Penjual Sagu Asal Makasar Ini Mampu Kantongi Rp20 Juta Per Bulan

share on:
Suriani (56), sedang berjualan sagu di pasar induk Youtefa, Abepura. Ia sudah melakoni usaha ini selaam 20 tahun. - Jubi/Agus Pabika
Suriani (56), sedang berjualan sagu di pasar induk Youtefa, Abepura. Ia sudah melakoni usaha ini selaam 20 tahun. – Jubi/Agus Pabika

Jayapura, Jubi – Pilihannya untuk berjualan Sagu agaknya sudah mantap di hati. Kesabaran duduk berjam-jam di pasar Youtefa dan bermodalkan Rp500 ribu, perempuan asal Sulawesi ini mampu mengantongi sekurangnya Rp6 juta per minggu atau sekitar Rp24 juta per bulan.

Ia adalah Suriani, perempuan 56 tahun asal Makasar. Profesi itu sudah dilakoninya selama 20 tahun hingga saat ini.

Suriani, saat ditemui Jubi menuturkan modal awalnya sebesar Rp500 ribu untuk membeli satu tumang sagu. Dari satu tumang itu, ia menghasilkan 400 tumpuk sagu dengan ukuran yang berbeda.

“Per tumpuk saya jual Rp10-20 ribu,” ucap Suriani, yang mengaku dalam sehari bisa terjual seluruh sagunya.

Penjual sagu lainnya adalah Mirna. Ia mengaku bisa menghasilkan Rp5-8 juta per minggu atau Rp28 juta per bulan. “Modal awal Rp500 ribu untuk beli satu tumang sagu,” katanya.

Ia mengaku, satu tumang sagu bisa habis terjual dalam dua hingga empat hari di Pasar Youtefa.

Perempuan 34 tahun itu telah menduga bisa memperoleh keuntungan besar dari berjualan sagu. Ia mengatakan makanan pokok orang asli Papua itu sudah pasti akan selalu dicari tiap harinya.

“Jual sagu selalu banyak pembeli setiap hari apalagi saya jualan dekat penjual pasar ikan. Penghasilan tiap minggu bisa capai Rp5-8 juta, tergantung banyaknya pembeli. Pembeli umumnya lebih banyak orang asli Papua, mereka yang suka sagu,” ujar Mirna yang sudah berjualan sagu selama lima tahun ini.

Perempuan yang mengaku memiliki empat anak itu mengaku, dari hasil berjualan sagu ia mampu memenuhi kebutuhan keluarganya dan masih bisa menyisihkan sebagian keuntungan untuk menambah modal usaha.

“Selain untuk kebutuhan sehari-hari, saya juga pakai untuk biaya sekolah anak-anak. Sisanya, saya simpan untuk tambah modal usaha,” ucap perempuan asal Bugis itu.

Tak hanya sagu. Suriani dan Mirna juga melengkapi jualan sagunya dengan bumbu-bumbu segar yang biasanya digunakan untuk memasak ikan kuah.

“Karena dekat dengan ikan, jadi sekalian kita jual bumbu-bumbu ini, kan pasangan makan papeda pasti dengan ikan kuah,” kata Mirna yang mengaku ramai pembeli di pasar tersebut.

Tidak Konsisten

Pantauan Jubi pada Jumat (26/8/2016) di Pasar Youtefa, hanya terdapat 13 penjual sagu. Sebagian besar penjualnya adalah non orang asli Papua sementara sisanya, empat orang lainnya adalah orang asli Papua.

Salah satu penjual sagu OAP di pasar itu adalah Helena Aud, perempuan asal Wamena. Ia mengaku hanya berjualan sagu apabila ada kiriman dari keluarganya yang berada di Yalimo dan Sentani.

“Kalau tidak ada (kiriman) saya tidak jual sagu,” katanya, yang tak dapat menyebutkan pasti pendapatan per hari dari berdagang itu.  (*)

 

 

Editor : Yuliana Lantipo
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Penjual Sagu Asal Makasar Ini Mampu Kantongi Rp20 Juta Per Bulan