Pasar Sementara Mama Asli Papua di Jayapura Sepi Pembeli

share on:
Salah satu penjual buah di pasar sementara mama Papua, akrab di sapa mama Meri saat berjualan, Selasa (13/9/2016). -Jubi/Yuliana Lantipo
Salah satu penjual buah di pasar sementara mama Papua kota Jayapura, akrab disapa mama Meri Yikwa saat berjualan, Selasa (13/9/2016). – Jubi/Yuliana Lantipo

Jayapura, Jubi – Sekiranya sebulan terakhir ini, pasar sementara mama-mama pedagang asli Papua di kota Jayapura sepi pembeli. Kehadiran pasar “kaget” malam tak jauh dari tempat berjualan mama-mama asli Papua itu ditengarai menjadi pemicunya. Hal tersebut diakui pedagang serta pengurus pasar dan meminta pemerintah memberikan solusi untuk menghindari kecemburuan antar sesama pedagang. 

Frengki Warer, salah satu pengurus di pasar itu mengatakan kondisi itu lebih terasa sekitar satu bulan ini. Ia yang sehari-hari berada di pasar itu mengaku banyak mendapat pengakuan dari sebagian besar pedagang yang adalah perempuan.

“Ini sudah tiga minggu, atau satu bulan, pasar ini sepi pembelinya. Tong juga rasa sekali, mama-mama (pedagang) juga mengaku yang sama, sepi,” kata Frengki saat ditemui Jubi di dalam pasar sementara yang beratapkan tenda putih, Jl Percetakan, Kota Jayapura, Selasa (13/9/2016).

Pasar Malam Baru

Pasar sementara mama-mama Papua di jantung kota Jayapura itu sudah belasan tahun dikenal sebagai pasar malam. Sejak ia berdiri pada 10 Desember 2010, aktivitas berjualan dilakukan mulai pukul 3 sore hingga 11 malam. Di antaranya mereka menjual sayur mayur, ikan asar, ikan segar, ayam potong, buah-buahan hingga makanan siap saji.

Berdasarkan pengakuan sebagian besar pedagang, Frengki menuturkan pihaknya menduga hal tersebut disebabkan adanya pasar malam baru, yang berlokasi di Jl Paldam, kurang dari 500 meter dari pasar malam pedagang asli Papua itu.

“Mereka (pedagang) mengeluh pada kami dengan pasar kita yang sunyi ini. Pasar Paldam, dulu hanya beroperasi pagi hari. Tapi belakangan ini dioperasikan dari pagi sampai malam. Kita duga, itu yang buat jumlah pembeli terbagi, mereka ke sebelah dan di sini kosong,” ungkap Frengki.

Meri Yikwa, penjual buah-buahan, memutuskan berjualan di dua tempat terpisah dengan harapan dagangannya laku. Nenas, pisang dan alpukat, jualannya tiap hari yang dipanen dari kebunnya.

“Kadang tidak laku, saya simpan di sini (pasar) baru pulang. Kadang bawa (berjualan) di depan toko agro (Jayapura) karena tempat itu terbuka, di sini (pasar) tertutup. Tapi, perasaan tidak enak juga karena di agro sudah ada teman-teman lain yang jual,” ujar Meri.

Belakangan ini, ibu yang memiliki dua anak itu mengaku pendapatannya dari berjualan menurun. Ia menyadari pengunjung maupun pembeli di pasar tersebut mengalami penurunan. Namun, ia bertekad untuk tetap bertahan dan berharap pasar ramai lagi di sore dan malam hari seperti sebelumnya.

“Sekarang-sekarang ini satu hari bisa sampai Rp150 ribu, kadang Rp20 ribu. Sebelumnya lebih dari itu, sama kalau di jual di depan agro bisa sampai Rp300 ribu atau lebih. Tapi dari pertama saya sudah jual di sini, saya tetap bertahan di sini biar sedikit yang penting anak-anak sudah sekolah,” ujarnya.

Bertemu Walikota Jayapura

Salah satu pedagang asli Papua yang akrab disapa mama Yohana Yumame.
Salah satu pedagang asli Papua yang akrab disapa mama Yohana Yumame.

Mama Yohana Yumame, salah seorang pedagang daging ayam potong, yang menuturkan hal serupa, mengaku telah mengutarakan kondisi ini ke walikota Jayapura terdahulu, Benhur Tomi Mano, meski belum mendapat respon konkret. Komitmennya bersama rekan pedagang lainnya, kata mama Yohana, akan diteruskan dalam pekan depan.

“Dulu, kita sudah ketemu pak Walikota lama, kita sudah sampaikan kalau pasar Paldam buka lagi untuk malam hari, itu mengganggu pedagang di pasar ini. Dari dulu itu, pasar Paldam hanya pagi dan kita ini yang sore, sudah dibagi begitu baru kenapa sekarang mereka jual dari pagi sampai malam?” Tegas mama Yohana.

Ia mengaku pendapatan dari penjualannya juga mengalami penurunan. Kalau sebelumnya, 20-30 ekor ayam potong bisa habis laku per hari, tidak saat ini.

“Sekarang sepi, tra rame lagi. Sepi ini karena ada pasar Paldam yang buka sampe malam itu. Kita mau minta pemerintah perhatikan ini,” ucap mama Yohana. (*)

Editor :
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Pasar Sementara Mama Asli Papua di Jayapura Sepi Pembeli