Masyarakat Adat Ancam Duduki Wilayah Sengketa Naktuka

share on:
Wilayah Naktuka yang disengketakan - IST
Wilayah Naktuka yang disengketakan – IST

Kupang, Jubi – Sebanyak 10.000 masyarakat adat Amfoang mengancam akan menduduki wilayah sengketa Naktuka di Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) jika tidak ada upaya penyelesaian dari Jakarta dan Pemerintah Timor Leste.

“Mereka sudah mengancam dan menegaskan akan menduduki wilayah sengketa tersebut jika belum ada upaya penyelesaian secara total dari pemerintah pusat dengan pemerintahan Timor Leste di Dili,” kata Raja Amfoang, Robby Manoh di Kupang, Jumat (26/8/2016).

Naktuka merupakan wilayah demarkasi antara Indonesia dan Timor Leste, namun kawasan seluas 1.690 hektare itu sudah dikuasai warga Timor Leste asal Oecusse untuk berkebun dan membangun pemukiman di atasnya.

Sebelum Timor Timur merdeka, kawasan Naktuka di wilayah Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, NTT itu sudah digarap oleh warga Oecusse untuk berkebun.

Setelah Timor Timur merdeka, warga asal Oecusse itu tidak hanya berkebun, tetapi juga membangun pemukiman sehingga membuat warga Amfoang marah.

Mereka melukiskan keberadaan warga Oecusse, Timor Leste itu sebagai penyusup dan telah mencaplok sebagian wilayah NKRI untuk kelangsungan hidup mereka.

Robby menjelaskan pada 2003 lalu sudah ada kesepakatan antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Timor Leste soal lahan sengketa tersebut.

Isi kesepakatan tersebut adalah kedua belah pihak tidak boleh mengelola lahan, atau melakukan aktivitas apa pun, di atas lahan tersebut jika belum ada keputusan yang diambil oleh pemerintahan kedua negara.

“Tetapi saat ini justru mereka (warga Timor Leste) yang mengelola lahan sengketa tersebut. Ada sekitar 65 kepala keluarga dari Oecusse yang menetap dan berkebun di situ. Ini membuat warga Amfoang geram,” katanya.

Kepala Badan Koordinasi Pengelola Perbatasan NTT, Paul Manehat, yang dihubungi secara terpisah, menambahkan hingga kini persoalan tapal batas negara antara Indonesia dengan Timor Leste di Naktuka masih menunggu hasil keputusan dari Kementerian Luar Negeri.

“Pada awal September nanti kita akan pertemukan masyarakat adat desa Amfoang dengan sejumlah tokoh adat dari Oecusse, Timor Leste, untuk membahas dan membicarakan masalah tersebut dari hati ke hati sebagai sesama orang Timor,” ujarnya.

Ia mengaku pemerintah provinsi sendiri juga tidak ingin kehilangan kawasan sengketa tersebut, sehingga terus berupaya mendesak Jakarta untuk segera menyelesaikannya.(*)

Editor : Zely Ariane
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Masyarakat Adat Ancam Duduki Wilayah Sengketa Naktuka