Australia Lanjutkan Pembangunan Kamp Manus

share on:

Manus, Jubi – Meski diprotes banyak pihak, Australia ternyata terus membangun kamp pengungsian di Pulau Manus, Papua Nugini. Otoritas Provinsi Manus, Andrew Posong mengatakan bahwa pemerintah Australia terus mendanai pembangunan infrastruktur pendukung keberadaan kamp di provinsi tersebut.

Suasana di Kamp Manus. - pina.com.fj
Suasana di Provinsi Manus. – pina.com.fj

Juni lalu, pemerintah Australia mengatakan bahwa mereka akan segera menutup kamp Manus. Tekanan terhadap Australia terus meningkat bahkan dari dunia internasional setelah terungkapnya dokumen penyiksaan di kamp milik Australia lainnya, yaitu di Nauru.

Seperti dikutip dari pina.com.fj, Posong mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur itu meliputi perbaikan jalan dari Bandara Momote ke kota Lorengau yang akan dikerjakan paling lambat hingga akhir tahun ini.

“Kami juga membangun kantor kepolisian provinsi, pusat layanan kesehatan, dan program pendidikan. Jadi, secara keseluruhan proyek-proyek di bawah perjanjian antara Australia dan Papua Nugini terus berlanjut. Yang saya pahami, perjanjian kerjasama tersebut akan berlanjut hingga tahun 2018,” ujarnya.

Posong mengaku tidak peduli dengan keputusan Mahkamah Agung PNG yang menyatakan bahwa kamp tersebut ilegal, inkonstitusional dan harus ditutup segera. Menurut dia, hal itu adalah ranah pemerintah pusat dengan Australia.

Ia memastikan bahwa segala program pelatihan bisnis bagi penduduk lokal di bawah proyek tersebut terus berlangsung. “Kami mengapresiasi pemerintah Australia atas dukungan yang mereka berikan,” ujar Posong.

Posong mengatakan, warga Manus mulai resah dengan sikap para pengungsi setelah mereka diperbolehkan bebas bertindak oleh Mahkamah Agung. Banyak anak-anak muda pengungsi yang berbuat tidak sesuai hukum dan norma adat setempat. “Sebagian dari mereka tidur larut malam dan membuat kegaduhan. Hal itu sulit diterima oleh masyarakat setempat dan menimbulkan masalah lain,” tuturnya.

Ia menambahkan, ada satu gadis setempat yang dihamili oleh salah seorang pengungsi dan akhirnya melahirkan. “Kehamilan di usia dini tidak dapat diterima, lagi pula mereka adalah pengungsi. Siapa yang akan bertanggungjawab jika anaknya tumbuh besar nanti?” katanya.

Oleh karena itu, Posong berpendapat agar para pengungsi itu dibiarkan dikurung karena sikap mereka kini kian meresahkan. (*)

Editor : Lina Nursanty
Sumber : pina.com.fj
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Australia Lanjutkan Pembangunan Kamp Manus