Berjualan Koran Demi Melanjutkan Kuliah

share on:
Kemun Yoman berjualan koran di Bandara Sentani. –Jubi/ Yance Wenda.
Kemun Yoman berjualan koran di Bandara Sentani. –Jubi/ Yance Wenda.

Jayapura, Jubi – Pantang menyerah dan tak ingin putus kuliah, meski keluarga tak bisa membiayai. Itulah prinsip kukuh yang dipegang pemuda ini.

Kemun Yoman, 23 tahun, asal Kabupaten Lanny Jaya. Ia datang ke Kota Jayapura pada 2010 untuk melanjutkan studi sebagai mahasiswa Jurusan Peternakan STIPER Santo Thomas Aquinas, Jayapura. Waktu itu hanya berbekal uang Rp1 juta dari orang tuanya.

“Saya tidak tahu kalau orang kuliah itu membutuhkan uang banyak, saya dikasi orang tua uang hanya Rp1 juta, ini melewati kemampuan saya, dan saya tidak tahu harus berbuat apa,” katanya kepada Jubi ketika ditemui di Bandara Sentani, Rabu (7/9/2016).

Ketika ingin mengadu kepada Mamanya, ia mendapat kabar duka Mamanya meninggal. Waktu itu sedang ujian semester dan ia bimbang, tapi akhirnya bertekad melanjutkan kuliah.

“Saya memutuskan untuk berjualan koran di Bandara tahun itu, walau pendapatannya tidak banyak namun bisa untuk tambah-tambah,” kata mahasiswa Semester 8 ini.

Sehari Kemun mengambil koran Cendrawasih Pos (Cepos) dan Tabloid Jubi. Jika berita bagus ia mengambil 25 eksemplar. Sehari ia bisa mendapatkan untung maksimal Rp100 ribu.

“Meski banyak kendala yang saya hadapi di perkuliahan, namun Tuhan selalu menyertai di saat kita bergumul dalam doa pada-Nya,” ujarnya.

Terkadang, katanya, ia berpikir keras bagaimana harus membayar uang kuliah. Apalagi kalau tidak ada uang sama sekali. “Saya pernah berpikir untuk berhenti kuliah karena tidak ada sponsor,” katanya dengan mata berkaca.

Ia melawan semuanya untuk mewujudkan impian kedua orang tuanya yang berjuang menyekolahkannya hingga SMA.

“Saya ambil jurusan peternakan karena saya punya kampung banyak orang tua yang beternak kelinci, babi, dan ayam, mereka senang beternak cuma belum tahu cara mengelola yang baik, selesai nanti saya ingin mengajar mereka sesuai ilmu yang didapai di bangku kuliah,” katanya.

Mestinya Kemun wisuda tahun lalu, tapi tertunda karena tak memiliki biaya PKL (Praktek Kerja Lapangan) Rp7 juta. Ia bersyukur Februari lalu bisa magang di Yogyakarta dan tinggal langkah selanjutnya untuk menamatkan.

Budi Wenda, anggota DPRD Kabupaten Lanny Jaya yang juga mantan loper koran untuk membiayai kuliah, memberi semangat.

“Seorang mahasiswa yang berjualan sambil kuliah itu sangat hebat, di mana dia dapat belajar mandiri dan bertanggung jawab di masa mudanya, jangan pernah malu berjualan koran,” ujarnya.(*)

Editor : Syofiardi
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Berjualan Koran Demi Melanjutkan Kuliah