya pihak Lantamal memberikan penjelasan tentang pelarangan liputan bagi awak media pada saat itu,” kata Wahyudi, dari RRI Sorong.

Sebagai jurnalis dirinya sedang menjalankan tugas untuk memperoleh informasi. Maka tidak seharusnya dilarang, apalagi peristiwa itu di ranah publik.

Aksi yang dimulai dari taman D.E.O. (Domine Eduard Osok) Sorong ini berjalan dengan tertib tanpa pengawalan pihak terkait hingga mereka membubarkan diri. (Florence Niken)

Editor : Timoteus Marten
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Jurnalis Tolak Arogansi TNI