Dinkes NTT Terus Kurangi Angka Warga Perokok

share on:
Ilustrasi tingkat ketergantungan orang pada rokok - IST
Ilustrasi tingkat ketergantungan orang pada rokok – IST

Kupang, Jubi – Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berupaya mengurangi angka perokok dengan melakukan penyuluhan untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa merokok berdampak buruk terhadap kesehatan.

“Kami tetap melakukan penyuluhan ke masyarakat dalam setiap kesempatan agar bisa membangun kesadaran masyarakat untuk mengurangi bila perlu berhenti merokok karena jelas berdampak buruk terhadap kesehatan,” kata Kepala Dinkes NTT dr Kornelis Kodi Mete di Kupang, Selasa (30/8/2016).

Kornelis mengakui, saat ini masih banyak masyarakat di provinsi berbasis kepulauan itu yang masih mengkonsumsi rokok, tidak hanya masyarakat dewasa melainkan juga anak-anak usia sekolah.

Sehingga, lanjut dia, upaya penyuluhan untuk memberikan pendidikan dan penyadaran kepada masayarakat tetap dilakukan setiap ada kesempatan.

“Penyuluhan merupakan pendekatan yang lunak untuk mendorong masyarakat agar bisa mengurangi hingga berhenti merokok,” katanya.

Menanggapi wacana pemerintah pusat menaikan harga rokok, Kornelis mengatakan pihaknya belum memastikan bahwa kenaikan harga rokok akan berdampak mengurangi angka perokok di NTT.

Namun, kata dia, langkah tersebut patut diapresiasi sebagai salah satu upaya pemerintah dalam menekan angka perokok secara nasional yang bermanfaat untuk kesehatan.

“Memang belum ada kajian atas dampak pengurangan angka perokok jika wacana pemerintah pusat menaikan harga rokok direalisasikan, namun kita harapkan bisa menekan intensitas perokok aktif karena harga rokok yang tinggi,” katanya.

Menurut dia, kondisi perekonomian masyarakat NTT pada umumnya masih berpendapatan rendah sehingga jika harga rokok bisa naik hingga beberapa kali lipat berpotensi mengurangi jumlah perokok.

Salah seorang warga Kota Kupang yang juga perokok aktif, Marthen Kilok, menilai wacana kenaikan harga rokok tidak sepenuhnya mengurangi angka perokok karena masyarakat bisa membeli dalam dalam jumlah batangan.

“Belum tentu kenaikan harga rokok dapat mengurangi angka perokok aktif karena orang bisa saja membeli rokok secara batangan,” katanya kepada Antara.

Namun, kata dia, kenaikan harga rokok bisa mengurangi intensitas perokok dari banyak menjadi sedikit karena harga yang semakin sulit terjangkau.

“Saya sehari bisa menghabiskan lebih dari tiga bungkus rokok namun jika harganya naik beberapa kali lipat maka saya sudah putuskan untuk kurangi,” katanya.(*)

Editor : Zely Ariane
Sumber : Antara
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Dinkes NTT Terus Kurangi Angka Warga Perokok