Suara Generasi Baru Radikal Warnai Hasil Pemilu Hong Kong

share on:

Jayapura, Jubi – Setidaknya, empat orang kandidat muda radikal  memenangkan kursi di Dewan Legislatif di tengah goncangan politik di Kota Hong Kong.

Para pendukung Nathan Law dari Partai Demosisto merayakan kemenangan setelah dia memenangkan satu kursi dalam pemilihan umum Hongkong – Foto: Vincent Yu/AP
Para pendukung Nathan Law dari Partai Demosisto merayakan kemenangan setelah dia memenangkan satu kursi dalam pemilihan umum Hongkong – Foto: Vincent Yu/AP

Dua tahun setelah puluhan ribu anak muda bertumpahan ke jalan-jalan Hong Kong menuntut perubahan politik, generasi bari aktivis-aktivis pro demokrasi berhasil memenangkan tempat dalam kekuasaan, di bekas koloni Inggris itu.

Setidaknya empat aktivis muda radikal yang mendukung otonomi lebih luas, atau kemerdekaan penuh dari Tiongkok, memenangkan kursi di Dewan Legislatif Hong Kong (LedCo) yang beranggotakan 70 orang. Sebanyak 2,2 juta orang ikut pemungutan suara hari Minggu, (4/9/2016) lalu, sebuah rekor dalam pemilihan umum Hong Kong.

Mereka yang terpilih itu termasuk Nathan Law dari partai Demosisto yang baru saja berdiri. Nathan adalah salah seorang pemimpin gerakan protes yang dikenal sebagai ‘Pergerakan Payung’ di kota itu pada tahun 2014.

“Saya pikir ini mukjizat,” demikian ujar Nathan, yang partainya menyerukan referendum untuk kemerdekaan Hong Kong dari Tiongkok, kepada wartawan pasca kemenangannya.

“Ini benar-benar tidak disangka, tak satupun membayangkan ini bisa terjadi. Siang malam tim kami kerja sangat keras bercucuran keringat untuk mengubah kekalahan menjadi kemenangan,” tambahnya.

Selain Law, juga Yau Wai-Ching, pemuda 25 tahun dari Yaoungspiration, sebuah partai politik yang juga baru dibentuk dan mendapatkan 20,643 suara.

Cheng Chung-tai, 32 tahun dari partai Semangat Sipil (Civic Passion), juga terpilih.

Sixtur “Baggio” Leung, pemuda 30 tahun dari partai yang juga mendukung kemerdekaan Hongkong dari Tiongkok, turut terpilih di penghujung penghitungan suara. “Kebebasan kami semakin hilang,” kata Leung.

Dia menjelaskan semakin banyak anak muda mendukung Hong Kong berpisah dari Tiongkok setelah 2047, ketika periode model “satu negara, dua sistem” yang berlaku 50 tahun sejak Hongkong dikembalikan ke kontrol Tiongkok, selesai masa berlakunya.

Sonny Shiu-Hing Lo, penulis buku Demokrasi Indigenous Hong Kong, mengatakan lembaran baru sudah dibuka oleh para pemimpin aksi protes muda radikal menggantikan orang-orang yang lebih tua di gerakan pro demokrasi arus utama.

“Pemilu ini betul-betul mewakili perubahan generasional dalam gerakan pro demokrasi,” ujar Lo, yang juga profesor di Institut Pendidikan Hong Kong.

Orang-orang mengantri untuk memberi suara di pemilu Hong Kong di TPS hari Minggu- Foto Tyrone Siu/Reuters
Orang-orang mengantri untuk memberi suara di pemilu Hong Kong di TPS hari Minggu- Foto Tyrone Siu/Reuters

Politik di kota yang semi-otonom akan menjadi “lebih menarik” karena, sebagai pembuat kebijakan, mereka akan menggantikan anggota-anggota lama dari gerakan demokratik yang lebih moderat, demikian prediksi Lo.

“Generasi baru ini tak saja akan bawa strategi baru, tetapi gagasan-gagasan mereka juga akan baru. Sehingga kami harap Beijing dibuat pusing kepala. Beijing tidak bisa gunakan strategi lama mereka seperti kooptasi untuk mengatasi generasi demokrat baru ini, di dalam maupun diluar parlemen,” ujar Lo.

Para tokoh tua gerakan pro demokrasi Hong Kong, yang berjuang berdekade-dekade untuk memperluas hak-hak politik, bereaksi agak cemas pada kebangkitan baru ini, yang kerap kali tidak kompromi dan lebih konfrontatif.

Figur-figur gerakan muda Hong Kong saat ini semakin yakin hanya dengan langkah radikal, seperti kemerdekaan atau penentuan nasib sendiri, akan menjamin konsesi politik yang mereka kehendaki.

“Saya tidak begitu khawatir,” kata Albert Ho seorang veteran dari partai Demokratik. “Para demokrat moderat ada di posisi yang sangat sulit sekarang,” lanjut dia.

Namun tokoh veteran lainnya mengaku khawatir kubu demokratik Hong Kong akan semakin terfragmentasi dan lemah oleh kebangkitan kandidat generasi muda radikal ini.

Nathan Law menegaskan bahwa generasi baru saat ini memiliki kualifikasi untuk menjalankan kekuasaan politik yang nyata.

“Banyak orang sangka muda itu tidak dewasa, dan orang muda tidak boleh masuk politik. Namun jika anda lihat apa yang saya tunjukkan di forum kampanye pemilu dan agenda kebijakan saya, jelas menunjukkan jika orang muda punya kemampuan mereka bisa menjadi anggota legislatif yang bagus,” tegasnya.

“Memang jalan ke depan tidak mudah, tapi banyak orang akan berjalan di sisi kami,’ ujar Nathan.

Hingga Senin pagi, hampir 60% dari 3,7 juta suara datang ke tempat pemungutan suara. Jumlah itu sudah mencapai 53% dari pemilu LedCo terakhir 2012 lalu.

Dari 70 kursi yang ada, hanya 40 kursi yang dipilih langsung oleh publik. 30 lainnya adalah kursi yang dipilih oleh kelompok-kelompok kepentingan mewakili sektor bisnis dan sosial, yang umumnya adalah kandidat-kandidat pro Beijing.(*)

Editor : Zely Ariane
Sumber : The Guardian
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Suara Generasi Baru Radikal Warnai Hasil Pemilu Hong Kong