Mahasiswa Antropologi Angkat Budaya Papua Lewat Esai

share on:
Mahasiswa Antropologi Uncen angkatan tahun 2016 saat mengikuti pelatihan jurnalistik dasar dengan pendekatan budaya Papua dengan pengampunya Andi Tagihuma dari Komunitas Sastra Papua di Lab Antropologi Uncen, Senin (22/8/2016). - Jubi/Yuliana Lantipo
Mahasiswa Antropologi Uncen angkatan tahun 2016 saat mengikuti pelatihan jurnalistik dasar dengan pendekatan budaya Papua dengan pengampunya Andi Tagihuma dari Komunitas Sastra Papua di Lab Antropologi Uncen, Senin (22/8/2016). – Jubi/Yuliana LantipoUncen

 Jayapura, Jubi – Mahasiswa Antropologi dari Universitas Cenderawasih mengangkat budaya Papua melalui penulisan esai. Sebanyak 51 mahasiswa belajar mengenal unsur-unsur budayanya masing-masing dan menggambarkannya melalui tulisan.

Unsur-unsur budaya itu adalah bahasa, kesenian, religi, sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem teknologi, dan sistem geoantropologi.

Andi Tagihuma dari Komunitas Sastra Papua, yang mengampu pelatihan jurnalistik bagi mahasiswa antropologi angkatan 2015/2016 itu mengarjarkan mahasiswa tentang metode penulisan dengan pendekatan budaya dan bergaya esai.

“Saya memberikan materi menulis esai, karena menulis esai paling mudah dari semua metode menulis yang ada seperti opini,” kata Andi saat ditemui Jubi usai pelatihan di Lab Antropologi Uncen, Senin (22/8/2016).

Andi mengatakan, esai tidak memiliki bentuk baku dalam hal menulis dan banyak penulis serius yang menulis dalam bentuk esai, seperti Gus Dur dan Ignas Kleden. Menurtnya, metode ini cocok diterapkan bagi peserta pelatihan tersebut.

“Esai ini tidak baku pada bentuk tulisan, dia bisa bergaya apa saja, itu yang saya ajarkan kepada mahasiswa baru supaya mereka juga mulai belajar menulis tentang kehidupan di Papua karena kita lebih paham Papua sehingga kita perlu menulis tentang Papua. Kalau orang lain yang menulis tentang Papua sering bias dan tidak pas,” tuturnya.

Andi telah menjadi pengampu penulisan jurnalistik bagi mahasiswa sejak 2009. Ia mengatakan, pelatihan jurnaslistik itu menjadi pengenalan awal bagi mahasiswa baru dan mereka akan melanjutkan belajar dengan ikut dalam komunitas penulis sastra Papua dan komunitas belajar lain di lingkungan kampus.

Manfaat

Pelatihan jurnaslistik, meski dalam waktu terbatas, diakui memberikan manfaat yang beragam bagi pesertanya. Mulai dari mengenal metode penulisan, mengenal lebih dekat dengan identitas diri sebagai budaya sampai mendapat ‘makanan gratis’.

Gilbert Papuko, mahasiswa antropologi angkatan 2014 itu mengatakan melalui pelatihan menulis, ia jadi tahu dasar-dasar menulis yang kemudian diterapkannya dalam membuat tugas-tugas penulisan dari kampus.

“Tugas-tugas dari dosen biasanya minta mahasiswa buat esai, misalnya esai dari suku-suku yang ada di Papua. Dulu, saya dapat tugas itu dan setelah belajar menulis, saya rasa manfaatnya, sekarang saya bisa tulis sendiri,” aku Gilbert.

“Buat saya, jadi tahu cara tulis yang baik dan benar. Alur ceritanya, bagaimana penempatan bahasa, titik, koma yang biasa orang anggap sepeleh padahal itu sangat penting dan pengaruhi tulisan kita,” ujarnya.

Gilbert mengaku, adanya peningkatan kemampuan dalam menulis, juga membawa keberuntungan lain. “Karena bisa menulis juga, saya jadi punya pekerjaan tambahan. Kadang-kadang teman lain minta bantuan ke saya, saya bisa dapat uang, kadang juga ditraktir makan,” ucapnya.

Manfaat lain dialami Yuliana Manmpioper. Setelah belajar menulis dengan pendekatan budaya, mahasiswi antropologi angkatan 2016 ini berniat menulis tentang pemberian nama keluarganya, Manmpioper, dari daerah Biak, Papua Barat.

“Saya belajar tentang bagaimana saya harus mengenal unsur-unsur budaya yang ada di sekitar saya atau dari daerah asal. Misalnya dari daerah saya, Biak. Untuk tugas menulis, saya akan buat tentang marga keluarga saya, “Mampioper”, ucap Yuliana.

Yuliana menjelaskan, marga Manmpioper dalam bahasa Biak berasal dari dua kata yaitu Manm berarti burung dan Pioper berarti putih.

“Jadi, dalam bahasa Indonesia itu berarti Burung Putih. Kalau bahasa Biak jadi Manmpioper. Manmpioper bisa jadi marga karena tete atau moyang kita itu orang kulit putih semua. Jadi, mereka ambil dari burung putih dan warna kulit putih, jadi Manmpioper,” ucap Yuliana, yang berasal dari Kampung Sambar.

Peserta lainnya adalah Salmon Kepno, dari daerah Yalimo. Ia mengatakan akan menulis sebuah esai tentang budaya yang biasa dilakukan orangtua laki-laki terhadap anak laki-laki. Salah satunya adalah berburu.

Salmon berencana memulai dengan menuliskan tentang cara membuat panah dan busur hingga masuk ke hutan untuk berburu.

“Biasanya anak laki-laki, umur 8 tahun itu ikut bapa keluar, kita ke hutan. Bapa tembak burung atau hewan buruan, dia tidak langsung panah untuk mati, tapi untuk lumpuhkan saja. Kalau burung itu sudah jatuh, nanti anak kecil disuruh untuk panah sendiri sampai binatang buruan itu mati. Kalau sudah remaja atau pemuda, laki-laki masuk hutan sendiri, lepas dari orangtua untuk berburu,” ujarnya. (*)

 

 

 

 

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Mahasiswa Antropologi Angkat Budaya Papua Lewat Esai