BKKBN Papua Sosialisasi Kanker Serviks

share on:
Dokter Nirwan, spesialis Patologi Anatomi saat memberikan penjelasan kepada ibu-ibu tentang bahaya dan cara pemeriksaan secara diri terkait Kanker Leher Rahim yang berlangsung di Kantor BkkbN wilayah Papua, Selasa (30/8/2016) – Jubi/Roy Ratumakin.
Dokter Nirwan, spesialis Patologi Anatomi saat memberikan penjelasan kepada ibu-ibu tentang bahaya dan cara pemeriksaan secara diri terkait Kanker Leher Rahim yang berlangsung di Kantor BkkbN wilayah Papua, Selasa (30/8/2016) – Jubi/Roy Ratumakin.

Jayapura, Jubi – Kanker leher rahim (Kanker Serviks) merupakan salah satu penyakit peringkat teratas di dunia yang dapat menyebabkan kematian pada wanita. Kanker serviks merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim yang biasanya menjangkiti wanita di usia 35-55 tahun.

Untuk itu, pihak Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan sosialisasi dan pelayanan IVA dan Papsmear terintegrasi IUD untuk mendeteksi Kanker Serviks. Sosialisasi ini berlangsung di kantor BKKBN wilayah Papua, Selasa (30//8/2016).

Dokter Nirwan, spesialis Patologi Anatomi (spesialisasi kedokteran yang mendiagnosis kanker) kepada wartawan mengatakan sangat penting pagi wanita untuk melakukan pemeriksaan kanker serviks secara dini karena kanker serviks tersebut sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup penderitanya.

“Kami ingin semua ibu-ibu tergerak untuk memeriksa kan diri untuk mendeteksi secara dini kanker leher rahim. Ini ancaman buat mereka, Indonesia merupakan urutan pertama pengidap kanker leher rahim dan sudah masuk ke Papua. Jadi kami ingin memberikan pemahaman kepada mereka bahwa ini adalah kebutuhan mereka,” katanya.

Menurut Dokter Nirwan, ketika berbicara masalah kanker leher rahim ini tidak disebabkan oleh penyebab tunggal. Kadang-kadang, kanker itu belum jelas penyebabnya apa. Tetapi yang jelas untuk kanker leher rahim ini ditemukan adanya virus HPV (Human Papilloma Virus).

“99 % ada virus ini, makanya seolah-olah dia sebagai pencetus dari kangker leher rahim. Ini menjadi kanker leher rahim, kembali pada kekebalan tubuh wanita itu sendiri, karena ada yang bisa muncul dan ada juga yang tidak bisa muncul,” ujarnya.

Virus tersebut adalah virus yang ditularkan melalui hubungan seksual.

“Salah satu metode untuk pencegahan kanker leher rahim adalah tidak melakukan hubungan seksual dengan bukan pasangannya atau gonta ganti pasangan,” katanya.

Dikatakannya, sebenarnya penyakit tersebut bisa sejalan dengan HIV dan AIDS karena hampir semua pencetusnya (virus) itu mirip.

“HIV dan AIDS itu kan penyakit menular sedangkan kanker leher rahim tersebut tidak menular meskipun tadinya disebabkan virus akibat hubungan seksual,” ujarnya.

 

Metode IVA dan Pap Smear

Kepala Seksi Jalur Wilayah Khusus BKKBN wilayah Papua, Agus Fauzi mengatakan, selain melakukan sosialisasi tentang penyebab dan bahaya dari kangker leher rahim pihaknya juga memberikan pemahaman tentang pemeriksaan dengan menggunakan metode Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) dan Pap Smear.

Pemeriksaan IVA dilakukan dengan cara melihat serviks yang telah diberi asam asetat 3-5% secara inspekulo. Setelah serviks dipulas dengan asam asetat, akan terjadi perubahan warna pada serviks yang dapat diamati secara langsung dan dapat dibaca sebagai normal (negatif) atau abnormal (ada lesi pra-kanker). Pada lesi pra-kanker akan terlihat bercak putih atau yang disebut aceto white epithelium.

“Jadi Tes IVA sebaiknya dilakukan oleh orang-orang yang sudah menikah atau sudah melakukan hubungan seksual, tidak sedang menstruasi atau haid, tidak sedang hamil, dan 24 jam sebelumnya tidak melakukan hubungan seksual. Selain mudah dan murah, cara ini juga memiliki keakuratan sangat tinggi dalam mendeteksi lesi pra-kanker. IVA juga tidak harus dilakukan oleh dokter, tetapi bisa dilakukan oleh tenaga terlatih seperti bidan di Puskesmas,” katanya.

Selain dengan metode IVA, kanker serviks juga dapat dideteksi melalui pemeriksaan Pap Smear. Metode ini menggunakan alat bernama speculum yang berfungsi membuka liang vagina. Setelah terbuka, cairan leher rahim lalu diambil menggunakan spatula atau sejenis sikat halus. Cairan tersebut kemudian dioles pada objek kaca untuk dianalisis di laboratorium.

Pihaknya juga menganjurkan agar wanita yang akan melakukan pemeriksaan untuk tidak melakukan hubungan seksual sejak dua hari sebelum Pap Smear, dan sebaiknya tidak berendam saat mandi dua hari sebelum menjalani Pap Smear karena hal-hal tersebut bisa menyebabkan sel abnormal jadi sulit terdeteksi. (*)

Editor : Kyoshi Rasiey
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  BKKBN Papua Sosialisasi Kanker Serviks