Lagi, Tanggapan Sekolah Terhadap Full Day School

share on:
Pendiri Sekolah Papua Harapan, Wallace Wiley Ketika Berbincang Dengan Panja Komisi E DPRP dan Kepala BPSDM Papua. (Jubi/Arjuna)
Pendiri Sekolah Papua Harapan, Wallace Wiley Ketika Berbincang Dengan Panja Komisi E DPRP dan Kepala BPSDM Papua. (Jubi/Arjuna)

Jayapura, Jubi – Kepala SMA Muhammadiyah Kota Jayapura Udin Ramazakir mengatakan, program ”Full Day School” atau belajar di sekolah sehari penuh yang diapungkan Menteri Pendidikan beberapa bulan lalu, sebenarnya sudah dijalankan di banyak sekolah di Indonesia. Namun dalam arti masuk pagi keluar pukul 4 atau 5 sore.

Full Day School itu, katanya, tidak ditafsirkan anak belajar terus-menerus seharian. Tapi ada kegiatan ekstrakurikuler, keterampilan, kursus, dan pengembangan diri sesuai minat dan bakatnya, sehingga anak pulangnya sore dari sekolah. Sebab jika belajar seharian dari pagi hingga sore tidak ada peserta didik yang akan mampu.

“Konsep yang di keluarkan Menteri sangat bagus, hanya salah ditafsirkan saja, sehingga dianggap belajar terus-menerus.” kata Udin saat ditemui Jubi di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) Jayapura, beberapa waktu lalu.

Udin menambahkan, SMA Muhammadiyah sudah menerapkan sejak lama siswanya pulang pukul5 sore. Setelah belajar-mengajar di kelas masing-masing anak melakukan kegiatan ekstrakurikuler.

Kepala Sekolah Papua Harapan, Kabupaten Jayapura, Sostenis Tandi berharap program tersebut benar-benar dikaji ulang sebelum diterapkan. Program tersebut harus dipastikan akan sesuai dengan yang diharapkan sebelum diterapkan di sekolah.

“Di sekolah kami sebenarnya sudah melaksanakan, tapi karena kami hanya lima hari sekolah dalam seminggu, tapi itupun berdasarkan usia anak,” ujarnya.

Sostendi mengatakan, di sekolahnya ada tiga tingkatan, mulai TK hingga SMP, dan murid TK pulang lebih awal. Semuanya masuk pukul 08.00 WP. Untuk TK pulang pukul 13.00 WP, kelas 1 dan 2 SD pukul 14 :58 WP. Kelas yang di atas hingga SMP pulang pukul 15.89 WP.

“Kami menyebutnya full day itu karena anak banyak menghabiskan waktunya di sekolah dan guru pun menghabiskan waktunya bersama anak-anak di sekolah,” kata Sostenis. (*)

Editor : Syofiardi
Sumber :
COPYRIGHT JUBI 2016
QR:  Lagi, Tanggapan Sekolah Terhadap Full Day School