Sebelum Terlambat, Calon Pasutri Wajib Periksa Kesehatan

share on:
Kepala Seksi Jalur Wilayah Khusus BKKBN wilayah Papua, Agus Fauzi – Jubi/ Roy Ratumakin.
Kepala Seksi Jalur Wilayah Khusus BKKBN Wilayah Papua, Agus Fauzi. – Jubi/ Roy Ratumakin.

Jayapura, Jubi – Untuk mendapatkan rumah tangga ideal, ada baiknya calon pasangan suami istri (pasutri) memeriksa kesehatan agar tidak terjadi pertengkaran soal kesehatan setelah berumah tangga.

Hal itu disampaikan Kepala Seksi Jalur Wilayah Khusus BKKBN Wilayah Papua, Agus Fauzi kepada Jubi di ruang kerjanya, Sabtu (3/9/2016).

Untuk menuju jenjang pernikahan, kata Agus, aspek yang harus dipersiapkan calon pengantin meliputi fisik biologis, mental-spiritual, dan aspek sosial ekonomi.

“Kalau untuk aspek fisik biologis idelanya usia antara 20 hingga 25 tahun bagi perempuan dan usia 25-30 tahun bagi laki-laki yang paling baik untuk berumah tangga,” katanya.

Selain itu, harus mengetahui status kesehatan calon pasangannya, dalam arti orang itu tidak mengidap penyakit yang menular dan bebas dari penyakit keturunan. Pemeriksaan kesehatan dan konsultasi pra nikah sangat dianjurkan bagi pasangan.

“Kalau masalah kecantikan atau ketampanan relatif sifatnya, yang penting tidak ada catat yang dapat menimbulkan distabilitas atau ketidakmampuan untuk berfungsi dalam kehidupan berkeluarga,” ujarnya.

Calon pasangan juga harus tahu penyakit-penyakit yang patut di cegah dan diwaspadai. Penyakit-penyakit tersebut di antaranya penyakit genetik, penyakit tertentu yang diturunkan, penyakit infeksi dan virus, serta penyakit lainnya.

Tujuan pemeriksaan penyakit genetik agar calon suami dan istri akan mempunyai pemahaman, bila orang tua atau garis keturunannya mengidap penyakit genetik, maka anak yang akan dilahirkan kemungkinan beresiko mengidap penyakit yang sama dengan orang tuanya.

Penyakit genetik tersebut misalnya Thalasemia (kelainan darah), buta warna (terutama pada laki-laki), Hemophia (sel darah merah sulit membeku jika ada luka) dan Kanker.

“Kalau penyakit tertentu yang diturunkan misalnya Diabetes Mellitus (kencing manis), hipertensi, dan kelainan jantung,” katanya.

Sebagai contoh, jika mempunyai kadar gula yang tinggi dalam darahnya, dapat mengakibatkan resiko kecacatan pada janin, komplikasi kehamilan seperti preeklampsi, stroke, janin besar, proses persalinan sulit, gangguan pertumbuhan janin dan janin dapat meninggal dalam kandungan.

Terkait dengan penyakit enfeksi dan virus, seperti infeksi menular seksual (IMS), hepatitis B, cacar air, HIV dan AIDS. Sedangkan untuk penyakit lainnya seperti kelainan kelenjar gondok, kelainan hormon dan obesitas. Hal tersebut kemungkinan dapat mempersulit keturunan jika tidak segera ditangani dokter ahli.

Bidan Tini, petugas Puskesmas Abe Pantai sependapat, karena banyak pengalaman pertengkaran terjadi di dalam rumah tangga akibat kelalaian pasangan memeriksakan kesehatan.

“Banyak pasangan akhirnya bertengkar karena tidak memiliki keturunan dan saling menyalahkan, ada juga yang menyesal karena pasangannya ternyata mengidap penyakit jantung yang berimbas pada anak,” katanya. (*)

Editor : Syofiardi
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Sebelum Terlambat, Calon Pasutri Wajib Periksa Kesehatan