Connect with us

Seni Budaya

Biak Gelar Program ‘Seniman Masuk Sekolah’

Published

on

Ilustrasi seniman Papua - Jubi/Sindung

Ilustrasi seniman Papua – Jubi/Sindung

Biak, Jubi – Sebanyak 10 seniman di Kabupaten Biak Numfor, Papua, mengajarkan berbagai keterampilan kepada siswa SD hingga SMA/SMK dalam rangka mendukung Program Seniman Masuk Sekolah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2016.

Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Biak Numfor Mikha Ronsumbre di Biak, Kamis (25/8/2016), mengatakan program itu untuk mengembalikan pelajaran seni ke sekolah.

“Gerakan Seniman Masuk Sekolah akan diterjunkan ke sejumlah sekolah di Kabupaten Biak Numfor. Hal itu merupakan bagian dari salah satu upaya pelestarian budaya dan kegiatan unggulan yang diluncurkan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2016,” katanya.

Mikha mengatakan seniman lokal Biak dilibatkan mengajar kesenian pada kegiatan ekstrakurikuler sekolah di berbagai jenjang pendidikan.

Belasan seniman lokal Biak, katanya, akan mengajarkan lima kesenian, seperti tari, musik, teater, lukis, dan rupa.

Mikha berharap, dengan progam SMS kegiatan kebudayaan dan kesenian di berbagai sekolah dapat meningkatkan penyaluran minat dan bakat anak dalam bidang kesenian.

Gerakan nasional SMS itu, katanya, menjadi salah satu upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam membawa seni kembali pada sekolah.

Dia berharap program SMS turut membantu pengajaran seni di sekolah sekaligus melestarikan kesenian lokal pada daerah-daerah di Nusantara.

Para seniman yang melaksanakan program itu di berbagai sekolah di Kabupaten Biak Numfor akan mengajarkan seni rupa berupa pembuatan topi adat bermotif burung Cenderawasih, seni tari, serta seni drama atau teater. (*)

Seni Budaya

Pemprov Akan Fokus Penguatan dan Pembinaan Kebudayaan Papua

Published

on

Kabid Kebudayaan Dinas P&K Provinsi Papua, Yulianus Kuayo - Jubi/Abeth You

Kabid Kebudayaan Dinas P&K Provinsi Papua, Yulianus Kuayo – Jubi/Abeth You

Jayapura, Jubi – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadin P&K) Provinsi Papua, Elias Wonda melalui Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan, Yulianus Kuayo mengungkapkan, terkait pengelolaan kebudayaan di Provinsi Papua untuk ke depan pihaknya akan  mengevaluasi semua event yang ada di bidang pihaknya.

“Ke depan kami akan mengevaluasi semua event-event yang ada di bidang kebudayaan. Karena sekarang hampir sebagian kabupaten dan kota sudah punya event-event budaya seperti festival Baliem di Jayawijaya, festival Biak Munra Wamfasi di Biak Numfor, festival Danau Sentani di Kabupaten Jayapura. Maka, ke depan kami akan fokus penguatan dan pembinaan kebudayaan di tingkat basis masyarakat,” ungkap Yulianus Kuayo ketika ditemui Jubi di taman budaya Ekspo Waena, Kota Jayapura, Jumat (09/09/2016).

Dikatakan Kuayo, salah satu tugas di bidang kebudayaan yang akan diperkuat ke depan adalah strategi penguatan basis pelaku budaya di daerah dengan disiapkan beberapa panduan tentang standar pengelolaan kebudayaan dari masing-masing lima wilayah adat Papua.

Tarian dari Biak Numfor pada Pesta Budaya Papua XIV 2016 di taman budaya Ekspo, Kota Jayapura, Kamis (09/09/2016) - Jubi/Abeth You

Tarian dari Biak Numfor pada Pesta Budaya Papua XIV 2016 di taman budaya Ekspo, Kota Jayapura, Kamis (09/09/2016) – Jubi/Abeth You

“Lalu melakukan kajian bagaimana seni dan budaya Papua ini bisa di aktualisasi melalui kurikulum muatan lokal di setiap satuan pendidikan di tanah Papua,” papar Yulianus.

Menurutnya, hal itu merupakan program pembinaan kebudayaan dan kesenian daerah Papua yang berlatar belakang tanah Papua memiliki beraneka ragam bentuk seni pertunjukan yang masih hidup dengan aneka ragam seni tradisi Papua merupakan identitas etnis atau suku.

Salah satu peserta Pesta Budaya Papua XIV dari Kabupaten Paniai, Engel Tekege menyetujui akan adanya evaluasi yang direncanakan dari Bidang Kebudayaan Provinsi Papua pihaknya menginginkan harus ada pelatihan-pelatihan khusus yang bekerjasama sama dengan lembaga seni budaya terkait yang ada di negara Indonesia.

“Ini pesta budaya Papua non lomba. Jadi, setelah ini kami mau Pemerintah Provinsi Papua melalui dinas terkait harus memfasilitasi lembaga budaya tertentu dalam rangka pengembangan ilmu kami. Mungkin seperti tari tradisional dan musik tradisional ini,” tuturnya. (*)

Continue Reading

Mamta

Enos Rumansara: Saatnya Anak Muda Papua Bangkitkan Semangat Mambesak

Published

on

Enos Rumansara dalam Pembukaan Konser Musik Nyanyian Merdu Negeri Papua, Senin (22/8/2016) - JUBI/Hengky Yeimo

Enos Rumansara dalam Pembukaan Konser Musik Nyanyian Merdu Negeri Papua, Senin (22/8/2016) – JUBI/Hengky Yeimo

Jayapura, Jubi – Antropolog Papua, Enos Rumansara, merasa bangga bahwa Kampus Universitas Cenderawasih telah dijadikan tempat bagi anak-anak muda mahasiswa untuk bangkitkan semangat Mambesak.

