Gubernur Minta Keanekaragaman Hayati Papua Jadi Perhatian

share on:
Gubernur Papua Lukas Enembe Bersama Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Stig Traavik, Ketua Panitia Pelaksana Noak Kapisa Membuka Secara Resmi ICBE 2016 Papua - Jubi/Alex
Gubernur Papua Lukas Enembe Bersama Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Stig Traavik, Ketua Panitia Pelaksana Noak Kapisa Membuka Secara Resmi ICBE 2016 Papua – Jubi/Alex

Jayapura, Jubi – Gubernur Papua Lukas Enembe meminta pemerintah Indonesia tak lupa dengan keanekaragaman hayati yang terdapat di Papua. Pasalnya sampai saat ini belum dikelola secara maksimal sebagai aset pembangunan Papua.

“50 persen keanekaragaman hayati di Indonesia terdapat di Papua yang sampai saat ini belum dikelola secara maksimal sebagai aset pembangunan Papua,” kata Gubernur Enembe saat membuka Konferensi Internasional Keanekaragaman Hayati, Ekowisata dan Ekonomi Kreatif (ICBE) 2016, di Jayapura, Rabu (7/9/2016).

Gubernur tekankan, Konferensi Internasional Keanekaragaman Hayati, Ekowisata dan Ekonomi Kreatif di Papua adalah sesuatu momen bersejarah untuk mewujudkan visi Papua bangkit, mandiri dan sejahtera menuju peradapan baru.

“Melalui pelaksanaan konferensi ini, kami dengan bangga akan mendeklarasikan, sangat mungkin Papua dapat melakukan pembangunan yang bermutu tinggi secara berkelanjutan dan berkeadilan dengan melindungi, memelihara dan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara bijak,” ucapnya.

Enembe menilai, konferensi menjadi penting bagi Papua untuk memberitahukan kepada semua pihak, pulau Papua memiliki sumber daya alami daratan dan lautan yang luar biasa, yang harus dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan guna meningkatkan kualitas hidup orang asli Papua agar keluar dari kungkungan ketertinggal, kemiskinan, kebodohan, keterisolasian, keterbelakangan dan ketidakadilan.

“Dengan didukung generasi Papua yang visioner dan memiliki jiwa kewirausahaan di bidang keanekaragaman hayati, ekowisata dan ekonomi kreatif, saya percaya pembangunan perekonomian dengan pendekatan tujuh wilayah budaya (Papua dan Papua Barat) akan tumbuh dengan baik,” ucapnya.

Dia menambahkan 2016, pemerintah provinsi Papua telah tetapkan sebagai tahun investasi. Untuk itu dirinya mengajak, melalui konferensi ini semua pihak bergandengan tangan mendukung melalui program dan kerja nyata dibidang keanekaragaman hayati dan ekowisata potensi unggulan Papua guna menggerakkan pariwisata dan ekonomi kreatif yang berbasis di lima wilayah budaya Papua.

Hal senada dilontarkan Ketua Panitia Pelaksana ICBE 2016, Noak Kapisa mengatakan konferensi ini sangat penting bagi kami di Papua, guna mempromosikan keanekaragaman hayati yang ada di Bumi Cenderawasih.

“Kebijakan yang tepat sangat diperlukan dalam pembangunan Papua sehingga tidak terjadi salah langkah dalam proses pembangunan yang merugikan dikemudian hari,” kata Kapisa.

Menurut ia, potensi keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem Papua merupakan dasar untuk pengembangan peningkatan kesejahteraan bagi orang asli Papua.

“Potensi ini perlu dinilai, dikelola, dikemas untuk diperkenalkan dan dipromosikan melalui pengembangan ekonomi kreatif dan ekowisata guna mempertahankan martabat dan kualitas hidup orang asli Papua serta memberantas kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, keterisolasian dan kelaparan,” ucapnya.

Hadir dalam pembukaan ICBE 2016, Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Stig Traavik, dan perwakilan dari kedutaan Amerika Serikat, Uni Eropa, Inggris, Australia, Afrika Selatan, Belanda dan Papua Nugini. (*)

Editor : Kyoshi Rasiey
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Gubernur Minta Keanekaragaman Hayati Papua Jadi Perhatian