Biak Numfor Masuk Kajian Lokasi Bandara Antariksa Pertama di Indonesia

share on:
Ilustrasi Bandara Antariksa Nasional – lapan.co.id
Ilustrasi Bandara Antariksa Nasional – lapan.co.id

Jayapura, Jubi – Biak Numfor masuk menjadi salah satu lokasi yang sedang dikaji untuk pendirian Bandara Antariksa pertama di Indonesia. Rencana pembangunan bandara peluncuran roket dan satelit untuk kepentingan sipil itu sedang di tahap studi kelayakan oleh Lembaga Antariksa Nasional (LAPAN).

Sesuai UU 21/2013 tentang Keantariksaan, LAPAN dimandatkan membangun Bandara Antariksa Nasional di wilayah Republik Indonesia, demikian dijelaskan Husni Nasution, Tim Kajian Bandara Antariksa LAPAN kepada Jubi, Selasa (23/8/2016).

“Kita diamanatkan membangun Bandara Antariksa di NKRI.  Lalu itu dijabarkan di dalam Rencana Induk, tetapi masih tahap kajian. Kami sedang mengkaji Morotai, Enggano, dan Biak. Namun Enggano dipastikan tidak memenuhi syarat geografis,” ujar Husni melalui sambungan telpon.

Menurut dia Biak menjadi salah satu pilihan lokasi, selain strategis dan sesuai kebutuhan syarat geografis sebuah Bandara Antariksa, juga karena LAPAN sudah memiliki lahan di pulau itu.

“Karena kita ada di areal khatulistiwa tentunya kita cari yang baik, karena bandara itu mesti ada di daerah ekuatorial yang posisinya 0 derajat,” kata Husni.

Sebelumnya Adriana Elizabeth, peneliti senior LIPI, yang turut dimintai pendapat oleh LAPAN terkait rencana pembangunan tersebut, mengatakan bahwa LAPAN cenderung akan memilih Biak sebagai lokasi pembangunan.

“Pilihannya sebetulnya Morotai dengan Biak. Tapi karena lebih strategis dan menghadap laut lepas, serta beberapa pertimbangan teknis geografis lainnya, kecenderungannya akan dipilih Biak,” ujar Adriana di sela-sela acara Papua Lawyers Club di Jayapura beberapa waktu lalu.

Adriana, berdasarkan informasi LAPAN, mengatakan 100 hektare lahan sudah disiapkan LAPAN untuk pembangunan tersebut.

Tetapi Husni mengaku lahan LAPAN di Biak kecil sekali dan tidak cukup dari apa yang diamanatkan UU, “apalagi disitu masyarakat sudah sangat padat,” kata dia.

Adriana mengkhawatirkan rencana tersebut, terlebih jika belum dikomunikasikan dengan masyarakat setempat. “Itu kan ada persoalan yang harus dikomunikasikan dengan masyarakat adat. Karena seringkali investasi itu benturan dengan masyarakat. Itu yang saya pikir perlu diperhatikan. Saya sudah menyarankan kepada LAPAN untuk bertemu dengan Ketua Dewan Adat, agar bicara tentang rencana pemerintah membangun bandara antariksa itu.”

Namun, mewakili tim kajian studi kalayakan Bandara Antariksa, Husni menegaskan pihaknya memang akan melibatkan pihak-pihak terkait seperti perguruan tinggi, masyarakat, dan Pemda.

“Ini masih tahap kajian, sementara masih bersifat internal, nanti pasti akan libatkan perguruan tinggi, masyarakat, Pemda dsb,” ujarnya.

Proyek yang akan memakan investasi besar itu tentu saja  tidak dapat dilakukan sendiri.  Menurut Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), yang dilansir merdeka.com (9/8) investasi yang dibutuhkan sangat besar dan harus bermitra dengan negara lain.

Terkait mitra investasi, Adriana Elizabeth mengklaim sudah ada investor yang tertarik melakukan pengembangan. “Investor yang tertarik untuk melakukan pengembangan itu dari RRT (Republik Rakyat Tiongkok), tapi Tiongkok mintanya tidak 100 Hektare, mungkin bisa sampai sekitar 700-an hektare.”

Adriana mengkhawatirkan, walaupun penting dari segi kepentingan kemanan negara, tapi dari segi kepentingan lokal berpotensi terjadi berbenturan.

“Kalau betul investasi itu dari Tiongkok, kan kita tahu rivalitas dunia saat ini kan antara RRT dengan AS. Nah kalau pengembangan teknologi itu ada di wilayah Indonesia, bagaimana posisi Indonesia terkait itu? Apalagi jika itu ada di Papua. Jadi ini kan korelasi persoalannya kan menjadi banyak sekali,” kata dia.

Ketika dikonfirmasi terkait calon investor, Husni mengaku pihak LAPAN belum ada. “Sejauh ini belum ada bayangan investasi, yang pasti tidak bisa bekerja sendiri,” ujarnya.

Berdasarkan keterangan LAPAN baru ada dua bandara antariksa di dunia saat ini yang memiliki lokasi strategis. Yakni, Bandar Antariksa Guyana di Kouruo, Prancis, dan Bandara Antariksa Alkantara, Brazil.

“Nanti Indonesia akan menjadi negara ketiga yang memiliki bandara antariksa yang bisa meluncurkan satelit dari garis khatulistiwa. Ini akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi negara ini,” ujar Thomas.(*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Biak Numfor Masuk Kajian Lokasi Bandara Antariksa Pertama di Indonesia