Minim Pengajar, Guru Agama Direkrut Jadi Guru Kelas di Pedalaman Papua

share on:
Siswa sekolah dasar di Agats, Merauke, tahun 1980an. – Dok YPPK Propinsi Papua
Siswa sekolah dasar di Agats, Merauke, tahun 1980an. – Jubi/Dok YPPK Propinsi Papua

Jayapura, Jubi – Pimpinan keuskupan dan Yayasan YPPK Provinsi Papua mengambil kebijakan mempekerjakan guru-guru agama untuk mengajar berbagai mata pelajaran dibeberapa sekolah dasar di Papua yang belum memiliki pengajar. Sebelum mengajar, para guru agama ini diwajibkan mengambil Program S1 Pedidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).

Hal tersebut dikatakan oleh Sekretaris YPPK Provinsi Papua, Mathias Wiran saat Jubi bertandang ke kediamanannya di Argapura, Jayapura, Selasa, pekan lalu. Ia mengatakan kebijakan mempekerjakan guru-guru agama itu untuk mengisi kekosongan pengajar dibeberapa sekolah yang tersebar dibeberapa wilayah di Papua.

Kekurangan guru menjadi salah satu tantangan terbesar yayasan ini dalam memajukan mutu pendidikan di Papua, yang sudah dibangun sejak 41 tahun lalu.

Baca: Guru Mangkir Jadi Penghambat Pemajuan Mutu Pendidikan Papua

“Karena hampir diseluruh wilayah pedalaman Papua, di sekolah-sekolah kami (YPPK) sangat kekurangan guru, sehingga kebijakan pimpinan keuskupan dan pimpinan yayasan adalah memanfaatkan guru-guru agama. Misalnya di Keerom, kami mengangkat guru agama menjadi guru kelas,” kata Mathias.

Mathias menjelaskan, para guru agama yang mereka perbantukan tidak serta merta langsung mengajar. Mereka, lanjut Mathias, diwajibkan mengikuti program S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Terbuka (UT) di Jayapura, untuk memenuhi standar kualifikasi pengajar.

“Untuk meningkatkan kualitas guru-guru ini, kami bekerjasama dengan Universitas Terbuka pada program PGSD. Jadi, yang sudah sarjana tapi bukan sarjana pendidikan, kita kuliahkan hanya tiga semester sesuai ketentuan program itu. Setelah itu, mereka punya kualifikasi menjadi guru SD atau guru kelas. Sehingga, kedepannya mereka juga punya hak untuk mengajar di SD dan bisa menjadi guru kelas atau menjadi wali kelas,” jelasnya.

Guru Lulusan SD

P_20160823_143625_p
Para siswa disebuah SMP YPPK di Agats, Merauke, tahun 1980an. – Jubi/Dok YPPK Provinsi Papua

Mathias Wiran tak pungkiri adanya perhatian dari pemerintah dalam menyediakan tenaga pengajar untuk sekolah-sekolah yayasan seperti YPPK. Namun, pemenuhan tenaga pengajar tersebut sebagian besar ditempatkan pada sekolah diperkotaan.

“Di sekolah YPPK, kalau hitung-hitung 90 persen itu guru PNS. Di daerah kota, sebagian besar adalah guru-guru PNS. Kesulitannya itu yang di daerah-daerah pedalaman.

“Bahkan disejumlah sekolah, terpaksa kita rekrut yang tamat SMA di wilayah itu lalu ikutkan membantu. Di Keerom, ada disejumlah sekolah, tenaga guru dari anak tamatan SMA yang ikut mendampingi di SD,” kata Mathias.

Dalam keterbatasan, Mathias berharap, kebijakan pihaknya untuk mengangkat guru agama dan memperbantukan tenaga guru lainnya yang bersedia mengajar di wilayah pedalaman Papua bisa turut membawa secercah harapan untuk perbaikan mutu pendidikan, lebih khusus di wilayah pedalaman Papua. (*)

Editor : Yuliana Lantipo
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Minim Pengajar, Guru Agama Direkrut Jadi Guru Kelas di Pedalaman Papua