Membuka acara konser Musik Etnik Papua yang diselenggarakan oleh AMPTPI dan BEM Uncen, Senin (22/8/2016), Enos menerangkan bahwa acara konser budaya seperti ini adalah salah satu medium membangkitkan identitas Papua.

“Konser seperti beginilah salah satu cara membangkitkan Identitas kita. Sebab apabila kita sendiri tidak perhatikan, nanti orang akan bertanya ‘orang Papua itu yang mana’?” ujarnya.

Dia bahkan menyarankan kegiatan konser musik etnik Papua bisa digelar setidaknya dua bulan sekali.

Enos juga menggarisbawahi semangat Mambesak bagi generasi Papua.

“Spirit Mambesak itu adalah ‘Menyanyi untuk Hidup Dulu, Kini dan Nanti. Filosofi yang ada dibalik itu adalah, ‘Dulu kami Papua, sekarang kami Papua dan sampai kapan pun, kami tetap Papua,” tegas Enos.

Dia berpesan jangan sampai arus globalisasi mengikis budaya sendiri, agar orang tidak bilang orang Papua tidak punya jati diri.

“Kita tahu bahwa musik ini harus diangkat. Sebab selain kita mengangkat kajian-kajian Antropologi tetapi kegiatan seperti ini memberi warna pada Antrpologi yang menjaga kampus harus tetap hidup,” kata  dia.

Di tempat yang sama vokalis Eyuser, Feri Marisan, mengatakan agar ruang seperti ini harus diciptakan untuk mengugah hati anak-anak Papua.

“Kita akan mengembangkan musik ini. Sebab musik ini milik kita dan tidak hanya dari pesisir, tetapi nyanyian ini dinyanyikan oleh Mambesak dari semua bahasa yang ada di Papua,” kata Feri Marisan.

Dirinya berharap agar, semangat orang muda tidak hanya akan berakhir di acara tersebut tetapi, dapat terus jadi spirit untuk diingat oleh generasi muda kini dan yang akan datang.(*)

Continue Reading

Nasional & Internasional

Lewat ‘Merdeka’ ERK Suarakan Papua

Published

on

Efek Rumah Kaca (ERK) yang baru saja merilis lagu terbarunya, berjudul Merdeka - IST

Efek Rumah Kaca (ERK) yang baru saja merilis lagu terbarunya, berjudul Merdeka – IST

Jakarta, Jubi – Efek Rumah Kaca (ERK) merilis lagu terbaru yang berjudul ‘Merdeka’ , ungkapkan perasaan hati mereka terhadap makna kemerdekaan bagi orang-orang Papua di negara Indonesia.

Lagu yang diluncurkan secara digital tersebut pada Jum’at lalu (12/8), seperti dilansir CNN Indonesia, Kamis (18/8/2016), hendak mempertanyakan masalah sosial politik yang terjadi di Indonesia belakangan ini.

Perlawanan Ibu-Ibu Kendeng terhadap pembangunan pabrik semen dan kekerasan yang terjadi di Papua serta dialami oleh orang Papua, adalah sumber inspirasi melahirkan formula dalam meracik lirik lagu Merdeka.

“Lagu Merdeka ini merupakan upaya kami untuk merenungkan kembali makna kemerdekaan yang kita miliki. Apakah kita sudah benar-benar merdeka? Apakah kemerdekaan kita sudah menghargai kemerdekaan orang atau bangsa lain? Apakah kemerdekaan ini sudah membawa kita pada keadaan atau situasi yang memanusiakan manusia?” kata Adrian dalam siaran persnya yang dikutip CNN Indonesia.

ERK adalah grup musik indie yang berasal dari Jakarta. Band yang digawangi oleh Cholil Mahmud (vokal/gitar), Akbar Bagus (drum), Adrian Yunan (bass) dan Poppie Airil (bass) ini merilis lagu Merdeka secara digital lewat iTunes dan juga bisa dinikmati di youtube.

Mereka dikenal oleh para pecinta musik di Indonesia lagu-lagu mereka yang banyak menyentuh dan memotret keadaan sosial masyarakat di sekitar mereka pada semua tingkatan.

Di dalam ‘Merdeka’ mereka mempertanyakan “Darat, laut, udara milik siapa? Hajat hidup dan harkatnya untuk siapa?” Dengan nada menggugat mereka mempertanyakan “Di manakah tanah serta mata airnya. Di manakah rumah serta bahagianya?”

Di laman fanspage-nya ERK mengatakan bahwa semua gambar dalam video itu diambil di Papua oleh Anton Ismael. Anton, dikutip CNN Indonesia, adalah pendiri sekolah fotografi Kelas Pagi Papua, dan menerjemahkan lagu Merdeka menjadi video yang menggambarkan kerinduan untuk kembali ke alam bebas. Ia menggarap video ini bersama rekan-rekan Kelas Pagi Papua di sela-sela kelas.

Tak sekadar mempertanyakan arti merdeka, ERK ternyata juga mengajak pecinta musik berbagi hasil penjualan lagu itu sebagai donasi untuk mengirim tenaga pengajar ke Papua.

Bila lagu-lagu mereka sebelumnya berlirik membangkitkan semangat orang Indonesia untuk mencari jati dirinya, lagu Merdeka kini mengritik dan mempertanyakan kemerdekaan Indonesia.

ERK memang sering membuat lagu-lagu yang mengandung kritik sosial. Seperti lagu Di Udara yang dibuatnya untuk aktivis HAM Munir yang mati dibunuh dan belum mendapatkan keadilan.(*)

Continue Reading

Trending

Copyright © 2017 Zox News Theme. Theme by MVP Themes, powered by WordPress.