Jujur Bicara (Jubi) ke Atas dan ke Bawah

share on:
Ilustrasi 15 Tahun Jubi - Jubi
Ilustrasi 15 Tahun Jubi – Jubi

Jayapura, Jubi-Salah satu penggagas Tabloidjubi Decky Alexander Rumaropen mengatakan lahirnya  Tabloidjubi di Tanah Papua untuk memberikan informasi dari atas ke bawah dan sebaliknya dari bawah ke atas dengan jujur bicara alias Jubi itu sendiri.

“Intinya ada unsur transparansi dan Jubi lahir untuk memberikan pendidikan di Papua bagi orang asli Papua maupun non Papua dan masyarakat lainnya untuk saling berinteraksi,”kata Rumaropen kepada Jubi di ruang kerjanya Selasa (30/8/2016).

Dikatakan kedepannya informasi harus membawa perubahan social di kampong sesuai wilayah adatnya dan itu harus menjadi bagian dari pemberitaan Jubi sekarang.

“Informasi bagi orang kampung itu penting misalnya saja harga komoditi  coklat atau pun harga ayam kampung. Hal ini penting agar orang kampong tidak menjual komoditi mereka sesuai kemauan tengkulak atau pembeli,”katanya.

Selain itu kata dia masyarakat juga harus diberi informasi soal hama yang akan menyerang tanaman sehingga mereka juga mengetahui cara mengantisipasi bahaya tersebut.

Sejak pertama kali Tabloidjubi didirikan kata dia rohnya harus berasal dari masyarakat, kalau masyarakat bertanya harus ke Jubi termasuk mereka mau bertanya soal kebijakan pemerintah. “ Jubi harus menyampaikan informasi dari atas dan sebaliknya dari bawah ke atas. Hal ini penting untuk saling melengkapi agar kebijakan itu sampai mengena masyarakat akar rumput,”katanya.

Belajar dari pengalaman masyarakat di Papua New Guinea, ada sebuah Lembaga Masyarakat Sipil (LSM) di sana membuat sebuah media bernama Lik-lik buk atau buku kecil informasi untuk masyarakat kecil di Papua New New Guinea.” Model ini yang kemudian dikembangkan George Junus Aditjondro di Papua dengan membangun media Kabar dari Kampung,”katanya.

Pertama kali lahir, Jubi dikomandoi oleh M Kholifan dibantu beberapa redaktur senior Bill Retob dan wartawan muda Frits Ramandey, Cunding Levi, Robert  Vanwi, Agus Fakubun, Joost Mirino, Paskalis Keagop dan Mustofa. Mereka ini boleh disebut sebagai Jubi jilid pertama. Sebagian dari mereka kemudian menjadi wartawan di media nasional.

Kemudian pada 2003-2004 lahir pula Jubi jilid kedua dibawah Pemimpin Redaksi  Dominggus A Mampioper hanya bertahan selama setahun dan akhirnya vakum. Selanjutnya Jubi jilid ketiga mulai dibangun pada tahun 2007 dibawah koordinator Victor C Mambor yang akhirnya menjadi Pemimpin Redaksi.

Tabloidjubi cetak hanya bertahan selama beberapa tahun hingga akhirnya 2009, Victor Mambor dan Dominggus Mampioper memprakarsasi dibangunnya tablodjubi.com  edisi online. Selama masih edisi online dari Tabloidjubi berubah wajah menjadi Majalah Jubi edisi khusus Persipura, edisi Melanesian Spearhead Group (MSG)  dan edisi kasus Bank Papua.

Selanjutnya pada September 2014, Jubi kembali dengan wajah Koran Jubi edisi harian pagi karena tuntutan pembaca guna masuk ke dalam industri pers. Kondisi ini menggambarkan Jubi dari media advokasi menuju industry pers yang tentunya membutuhkan modal dan kemampuan sumber daya manusia yang memadai di era industri informasi  Jubi hadir dalam bentuk media cetak Koran Jubi dan media online tabloidjubi.com.(*)

Editor : dominggus
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Jujur  Bicara (Jubi)  ke Atas dan ke Bawah