Gagasan Kampung Adat: Dulu Ditolak, Kini Diterima

share on:

 Bupati Jayapura Mathius Awoitauw ketika disambut dengan tarian adat pada pengukuhan kampung adat – Jubi/Engel Wally

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw ketika disambut dengan tarian adat pada pengukuhan kampung adat – Jubi/Engel Wally
Sentani, Jubi – Gagasan pembentukan kampung adat yang semula ditolak berbagai kalangan, termasuk masyarakat adat di Kabupaten Jayapura kini akhirnya diterima.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw mengatakan pembentukan kampung adat sudah ditetapkan di sejumlah distrik, bahkan menjadi program unggulan di “Bumi Khena Mbay Umbay”.

“Ada yang bilang program kampung ini tak berbobot jika dijadikan sebagai kebijakan daerah karena akan merusak tatanan adat. Namun sekarang kampung adat menjadi program yang diterima seluruh lapisan masyarakat,” katanya kepada Jubi di Sentani, Jumat (9/9/2016).

Ia mengatakan ketika dirinya masih di AFP3 Papua program pembentukan kampung adat telah ditawarkan pada pemerintah sebelumnya, tetapi ditolak.

Namun demikian tekadnya sudah bulat untuk mengangkat harkat dan martabat serta memproteksi hak-hak masyarakat adat.

“Akhirnya setelah menjadi pimpinan daerah ini ide terpendam ini harus diwujudkan. Sudah sekian lama masyarakat adat tidak mendapat porsi yang tepat, bahkan kesannya diabaikan. Padahal peran masyarakat adat sangat penting untuk menentukan arah kebijakan pembangunan daerah,” katanya.

Ondoafi Kampung Ifar Besar Franzalbert Yoku berpendapat kebijakan bupati Mathius ini sebagai penghargaan dan keberpihakan terhadap anak adat. Hal ini juga dinilainya merupakan langkah maju dalam menata kehidupan bermasyarakat.

“Kita tidak hanya merespons kehadiran program ini, tetapi turut terlibat dan memberikan dukungan penuh dalam pelaksanaannya. Dengan demikian, lewat kampung adat hak-hak kita sebagai masyarakat adat akan dihargai dan dihornmati,” katanya. (*)

Editor : Timoteus Marten
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Gagasan Kampung Adat: Dulu Ditolak, Kini Diterima