Menepis Infertilitas pada Pasutri

share on:
Kepala Seksi Jalur Wilayah Khusus BkkbN wilayah Papua, Agus Fauzi kepada Jubi – Jubi/Roy Ratumakin.
Kepala Seksi Jalur Wilayah Khusus BkkbN wilayah Papua, Agus Fauzi kepada Jubi – Jubi/Roy Ratumakin.

Jayapura, Jubi – Anak merupakan idaman setiap keluarga. Tetapi tidak semua keluarga beruntung mendapatkannya. Pasangan yang tak beruntung ini yang sering disebut infertilitas. Infertilitas dalah ketidak mampuan istri Pasangan Usia Subur (PUS) untuk hamil setelah 1-2 tahun melakukan hubungan seksual secara teratur dan benar tanpa usaha pencegahan.

Kepala Seksi Jalur Wilayah Khusus Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) wilayah Papua, Agus Fauzi kepada Jubi, Selasa (30/8/2016) di ruang kerjanya mengatakan, ada dua macam infertilitas, yaitu Infertilitas Primer dan Sekunder.

“Infertilitas Primer adalah suatu keadaan dimana PUS yang telah menikah lebih dari satu sampai dua tahun melakukan hubungan seks secara teratur tetapi belum juga terjadi kehamilan atau belum pernah melahirkan anak hidup. Sedangkan Infertilitas Sekunder adalah suatu keadaan dimana PUS yang sudah mempunyai anak, namun sulit mendapatkan anak lagi, meski melakukan hubungan seks secara teratur dan benar, tanpa usaha pencegahan,” katanya.

Penyebab terjadinya infertilitas adalah ketidak suburan (infertilitas).

“Kalau penyebab dari suami itu diantaranya suami tidak mampu memasukan sperma kedalam rahim istri karena menderita salah satu penyakit misalnya impotensi, ejakulasi dini atau ujung penis yang mempunyai kelainan. Adanya penyumbatan pada saluran sperma, adanya kelainan gerak sperma, terjadinya kelainan produksi atau pematangan sperma karena kelainan hormon, kerusakan testis, gondongan (parotitis) pada masa anak dan remaja, kondisi gizi yang kurang baik atau menderita penyakit tertentu,” ujarnya.

Sedangkan seorang istri bisa tidak subur karena kelainan lendir leher rahim, misalnya terlalu pekat atau terlalu sama, adanya kelainan bentuk leher rahim karena cacat bawaan dan adanya tumor atau polip. Juga penyumbatan pada saluran telur yang terjadi akibat pernah terkena IMS atau radang panggul, menstruasi yang tidak teratur akibat kelainan endokrim atau hormonal sehingga mengganggu ovulasi (lepasnya sel telur). Selain itu, kegemukan juga bisa menjadi penyebab karena adanya penumpukan lemak pada organ reproduksi sehingga produksi akan terganggu.

Sedangkan yang disebabkan oleh suami istri adalah pasangan suami istri tidak dapat melakukan senggama sebagaimana mestinya karena ketidaktahuan teknik senggama yang benar atau pengaruh psikologis terhadap pasangan.

“Bisa juga terjadi reaksi imunologi (kekebalan) yang menyebabkan timbulnya respon imun non spesifik setelah senggama misalnya gatal-gatal, bercak merah pada kulit, keluarnya cairan yang berlebihan dari vagina. Atau reaksi spesifik yaitu timbulnya anti body terhadap sperma suami, sehingga tidak mampu untuk bergerak menuju sel telur,” ujarnya.

Ditempat terpisah, Kepala BkkbN wilayah Papua, Charles Brabar mengatakan untuk menghindari terjadinya infertilitas PSU harus menjaga kebersihan dan kesehatan alat kelamin baik suami dan istri, hindari rokok dan minuman beralkohol, makan makanan yang cukup bergizi, lakukan olahraga ringan namun teratur, lakukan senggama pada masa subur istri dan bagi istri diam dalam posisi terlentang maksimal 30 hingga 45 menit setelah melakukan.

“Perlu diketahui bahwa usia subur seorang wanita adalah hari ke 12 hingga hari ke 16 sebelum menstrubasi berikutnya. Dan hal-hal yang perlu diketahui bagi PUS yang sulit hamil dalam melakukan konsultasi dengan ahli (bidan atau dokter), lakukan dulu pemeriksaan medis untuk Pasutri, jalani pengobatan sesuai dengan saran ahli dan lakukan teknik perbantuan (insiminasi atau bayi tabung) sebagai jalan terakhir,” katanya. (*)

Editor : Kyoshi Rasiey
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Menepis Infertilitas pada Pasutri